Showing posts with label [Farmakoterapi] TB. Show all posts
Showing posts with label [Farmakoterapi] TB. Show all posts

OBAT TUBERKOLUSIS (TBC)

Penyakit tuberkulosis (TB) adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mikobakterium tuberkulosa. Bakteri ini berbentuk batang dan bersifat tahan asam sehingga dikenal juga sebagai Batang Tahan Asam (BTA).

Tuberkulosis (TB) dapat menyerang berbagai organ tubuh selain paru-paru. Namun, di bawah ini hanya akan dibahas obat TB untuk paru-paru.

Tujuan pengobatan Tuberkulosis (TB) ialah memusnahkan basil tuberkulosis dengan cepat dan mencegah kambuh.

Idealnya pengobatan dengan obat Tuberkulosis (TB) dapat menghasilkan pemeriksaan sputum negatif baik pada uji dahak maupun biakan kuman dan hasil ini tetap negatif selamanya.

Obat yang digunakan untuk Tuberkulosis (TB) digolongkan menjadi dua kelompok yaitu :

  1. Obat primer : INH (isoniazid), Rifampisin, Etambutol, Streptomisin, Pirazinamid.

    Memperlihatkan efektifitas yang tinggi dengan toksisitas yang masih dapat ditolerir, sebagian besar penderita dapat disembuhkan dengan obat-obat ini.

  2. Obat sekunder : Exionamid, Paraaminosalisilat, Sikloserin, Amikasin, Kapreomisin dan Kanamisin.

Meskipun demikian, pengobatan Tuberkulosis (TB) paru-paru hampir selalu menggunakan tiga obat yaitu INH, Rifampisin dan Pirazinamid pada bulan pertama selama tidak ada resistensi terhadap satu atau lebih obat Tuberkulosis (TB) primer ini.

Isoniazid masih merupakan obat yang sangat penting untuk mengobati semua tipe Tuberkulosis (TB). Efek sampingnya dapat menimbulkan anemia sehingga dianjurkan juga untuk mengkonsumsi vitamin penambah darah seperti Piridoksin (vitamin B6).

Resistensi masih merupakan persoalan dan tantangan. Pengobatan Tuberkulosis (TB) dilakukan dengan beberapa kombinasi obat karena penggunaan obat tunggal akan cepat dan mudah terjadi resistensi.

Disamping itu, resistensi terjadi akibat kurangnya kepatuhan pasien dalam meminum obat. Waktu terapi yang cukup lama yaitu antara 6-9 bulan sehingga pasien banyak yang tidak patuh minum obat selama menjalani terapi.

Penyakit Tuberkulosa

Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit kedua penyebab kematian, sedangkan pada tahun 1986 merupakan penyebab kematian keempat, menurut hasil survei Kesehatan Rumah Tangga Depkes RI tahun 1992.

Gejala sistemik/umum penyakit tuberkulosa :

  • Demam tidak terlalu tinggi yang berlangsung lama, biasanya dirasakan malam hari disertai keringat malam. Kadang-kadang serangan demam seperti influenza dan bersifat hilang timbul.
  • Penurunan nafsu makan dan berat badan.
  • Batuk-batuk selama lebih dari 3 minggu (dapat disertai dengan darah).
  • Perasaan tidak enak (malaise), lemah.

Gejala khusus penyakit Tuberkulosa:

  • Tergantung dari organ tubuh mana yang terkena, bila terjadi sumbatan sebagian bronkus (saluran yang menuju ke paru-paru) akibat penekanan kelenjar getah bening yang membesar, akan menimbulkan suara "mengi", suara nafas melemah yang disertai sesak.
  • Kalau ada cairan dirongga pleura (pembungkus paru-paru), dapat disertai dengan keluhan sakit dada.
  • Pada anak-anak dapat mengenai otak (lapisan pembungkus otak) dan disebut sebagai Meningitis (radang selaput otak), gejalanya adalah demam tinggi, adanya penurunan kesadaran dan kejang-kejang.

Apabila dicurigai seseorang tertular penyakit TBC, maka beberapa hal yang perlu dilakukan untuk menegakkan diagnosis adalah:

  • Anamnesa baik terhadap pasien maupun keluarganya.
  • Pemeriksaan fisik.
  • Pemeriksaan laboratorium (darah, dahak, cairan otak).
  • Pemeriksaan patologi anatomi (PA).
  • Rontgen dada (thorax photo).
  • Uji Tuberkulin.

Untuk pemilihan obat TB yang tepat sesuai kebutuhan dan keluhan anda ada baiknya anda harus periksakan diri dan konsultasi ke dokter.

Share:

Kanamisin

KANAMYCIN SANBE
GOLONGAN
GENERIK
Kanamycin sulphate/ Kanamisin Sulfat.
INDIKASI
Septikemia, infeksi saluran nafas, meningitis, infeksi saluran kemih yang berkomplikasi, gonore yang resisten terhadap Penisilin, antituberkulosa sekunder.
KONTRA INDIKASI
Hipersensitivitas.
PERHATIAN
Gangguan fungsi ginjal.
Hamil.
Interaksi obat : neuromuskular bloker, obat-obat lain yang dapat mengakibatkan ototoksis, dan nefrotoksis, dan diuretika.
EFEK SAMPING
Ototoksisitas & nefrotoksisitas.
INDEKS KEAMANAN PADA WANITA HAMIL
D: Positif ada kejadian yang berbahaya pada janin manusia, tetapi keuntungan dari penggunaan oleh wanita hamil mungkin dapat diterima walaupun berisiko. (Misalnya jika obat digunakan untuk situasi menyelamatkan nyawa atau penyakit yang serius dimana obat yang lebih aman tidak dapat digunakan atau tidak efektif).
KEMASAN
Vial 1 gram x 10 biji.
DOSIS
  • Dewasa : 15 mg/kg berat badan/hari.
    Maksimal 1,5 gram sehari dalam 2 atau 3 dosis terbagi.
    Dosis maksimal yang digunakan selama pengobatan : 15 gram.
    Gonore : 2 gram sebagai dosis tunggal.
  • Anak-anak : 15 mg/kg berat badan/hari atau kurang.
    Disuntikkan intramuskular (IM).
  • Share:

    Ethambutol

    Deskripsi
    - Nama & Struktur Kimia : Ethambutol hydrochlorida
    - Sifat Fisikokimia : Etambutol hidroklorida merupakan serbuk kristal berwarna putih, sangat larut dalam air dan larut dalam alkohol. pKa 6,1 dan 9,2
    - Keterangan : Etambutol hidroklorida adalah senyawa sintetik antituberkulosis

    Golongan/Kelas Terapi
    Anti Infeksi

    Nama Dagang
    - Arsitam - Bacbutol - Cetabutol - Corsabutol
    - ETH Ciba 400 - Parabutol - Santibi/Santibi - Tibigon
    - Tibitol - Ethambutol (Generik)
    klik disini

    Indikasi
    Antituberkulosa.

    Penggunaan bukan sebagai obat tunggal, tetapi dikombinasi dengan paling sedikit satu macam obat antituberkulosa. Misalnya Rifampisin dan INH.


    Dosis, Cara Pemberian dan Lama Pemberian

    Pengobatan tuberkulosis:
    Catatan : digunakan sebagai multidrug regimen. Regimen pengobatan meliputi fase awal selama 2 bulan diikuti dengan pengobatan fase lanjutan selama 4 hingga 7 bulan, frekwensi dan dosis berbeda tergantung dari fase terapi.

    Anak-anak:
    Terapi harian 15 – 20 mg/kg/hari (maksimum : 1 g/hari)
    Dua kali seminggu DOT (directly observed therapy) : 50 mg/kg (maksimal 4 g/dosis)

    Dewasa :
    Terapi harian 15 – 25 mg/kg
    40 – 55 kg : 800 mg
    56 – 75 kg : 1200 mg
    76 – 90 kg : 1600 mg

    Pada penderita yang pernah mendapat pengobatan antituberkulosa sebelumnya, dosis ethambutol adalah : 25 mg/kg BB/hari dalam dosis tunggal setiap 24 jam.

    Dua kali seminggu DOT (directly observed therapy): 50 mg/kg
    40 – 55 kg : 2000 mg
    56 – 75 kg : 2800 mg
    76 – 90 kg : 4000 mg

    Tiga kali seminggu DOT (directly observed therapy): 25 – 30 mg/kg (maksimal 2,5 g)
    40 – 55 kg : 1200 mg
    56 – 75 kg : 2000 mg
    76 – 90 kg : 2400 mg

    Diseminated Mycobacterium Avium Complex (MAC) pada pasien dengan infeksi HIV : 15 mg/kg etambutol dalam kombinasi dengan azitromisin 600 mg sehari

    Interval dosis pada kerusakan ginjal :
    Clcr 10 – 50 ml/menit : pemberian tiap 24 – 36 jam
    Clcr < style="font-weight: bold;">Farmakologi
    Absorbsi : ~ 80%
    Distribusi : terdistribusi secara luas dalam tubuh; terkonsentrasi dalam ginjal, paru, saliva dan sel darah merah
    Difusi relatif dari darah ke dalam Ccairan serebrospinal : cukup dengan atau tanpa inflamasi

    Cairan serebrospinal: normal meninges : 0% ; inflamasi meninges : 25%
    Ikatan protein : 20% hingga 30%
    Metabolisme : hepatik (20%) menjadi bentuk metabolit inaktif
    T½ eliminasi 2.5-3.6 jam; gagal ginjal terminal : 7-15 jam
    Waktu untuk mencapai kadar puncak, serum: 2-4 jam
    Ekskresi : urin (~ 50%) dan feses (20%) dalam bentuk obat yang tidak berubah

    Stabilitas Penyimpanan
    Simpan pada suhu kamar yang terkontrol 20°C hingga 25°C
    Tablet etambutol hidroklorida harus disimpan dalam wadah tertutup rapat, dilindungi dari cahaya, kelembaban dan suhu panas yang berlebihan.

    Kontraindikasi
    Neuritis optik, keterbatasan penglihatan,

    Efek Samping
    Neuritis optik, buta warna merah/hijau , neuritis perifer, ruam (jarang terjadi) , pruritus, urtikaria dan trombositopenia.

    Interaksi
    - Dengan Obat Lain : Menurunkan efek : absorbsi menurun jika digunakan bersama alumunium hidroksida. Hindari penggunaan bersama dengan antasida yang mengandung alumunium, beri jarak minimal 4 jam dari pemberian etambutol

    - Dengan Makanan : Dapat digunakan bersama dengan makanan karena absorbsi tidak dipengaruhi oleh makanan, dapat menyebabkan iritasi lambung.

    Pengaruh
    - Terhadap Kehamilan : Tidak diketahui apakah berbahaya bagi janin. Faktor risiko : C. Belum ada penelitian yang adecuat dan “well-controled” pada wanita hamil; efek teratogenik terjadi pada penelitian dengan hewan. Etambutol telah digunakan dengan aman selama kehamilan.

    - Terhadap Ibu Menyusui : Hanya sejumlah kecil berada pada air susu. Masuk dalam air susu ibu / gunakan dengan hati-hati (AAP mempertimbangkan “compatible”)

    - Terhadap Anak-anak : Tidak direkomendasikan untuk penggunaan anak-anak dibawah umur 13 tahun

    - Terhadap Hasil Laboratorium : -

    Parameter Monitoring
    Tes visual, tes renal, hepatik dan hematopoetic

    Bentuk Sediaan
    Tablet 250 mg, 500 mg

    Peringatan
    Penurunan dosis pada kerusakan ginjal dan jika klirens kreatinin kurang dari 30 ml/menit, juga monitor konsentrasi plasma etambutol ; pasien usia lanjut; kehamilan, tes ketajaman penglihatan sebelum pengobatan dan peringatkan pasien untuk segera melaporkan jika terjadi perubahan dalam penglihatan; anak-anak direkomendasikan melakukan monitoring oftalmologi secara rutin.

    Kasus Temuan Dalam Keadaan Khusus
    -

    Informasi Pasien
    Jumlah dan frekuensi penggunaan obat tergantung dari beberapa faktor, seperti kondisi pasien, umur dan berat badan. Bila anda mempunyai pertanyaan yang berkaitan dengan jumlah dan/ frekuensi pemakaian obat tanyakan pada dokter atau apoteker. Obat ini harus digunakan bersama dengan obat tuberkulosis yang lain. Obat ini harus digunakan satu kali tiap 24 jam. Dapat digunakan bersama atau tanpa makanan. Selama menggunakan obat ini, disarankan untuk melakukan pemeriksaan penglihatan tiap bulan. Hubungi dokter jika terjadi perubahan pada penglihatan. Ketajaman penglihatan biasanya dapat kembali seperti semula setelah beberapa minggu hingga beberapa bulan setelah pengobatan dihentikan Jangan menghentikan pemakaian obat ini tanpa berkonsultasi dengan dokter Kondisi medis awal pasien harus diceritakan pada petugas kesehatan sebelum menggunakan obat ini. Jangan menggunakan obat melebihi jumlah yang telah diresepkan, kecuali atas anjuran dokter. Jangan menggunakan OTC atau obat resep yang lain tanpa memberitahu dokter yang merawat. Jika pasien lupa minum obat, segera mungkin minum obat setelah ingat. Jika terlewat beberapa jam dan telah mendekati waktu minum obat berikutnya jangan minum obat dengan dosis ganda, kecuali atas saran dari dokter atau apoteker. Jika lebih dari satu kali dosis terlewat, hubungi dokter atau apoteker.

    Mekanisme Aksi
    Menekan multiplikasi bakteri, dengan cara mengganggu sintesis RNA.

    Monitoring Penggunaan Obat
    -

    Daftar Pustaka
    BNF 50
    AHFS Drug Information 2005
    MIMS Indonesia 2006/2007
    Drug Fact & Comparisons 2003
    Drug Information Handbook
    Share:

    Streptomisin

    Deskripsi
    - Nama & Struktur Kimia : Sinonim : dihydrostreptomycin sulfate ; Streptomycin sulfate. C21H41N7O12
    - Sifat Fisikokimia : Obat ini dalam perdagangan berada dalam bentuk garam sulfat. Streptomisin sulfat merupakan serbuk hygroskopis warna putih yang tidak berbau. Obat ini larut dalam air dan sangat larut dalam alkohol.Injeksi Steptomisin sulfat dalam perdagangan tersedia dalam bentuk serbuk steril liofilik tanpa pengawet atau dalam bentuk larutan steril
    - Keterangan : Streptomisin adalah antibiotik aminoglikosida berasal dari kultur Streptomyces griseus.

    Golongan/Kelas Terapi
    Anti Infeksi

    Nama Dagang
    -

    Indikasi
    Tuberkulosis, dalam bentuk kombinasi dengan obat lain, bersama dengan doksisiklin pada pengobatan brucellosis; enterococcal endokarditis .Streptomisin saat ini semakin jarang digunakan kecuali untuk kasus resistensi

    Dosis, Cara Pemberian dan Lama Pemberian
    Dengan injeksi intramuskular dalam. Obat ini diberikan secara intra muskular dengan dosis 15 mg/kg (maksimal 1 g) sehari ; dosis diturunkan pada pasien dengan berat badan di bawah 50 kg, pada usia diatas 40 tahun atau pasien dengan kerusakan ginjal. Konsentrasi obat dalam plasma harus diukur pada pasien dengan kerusakan ginjal dan harus digunakana secara hati-hati

    Farmakologi
    Absorbsi : IM : diabsorbsi dengan baik
    Distribusi : terdistribusi ke dalam cairan ekstraselular termasuk serum, absces, ascitic, perikardial, pleural, sinovial, limfatik, dan cairan peritoneal; menembus plasenta; dalam jumlah yang kecil masuk dalam air susu ibu .
    Ikatan protein : 34%
    T½ eliminasi : bayi baru lahir : 4-10 jam; dewasa 2-4.7 jam, waktu bertambah panjang pada kerusakan ginjal.
    Waktu untuk mencapai kadar puncak, serum: dalam 1 jam
    Ekskresi : urin ( 90% dalam bentuk obat yang tidak berubah); feses,saliva, keringat dan air mata (<> 50 mcg/mL

    Stabilitas Penyimpanan
    Tergantung dari produsen obat, larutan yang telah di rekonstitusi tetap stabil selama 2 – 4 minggu jika disimpan dalam refrigerator ; paparan sinar matahari menyebabkan warna larutan menjadi gelap tanpa kehilangan potensinya secara nyata.

    Kontraindikasi
    Hipersensitivitas terhadap streptomycin atau komponen lain dalam sediaan; kehamilan.

    Efek Samping
    Reaksi hipersensitivitas, paraesthesia pada mulut

    Interaksi
    - Dengan Obat Lain : Meningkatkan efek/toksisitas ; peningkatan/perpanjangan efek dengan senyawa depolarisasi dan nondepolarisasi neuromuscular blocking. Penggunaan bersama dengan amfoterisin dan diuretic loop dapat meningkatkan nefrotoksisitas.
    - Dengan Makanan : -

    Pengaruh
    - Terhadap Kehamilan : Pada trimester ke 2 dan ke 3 , meningkatnya resiko kerusakan syaraf vestibular dan auditori. Faktor risiko : D

    - Terhadap Ibu Menyusui : Streptomisin terdistribusi ke dalam air susu ibu

    - Terhadap Anak-anak : -

    - Terhadap Hasil Laboratorium : Interaksi dengan tes laboratorium : terjadi reaksi positif palsu pada pemeriksaan glukosa urin dengan Clinitest® atau larutan Benedict’s.

    Parameter Monitoring
    Pendengaran (audiogram), BUN, kreatinin; konsentrasi obat dalam serum.

    Bentuk Sediaan
    Serbuk Injeksi

    Peringatan
    Gunakan dengan hati-hati pada pasien dengan riwayat vertigo, tinnitus, hilang pendengaran, gangguan neuromuscular, atau kerusakan ginjal ; penyesuaian dosis pada pasien dengan kerusakan ginjal;aminoglikosida terkait secara signifikan dengan nefrotoksik atau ototoksik ; reaksi ototoksik proporsional dengan jumlah obat yang diberikan dan durasi pengobatan; tinitus atau merupakan tanda dari kerusakan vestibular dan akan terjadi kerusakan irreversibel bilateral ; kerusakan ginjal biasanya reversibel.

    Kasus Temuan Dalam Keadaan Khusus
    -

    Informasi Pasien
    Jumlah dan frekuensi penggunaan obat tergantung dari beberapa faktor, seperti kondisi pasien, umur dan berat badan. Bila anda mempunyai pertanyaan yang berkaitan dengan jumlah dan/ frekuensi pemakaian obat tanyakan pada apoteker. Dokter atau apoteker harus memperhatikan apakah muncul tanda-tanda reaksi toksik (sakit kepala, mual, muntah) akibat penggunaan obat. Larutan injeksi harus diperiksa terhadap adanya partikel dan perubahan warna sebelum diberikan kepada pasien. Kondisi medis awal pasien harus diceritakan pada petugas kesehatan sebelum menggunakan obat ini. Jangan menggunakan OTC atau obat resep yang lain tanpa memberitahu dokter yang merawat. Jika pasien lupa minum obat, segera mungkin minum obat setelah ingat. Jika terlewat beberapa jam dan telah mendekati waktu minum obat berikutnya jangan minum obat dengan dosis ganda, kecuali atas saran dari tenaga kesehatan . Jika lebih dari satu kali dosis terlewat, mintalah nasehat dokter atau apoteker . Jika anda mempunyai pertanyaan tentang obat ini, tanyakan pada apoteker.

    Mekanisme Aksi
    Menghambat sintesa protein dari bakteri melalui ikatan dengan subunit ribosomal 30S menyebabkan kesalahan urutan peptida dalam membentuk rantai protein

    Monitoring Penggunaan Obat
    Pendengaran (audiogram), BUN, creatinin; konsentrasi obat dalam serum harus dimonitor pada semua pasien; kerusakan saraf kranial ke 8 biasanya didahului dengan tinitus, rasa penuh pada telinga, gangguan pendengaran, dan dapat menetap hingga beberapa minggu setelah pengobatan dihentikan

    Daftar Pustaka
    BNF 50
    AHFS Drug Information 2005
    MIMS Indonesia 2006/2007
    Drug Fact & Comparisons 2003
    Drug Information Handbook
    Share:

    Pirazinamid

    [ Index Informasi Obat ]
    Deskripsi
    - Nama & Struktur Kimia : Sinonim : Pyrazinecarboxamide ; Pyrazinoic Acid Amide. C5H5N3O
    - Sifat Fisikokimia : Pirazinamid berupa serbuk kristal putih, kurang berbau, larut dalam air dan sedikit larut dalam alcohol. Pirazinamid mempunyai pKa 0,5
    - Keterangan : Pirazinamid turunan dari niasinamida.

    Golongan/Kelas Terapi
    Anti Infeksi

    Nama Dagang
    - Corsazinamide - Neotibi - Pezeta Ciba 500 - Prazina
    - Sanazet - TB Zet - Pyrazinamid (Generik)

    Indikasi

    Tuberkulosis, dalam kombinasi dengan obat lain

    Dosis, Cara Pemberian dan Lama Pemberian

    Oral : pengobatan tuberkolosis

    Catatan : Digunakan sebagai bagian dari multidrug regimen. Regimen pengobatan meliputi fase pengobatan awal 2 bulan, diikuti dengan fase lanjutan 4 hingga 7 bulan; frekuensi dan dosis berbeda tergantung dari fase terapi

    Anak-anak :

    Terapi harian 15 – 30 mg/kg/hari (maksimum : 2 g/hari)

    Dua kali seminggu DOT (directly observed therapy) : 50 mg/kg/dosis (maksimal 4 g/dosis)

    Dewasa :

    Terapi harian 15 – 30 mg/kg/hari

    40 – 55 kg : 1000 mg

    56 – 75 kg : 1500 mg

    76 – 90 kg : 2000 mg

    Dua kali seminggu DOT (directly observed therapy): 50 mg/kg

    40 – 55 kg : 2000 mg

    56 – 75 kg : 3000 mg

    76 – 90 kg : 4000 mg

    Tiga kali seminggu DOT (directly observed therapy): 25 – 30 mg/kg (maksimal 2,5 g)

    40 – 55 kg : 1500 mg

    56 – 75 kg : 2500 mg

    76 – 90 kg : 3000 mg

    Pasien usia lanjut : mulai dari dosis harian yang lebih rendah (15 mg/kg) dan ditingkatkan sampai dosis yang masih dapat ditoleransi

    Penyesuaian dosis pada kerusakan ginjal : Cl cr < 50 mL/menit : Hindari penggunaan obat atau turunkan dosis hingga 12 – 20 mg/kg/hari

    Hidari penggunaan pada hemodialysis atau peritoneal dialysis, juga pada continous arterivenous atau venous hemofiltration.

    Penyesuaian dosis kerusakan hati : pengurangan dosis

    Farmakologi

    Bakteriostatik atau bakterisid tergantung pada konsentrasi obat pada tempat infeksi

    Absorbsi : diabsorbsi dengan baik

    Distribusi : terdistribusi luas kedalam jaringan tubuh dan cairan termasuk hari, paru dan cairan serebrospinal

    Difusi relatif dari darah kedalam cairan serebrospinal : adekuat dengan atau tanpa inflamasi

    Cairan serebrospinal : inflamasi meninges : 100%

    Ikatan protein : 50%

    Metabolisme : hepatik

    T½ eliminasi : 9-10 jam

    Waktu untuk mencapai kadar puncak, serum: dalam 2 jam

    Ekskresi : urin (4% dalam bentuk obat tidak berubah)

    Stabilitas Penyimpanan

    Pyrazinamide tablet harus disimpan dalam wadah tertutup rapat pada suhu 15 – 30°C. Tablet yang mengandung kombinasi tetap rifampisin, isoniazid dan pirazinamid harus dilindungi dari kelembaban yang berlebihan, dan disimpan pada 15 – 30°C

    Kontraindikasi

    Porfiria

    Efek Samping

    Hepatotoksisitas termasuk demam, anoreksia, hepatomegali, splenomegali, jaundice, gagal hati; mual, muntah,kemerahan, disuria, atralgia, anemia sideroblastik, ruam dan kadang-kadang fotosensitivitas.

    Interaksi


    - Dengan Obat Lain : Meningkatkan efek/toksisitas: kombinasi terapi dengan rifampin dan pirazinamid berhubungan dengan reaksi hepatotoksik yang fatal dan berat


    - Dengan Makanan : -


    Pengaruh


    - Terhadap Kehamilan : Produsen menyarankan penggunaan hanya jika potensial keuntungan lebih besar dari resikonya. Regimen standar dapat digunakan selama kehamilan dan menyusui. Faktor risiko : C


    - Terhadap Ibu Menyusui : Hanya terdapat dalam jumlah kecil dalam air susu,gunakan dengan hati-hati.


    - Terhadap Anak-anak : Pirazinamid dapat ditoleransi dengan baik oleh anak-anak


    - Terhadap Hasil Laboratorium : Interaksi dengan tes laboratorium : bereaksi dengan Acetest dan Ketosix menghasilkan warna coklat kemerah-merahan


    Parameter Monitoring

    Tes fungsi hati, serum asam urat, kultur sputum, X-ray dada.

    Bentuk Sediaan

    Tablet

    Peringatan

    Kehamilan, kerusakan hati (monitor fungsi hati) ; diabetes ; gout (dihindari pada serangan akut). Penggunaan obat pada pasien dengan penyakit hati : pasien atau keluarganya harus diberitahu tanda-tanda gangguan fungsi hati , dan menyarankan untuk tidak meneruskan pengobatan dan segera memeriksakan diri jika timbul gejala seperti: mual, muntah, malaise dan jaundice.

    Kasus Temuan Dalam Keadaan Khusus

    -

    Informasi Pasien

    Jumlah dan frekuensi penggunaan obat tergantung dari beberapa faktor, seperti kondisi pasien, umur dan berat badan. Bila anda mempunyai pertanyaan yang berkaitan dengan jumlah dan/ frekuensi pemakaian obat tanyakan pada dokter atau apoteker.

    Obat ini dapat digunakan satu kali sehari atau dua kali sehari.

    Gunakan obat ini hingga habis. Jika anda tidak menggunakan obat ini sesuai dengan resep pada waktu yang telah ditentukan, maka infeksi tidak dapat disembuhkan dan dapat terjadi masalah kesehatan yang serius pada Anda.

    Hubungi dokter bila terjadi demam, hilang nafsu makan, nyeri badan, mual, muntah, urin berwarna gelap, warna kuning pada kulit dan mata, nyeri dan terjasi pembengkakan pada sendi.

    Pada pasien dengan infeksi HIV, diperlukan durasi pengobatan yang lebih panjang.

    Tes laboratorium diperlukan untuk memonitor terapi. Pastikan hal ini dilakukan.

    Obat ini selalu digunakan bersama dengan obat lain untuk mengobati tuberkulosis.

    Jangan menghentikan pemakaian obat ini tanpa berkonsultasi dengan dokter.

    Kondisi medis awal pasien harus diceritakan pada petugas kesehatan sebelum menggunakan obat ini.

    Jangan menggunakan obat melebihi jumlah yang telah diresepkan, kecuali atas anjuran dokter.

    Jangan menggunakan OTC atau obat resep yang lain tanpa memberitahu dokter yang merawat.

    Jika pasien lupa minum obat, segera mungkin minum obat setelah ingat. Jika terlewat beberapa jam dan telah mendekati waktu minum obat berikutnya jangan minum obat dengan dosis ganda, kecuali atas saran dari tenaga kesehatan .

    Jika lebih dari satu kali dosis terlewat, mintalah nasehat dokter atau apoteker.

    Obat ini hanya digunakan oleh pasien yang mendapat resep. Jangan diberikan pada orang lain

    Mekanisme Aksi

    Perubahan menjadi asam pirazinoat pada strain Mycobacterium dimana pH lingkungan mejadi lebih rendah ; mekanisme aksi yang pasti tidak jelas.

    Monitoring Penggunaan Obat

    Tes fungsi hati secara periodik, serum asam urat, kultur sputum, X-ray dada 2 – 3 bulan selama pengobatan dan setelah pengobatan selesai.

    Daftar Pustaka

    BNF 50

    AHFS Drug Information 2005

    MIMS Indonesia 2006/2007

    Drug Fact & Comparisons 2003

    Drug Information Handbook
    Share:

    Rifampisin

    [ Index Informasi Obat ]
    Deskripsi
    - Nama & Struktur Kimia : Rifampin. C43H58N4O12
    - Sifat Fisikokimia : Rifampisin merupakan serbuk kristal merah-coklat dan sangat sedikit larut dalam air dan sedikit larut dalam alkohol. Obat ini mempunyai pKa 7,9. Larut dalam kloroform, DMSO, etil asetat, metanol, tetrahidrofuran. Dalam perdagangan, rifampisin tersedia dalam bentuk serbuk steril untuk injeksi mengandung Natrium formaldehid, sulfoksilat, natrium hidroksida yang ditambahkan untuk mengatur pH. Dalam perdagangan sediaan oral rifampin tersedia sebagai obat tunggal, dalam bentuk kombinasi tetap dengan isoniazid, serta dalam kombinasi tetap dengan isoniasid dan pirazinamid.
    - Keterangan : Rifampisin adalah turunan semisintetik dari Rifamisin B, suatu antibiotika yang diturunkan dari Streptomyces meditarranei.

    Golongan/Kelas Terapi
    Anti Infeksi

    Nama Dagang
    - Corifam - Famri - Kombipak I, II, III, IV (Generik) - Lanarif
    - Medirif - Merimac - Prolung 450 - Rif 150/ Rif 300/ Rif 450/ Rif 600
    - Rifabiotic - Rifacin - Rifampicin Hexpharm - Rifamtibi
    - Rimactane - Rimactazid / Rimactazid Paed - Rifampisin (Generik)

    Indikasi

    Tuberkulosis, dalam kombinasi dengan obat lain. Infeksi M. Leprae. Profilaksis meningitis meningococcal dan infeksi haemophilus influenzae. Brucellosis, penyakit legionnaires, endocarditis dan infeksi staphylococcus yang berat dalam kombinasi dengan obat lain

    Dosis, Cara Pemberian dan Lama Pemberian

    Oral ( Dosis IV infusi sama dengan pemberian peroral)

    Terapi Tuberkulosis

    Catatan : Regimen empat obat ( isoniazid, rifampisin, pirazinamid dan etambutol) lebih disukai untuk pengobatan awal, empirik TB

    Bayi dan anak-anak < 12 tahun

    Terapi harian : 10 – 20 mg/kg/hari biasanya sebagai dosis tunggal (maksimal 600 mg/hari)

    Dua kali seminggu DOT (directly observed therapy) : 10 – 20 mg/kg (maksimal 600 mg/hari)

    Dewasa

    Terapi harian : 10 mg/kg/hari biasanya sebagai dosis tunggal (maksimal 600 mg/hari)

    Dua kali seminggu DOT (directly observed therapy) : 10 mg/kg (maksimal 600 mg/hari) ; 3 kali/minggu : 10 mg/kg (maksimal 600 mg/hari)

    Infeksi tuberkulosis latent (yang belum nampak): sebagai alternatif untuk isoniazid :

    Anak-anak : 10 – 20 mg/kg/perhari (maksimal : 600 mg/hari) selama 6 bulan

    Dewasa : 10 mg/kg/hari (maksimal : 600 mg/hari) selama 4 bulan

    Profilaksis H. Influenzae (unlabeled use)

    Bayi dan anak-anak : 20 mg/kg/hari tiap 24 jam selama 4 hari, tidak lebih dari 600 mg/dosis

    Dewasa : 600 mg setiap 24 jam selama 4 hari

    Leprosy (unlabeled use) : dewasa :

    Multibacillary : 600 mg sekali sebulan selama 24 bulan dalam kombinasi dengan ofloksasin dan minosiklin

    Paucibacillary : 600 mg sekali sebulan selama 6 bulan dalam kombinasi dengan dapson

    Lesi tunggal : 600 mg sebagai dosis tunggal dalam kombinasi dengan ofloksasin 400 mg dan minosiklin 100 mg

    Profilaksis meningitis meningococcal.

    Bayi , 1 bulan : 10 mg/kg/hari dalam dosis terbagi tiap 12 jam selama 2 hari

    Bayi = 1 bulan dan anak-anak : 20 mg/kg/hari dalam dosis terbagi tiap 12 jam selama 2 hari (maksimal 600 mg/dosis)

    Dewasa : 600 mg tiap 12 jam selama 2 hari

    Staphylococcus aureus pada nasal carrier (unlabeled use):

    Anak-anak: 15 mg/kg/hari dibagi tiap 12 jam selama 5 – 10 hari dalam kobinasi dengan antibiotik lain

    Dewasa : 600 mg/hari selama 5 – 10 hari dalam kombinasi dengan antibiotik lain

    Penyesuaian dosis pada pasien dengan kerusakan hepar : penurunan dosis diperlukan untuk meurunkan hepatotoksisitas

    Hemodialysis atau peritoneal dialysis : konsentreasi plasma rifampisin tidak signifikan dipengaruhi oleh hemodialisis atau dialisis peritoneal

    Farmakologi

    Durasi : < 24 jam

    Absorbsi : Oral : diabsorpsi dengan baik; makanan dapat mengakibatkan penundaan absorpsi (delay) atau sedikit menurunkan kadar puncak

    Distribusi : sangat lipofilik , dapat menembus sawar darah otak (bood-brain barrier) dengan baik

    Difusi relatif dari darah ke dalam cairan serebrospinal : adekuat dengan atau tanpa inflamasi

    CSF : inflamasi meninges : 25%

    Metabolisme : Hepatik; melalui resirkulasi enterohepatik

    Ikatan protein : 80%

    T½ eliminasi : 3-4 jam; waktu tersebut akan memanjang pada gagal hepar; gagal ginjal terminal : 1,8-11 jam.

    Waktu untuk mencapai kadar puncak, serum: oral : 2-4 jam

    Ekskresi : Feses (60% - 65%) dan urin (~ 30%) sebagai obat yang tidak berubah

    Stabilitas Penyimpanan

    Serbuk rifampisin berwarna merah kecoklatan. Vial yang utuh harus disimpan pada suhu kamar dan dihindarkan dari cahaya dan panas yg berlebihan. Rekonstitusi serbuk untuk injeksi dengan SWFI; untuk injeksi larutkan dalam sejumlah volume yg tepat dengan cairan yang kompatibel (contoh : 100 ml D5W). Vial yang telah direkontitusi stabil selama 24 jam pada suhu kamar.Stabilitas parenteral admixture pada penyimpanan suhu kamar (25°C) adalah 4 jam untuk pelarut D5W dan 24 jam untuk pelarut NS

    Kontraindikasi

    Hipersensitivitas terhadap rifampisin atau komponen lain yang terdapat dalam sediaan; penggunaan bersama amprenavir, saquinafir/rotonavir (kemungkinan dengan proease inhibitor), jaundice (penyakit kuning)

    Efek Samping

    Gangguan saluran cerna seperti anoreksia, mual, muntah, diare (dilaporkan terjadi kolitis karena penggunaan antibiotika); sakit kepala, drowsiness; gejala berikut terjadi terutama pada terapi intermitten termasuk gelala mirip influenza ( dengan chills, demam, dizziness, nyeri tulang), gejala pada respirasi (termasuk sesak nafas), kolaps dan shock, anemia hemolitik, gagal ginjal akut, dan trombositopenia purpura; gangguan fungsi liver, jaundice(penyakit kuning); flushing, urtikaria dan rash; efek samping lain dilaporkan : edema, muscular weakness dan myopathy, dermatitis exfoliative, toxic epidermal necrolysis, reaksi pemphigoid, leucopenia, eosinophilia, gangguan menstruasi; urin, saliva dan sekresi tubuh yang lain berwarna orange-merah; tromboflebitis dilaporkan pada penggunaan secara infus pada periode yang lama.

    Interaksi


    - Dengan Obat Lain :

    Efek Cytochrome P450 : substrat CYP2A6, 2C8/9, 3A4 (major) ; Induksi CYP1A2 (kuat) ,2A6 (kuat), 2B6 (kuat), 2 C8/9(kuat), 2C19 (kuat), 3A4 (kuat).

    Meningkatkan efek/toksisitas : Rifampisin dapat meningkatkan efek terapeutik clopidogrel, penggunaan bersama dengan isoniazid pyrazinamide atau protease inhibitor (amprenavir saquinavir/ritonavir) dapat meningkatkan resiko hepatotoksisitas; antibiotika makrolida dapat meningkatkan kadar/toksisitas rifampin.

    Menurunkan efek : Rifampisin dapat menurunkan efek/kadar obat-obat berikut: asetaminofen, alfentanil, amiodaron,angiotensin II receptor blocker (irbesartan dan losartan), 5-HT3 antagonis, antifungi imidazol, aprepitant, barbiturat, benzodiazepin (dimetabolisme melalui oksidasi), beta blocker, buspiron, calsium channel blocker, kloramfenikol, kortikosteroid, siklosporin; substrat CYP1A2, 2A6, 2B6, 2C8/9, 2C19 DAN 3A4 (contoh : aminofilin, amiodaron, bupropion, fluoksetin, fluvoksamin, ifosfamid, methsuksimid, mirtazapin, nateglinid, pioglitazon, promethazin, inhibitor pompa proton, ropinirol, rosiglitazon, selegilin, sertralin, teofilin, venlafaxin dan zafirlukast; dapson, disopiramid, kontrasepsi estrogen dan progestin, feksofenadin, flukonazol, asam fusidat, HMG-CoA reductase inhibitor, metadon, morfin, fenitoin, propafenon, inhibitor protease, quinidin, repaglinid, inhibitor reverse transkriptase (non-nucleoside), sulfonilurea, takrolimus, tamoksifen, terbinafin, tocainide, antidepresan trisiklik, warfarin,zaleplon, zidovudin, zolpidem. Efek rifampisin diturunkan oleh inducer CYP2A6, 2C8/9, dan 3A4 (seperti : aminoglutethimide, barbiturat, karbamazepin, nafcillin, nevirapin dan fenitoin)

    - Dengan Makanan : Makanan menurunkan absorbsi; konsentrasi rifampin dapat diturunkan jika digunakan bersama dengan makanan. Hindari ethanol (dapat meningkatkan resiko hepatotoksisitas) St. John’s wort dapat menurunkan kadar rifampisin


    Pengaruh


    - Terhadap Kehamilan : Penggunaan obat pada trimester 1 (pertama): Produsen menyatakan studi pada binatang menunjukkan adanya teratogenik pada dosis tinggi. Penggunaan obat pada trimester 3 (tiga): Resiko terjadinya perdarahan pada neonatal dapat meningkat, Faktor risiko : C


    - Terhadap Ibu Menyusui : Hanya sejumlah kecil saja berada pada air susu. Masuk dalam air susu ibu / tidak direkomendasikan (AAP rates “compatible”)


    - Terhadap Anak-anak : -


    - Terhadap Hasil Laboratorium : Interaksi rifampicin dengan tes laboratorium : reaksi Coombs positif, rifampicin mengganggu pemeriksaan standar serum folat dan vitamin B12, meningkatkan LFTs dan menurunkan ekskresi billiari dari contrast media


    Parameter Monitoring

    Fungsi hati (AST, ALT, bilirubin), CBC, hepatic status dan mental status, kultur sputum, x-ray dada

    Bentuk Sediaan

    Kapsul, Kaptab, Sirup

    Peringatan

    Kerusakan hati ( periksa tes fungsi hati dan pemeriksaan darah pada gangguan hati, ketergantungan alkohol, dan pada terapi dalam jangka waktu yang lama); kerusakan ginjal (jika digunakan dosis di atas 600 mg sehari); kehamilan dan menyusui; porfiria; Penting : pasien yang menggunakan hormon kontrasepsi disarankan untuk menggantinya dengan alternatif kontrasepsi lain seperti IUD, karena efek obat kontrasepsi menjadi tidak efektif akibat adanya interaksi obat.

    Kasus Temuan Dalam Keadaan Khusus

    -

    Informasi Pasien

    Jumlah dan frekuensi penggunaan obat tergantung dari beberapa faktor, seperti kondisi pasien, umur dan berat badan. Bila anda mempunyai pertanyaan yang berkaitan dengan jumlah dan/ frekwensi pemakaian obat tanyakan pada dokter atau apoteker. Obat ini menyebabkan warna merah pada urin, keringat, saliva dan air mata. Obat ini juga dapat menimbulkan noda permanen pada lensa kontak. Mempengaruhi efektifitas kontrasepsi oral, gunakan metoda KB yang lain. Rifampisin harus digunakan pada saat lambung kosong, gunakan 1 jam sebelum atau 2 jam sesudah makan dengan segelas air. Gunakan obat ini sedikitnya 1 jam sebelum menggunakan antasida. Segera memeriksakan diri ke dokter bila timbul demam, hilang nafsu makan, tidak enak badan, mual, muntah, urin berwarna gelap, perubahan warna kulit dan mata menjadi kekuningan atau nyeri atau bengkak pada persendian. Pasien harus menggunakan obat hingga habis. Jangan sampai terdapat dosis yang terlewat. Jangan menghentikan pemakaian obat ini tanpa berkonsultasi dengan dokter. Jangan menggunakan obat melebihi jumlah yang telah diresepkan, kecuali atas anjuran dokter. Jangan menggunakan OTC atau obat resep yang lain tanpa memberitahu dokter yang merawat. Jika pasien lupa minum obat, segera mungkin minum obat setelah ingat. Jika terlewat beberapa jam dan telah mendekati waktu minum obat berikutnya jangan minum obat dengan dosis ganda, kecuali atas saran dari tenaga kesehatan . Jika lebih dari satu kali dosis terlewat, mintalah nasehat dokter atau apoteker. Obat ini hanya digunakan oleh pasien yang mendapat resep. Jangan diberikan pada orang lain.

    Mekanisme Aksi

    Menghambat sintesis RNA bakteri dengan mengikat subunit beta dari DNA-dependent RNA polymerase, menghambat transkripsi RNA

    Monitoring Penggunaan Obat

    Periodik (sebelum pengobatan dan tiap 2 – 4 minggu selama terapi) monitoring fungsi hati (AST, ALT, bilirubin), CBC; status fungsi hati dan mental , kultur sputum, x-ray dada 2 – 3 bulan pengobatan

    Daftar Pustaka

    BNF 50

    AHFS Drug Information 2005

    MIMS Indonesia 2006/2007

    Drug Fact & Comparisons 2003

    Drug Information Handbook
    Share:

    Isoniazid (INH)

    Isoniazid (INH) [ Index Informasi Obat ]
    Deskripsi
    - Nama & Struktur Kimia : Sinonim : INH; Isonicotinic Acid Hydrazid
    - Sifat Fisikokimia : Isoniazid merupakan kristal putih, atau serbuk kristalin putih dan mempunyai kelarutan 125 mg/ml dalam air dan 20 mg/ml dalam alkohol pada suhu 25°C. Isoniazid oral dalam perdagangan merupakan sediaan tunggal, kombinasi tetap dengan rifampisin dan kombinasi tetap dengan rifampisin dan pirazinamid
    - Keterangan : Isoniazid adalah suatu sintetik, derivat asam isonikotinik

    Golongan/Kelas Terapi
    Anti Infeksi

    Nama Dagang
    - Beniazid - Decadoxin - Decadoxin Forte - INH 400 Ciba
    - INH Ciba - Inoxin Forte - Pehadoxin - Pehadoxin Forte
    - Pulmolin - Pyravit - Pyrifort - Suprazid
    - Suprazid Forte - INH (Generik)

    Indikasi

    Tuberkulosis, dalam kombinasi dengan obat lain

    Dosis, Cara Pemberian dan Lama Pemberian

    Oral (bentuk injeksi dapat digunakan untuk pasien yang tidak dapat menggunakan sedían oral maupun karena masalah absorbsi)

    Bayi dan anak-anak :

    Pengobatan pada LTBI (latent TB infection) : 10 – 20 mg/kg/hari dalam 1 – 2 dosis terbagi (maksimal 300 mg/hari) atau 20 – 40 mg/kg (maksimal 900 mg/ dosis) dua kali seminggu selama 9 bulan

    Pengobatan infeksi TB aktif :

    Terapi harian 10 – 15 mg/kg/hari dalam 1 – 2 dosis terbagi (maksimal 300 mg/hari)

    Dua kali seminggu DOT (directly observed therapy) : 20 – 30 mg/kg (maksimal 900 mg)

    Dewasa :

    Pengobatan pada LTBI (latent TB infection) : 300 mg/hari atau 900 mg dua kali seminggu selama 6-9 bulan pada pasien yang tidak menderita HIV (terapi 9 bulan optimal, terapi 6 bulan berkaitan dengan penurunan biaya terapi) dan 9 bulan pada pasien yang Pengobatan infeksi TB aktif : Terapi harian 5 mg/kg/hari diberikan setiap hari (dosis lazim : 300 mg/hari); 10 mg/kg/hari dalam 1 – 2 dosis terbagi pada pasien dengan penyakit yang telah menyebar. Dua kali seminggu DOT (directly observed therapy) : 5 mg/kg (maksimal 900 mg); terapi 3 kali/minggu : 15 mg/kg (maksimal 900 mg)

    Farmakologi

    Absorpsi : cepat dan lengkap; kecepatan absorpsi dapat berkurang dengan adanya makanan

    Distribusi : terdistribusi pada semua jaringan tubuh dan cairan tubuh termasuk cairan serebrospinal; menembus plasenta; masuk ke dalam air susu

    Ikatan protein : 10%-50%

    Metabolisme : Melalui hati dengan penurunan kecepatan metabolisme tergantung pada tipe asetilator

    T½ eliminasi : asetilator cepat : 30-100 menit ; asetilator lambat : 2-5 jam; terjadi perpanjangan pada pasien dengan kerusakan hati dan ginjal yang berat

    Waktu untuk mencapai kadar puncak, serum: 1- 2 jam

    Ekskresi : urin ( 75% sampai 95%); melalui feses dan saliva

    Rentang terapeutik : 1-7 mcg/ml (SI : 7-51 µmol/L); Toxic ; 20-710 mcg/mL (SI: 146-5176 µmol/L).

    Stabilitas Penyimpanan

    Lindungi sedíaan oral dari cahaya, udara dan panas yang berlebihan . Isoniazid tablet harus disimpan dalam wadah tertutup rapat,kedap cahaya pada temperatur kurang dari 40°C, lebih baik antara 15 - 30°C

    Tablet yang mengandung kombinasi tetap rifampin, isoniazid dan pyrazinamid harus dilindungi dari kelembaban yang berlebihan dan disimpan pada suhu 15 - 30°C

    Kontraindikasi

    Drug induced liver disease (obat dapat menginduksi timbulnya penyakit hati). Hipersensitivitas terhadap isoniazid atau komponen lain dalam sediaan ; penyakit hati akut, riwayat kerusakan hati selama terapi dengan isoniazid

    Efek Samping

    Mual, muntah, konstipasi; neuritis perifer dengan dosis tinggi (diperlukan profilaksis piridoksin), neuritis optik, konvulsi,episode psikosis, vertigo; reaksi hipersensitivitas termasuk demam, eritema multiforma, purpura; gangguan darah termasuk agranulositosis, anemia haemolitik, anemia aplastik; hepatitis (terutama umur diatas 35 tahun); syndrom like-systemic lupus erythematosus, pellagra, hyper reflexia, hiperglikemia dan dilaporkan ginekomastia

    Interaksi


    - Dengan Obat Lain :

    Efek sitokrom P450: substrat CYP2E1 (major); Menghambat CYP1A2 (lemah), 2A6 (sedang) , 2C8/9 (sedang) , 2C19 (kuat) , 2 D6 (sedang), 2E1 (sedang), 3A4 (kuat) ; induksi CYP2E1 (sesudah dihentikan)

    Meningkatkan efek/toksisitas : penggunaan bersama disulfiram menyebabkan reaksi intoleransi akut. Isoniazid dapat meningkatkan kadar/efek amiodaron, ampfetamin, benzodiazepin, beta-blocker, calcium channel blocker, citalopram, deksmedetomidin, Meningkatkan efek/toksisitas : penggunaan bersama disulfiram menyebabkan reaksi intoleransi akut. Isoniazid dapat meningkatkan kadar/efek amiodaron, ampfetamin, benzodiazepin, beta-blocker, calcium channel blocker, citalopram, deksmedetomidin, antidepresan trisiklik,trimetadon,venlafaxin.Warfarin dan substrat dari CYP2A6,2C8/9,2C19, 2D6,2E1 , atau 3A4. Benzodiazepin tertentu (midazolam dan triazolam), cisaprid, alkaloid ergot, HMG-CoA reduktase inhibitor tertentu (lovastatin dan simvastatin), dan pimozide biasanya kontraindikasi dengan inhibitor CYP3A4 kuat. Mesoridazine dan thioridazine biasanya kontraindikasi dengan inhibitor CYP2D6 kuat. Jika digunakan dengan inhibitor CYP3A4 kuat, diperlukan penyesuaian dosis untuk sildenafil dan inhibitor PDE-5 yang lain.

    Menurunkan efek: efek/kadar isoniazid diturunkan oleh garam aluminium atau antasida. Isoniasid dapat menurunkan efek/kadar subsrat prodrug CYP2D6 (seperti kodein, hidrokodone, oksikodon, tramadol)


    - Dengan Makanan : Harus digunakan satu jam sebelum atau dua jam sesudah makan pada keadaan lambung kosong; peningkatan asupan makanan yang mengandung folat, niasin, magnesium. Tidak diperlukan pembatasan makanan yang mengandung tyramin.


    Pengaruh


    - Terhadap Kehamilan : Tidak diketahui apakah berbahaya bagi janin. Faktor risiko : C. Isoniazid menyebabkan embriosidal pada percobaan dengan hewan; efek teratogenik tidak ditemukan. Isoniasid menembus plasenta manusia. Karena resiko tuberkulosis terhadap fetus, maka pengobatan direkomendasikan bila si ibu menderita penyakit dengan kategori sedang hingga berat.


    - Terhadap Ibu Menyusui : Isoniazid terdistribusi ke dalam air susu ibu.


    - Terhadap Anak-anak : -


    - Terhadap Hasil Laboratorium : Interaksi tes laboratorium dengan isoniazid: terjadi reaksi positif palsu pada pemeriksaan glukosa urin dengan Clinitest®


    Parameter Monitoring

    Tes fungsi hati, kultur sputum

    Bentuk Sediaan

    Tablet, Sirup

    Peringatan

    Kerusakan hati; kerusakan ginjal; status asetilator lambat ( meningkatkan risiko efek samping); epilepsi; riwayat psikosis; ketergantungan alkohol, malnutrisi, diabetes melitus, infeksi HIV (resiko neuritis perifer) ; kehamilan dan menyusui ; porfiria. Gangguan hati : pasien atau keluarganya harus diberitahu bagaimana mengenal tanda-tanda gangguan hati dan disarankan untuk menghentikan pengobatan serta segera memeriksakan diri jika muncul gejala yang menetap seperti mual, muntah, malaise atau jaundice (penyakit kuning).

    Kasus Temuan Dalam Keadaan Khusus

    AAP merekomendasikan suplemen piridoksin (1-2 mg/kg/hari) harus diberikan pada pasien malnutrisi, anak-anak dan dewasa yang kurang asupan makanan seperti daging dan susu, bayi yang sedang menyusui untuk mencegah neuropati perifer; pemberian sirup isoniazid dikaitkan dengan timbulnya diare.

    Informasi Pasien

    Jumlah dan frekuensi penggunaan obat tergantung dari beberapa faktor, seperti kondisi pasien, umur dan berat badan. Bila anda mempunyai pertanyaan yang berkaitan dengan jumlah dan/ frekuensi pemakaian obat tanyakan pada dokter atau apoteker.

    Gunakan pada saat lambung kosong, sedikitnya 1 jam sebelum atau 2 jam sesudah makan. Jika perlu, gunakan obat ini bersama makanan untuk menurunkan rasa tidak enak pada lambung

    Pasien tidak boleh lupa minum obat, jangan menghentikan pemakaian obat ini tanpa berkonsultasi dengan dokter

    Ketidakpatuhan pasien dalam menggunakan obat hingga pengobatan selesai akan mengakibatkan kegagalan terapi dan meningkatkan risiko memburuknya kesehatan.

    Minimalisasi penggunaan alkohol. Alkohol dapat meningkatkan resiko hepatitis.

    Segera memeriksakan diri ke dokter bila timbul lemah yg berkepanjangan,atau demam lebih dari 3 hari, nafsu makan berkurang,mual, muntah, warna kuning pada kulit dan mata, urin berwarna gelap,ruam, mati rasa atau terjadi rasa gatal pada kaki dan tangan.

    Jangan menggunakan obat melebihi jumlah yang telah diresepkan, kecuali atas anjuran dokter.

    Kondisi medis awal pasien harus diceritakan pada petugas kesehatan sebelum menggunakan obat ini.

    Jangan menggunakan OTC atau obat resep yang lain tanpa memberitahu dokter yang merawat.

    Jika pasien lupa minum obat, segera mungkin minum obat setelah ingat.

    Jika terlewat beberapa jam dan telah mendekati waktu minum obat berikutnya jangan minum obat dengan dosis ganda, kecuali atas saran dari tenaga kesehatan .

    Jika lebih dari satu kali dosis terlewat, mintalah nasehat dokter atau apoteker

    Mekanisme Aksi

    Tidak diketahui, namun diperkirakan terjadi penghambatan sintesis asam mikolat yang menyebabkan kerusakan dinding sel bakteri

    Monitoring Penggunaan Obat

    Tes fungsi hati secara periodik;kultur sputum dilakukan tiap bulan (hingga diperoleh hasil 2 kali kultur negatif) ; monitoring tanda-tanda prodromal hepatitis.

    Daftar Pustaka

    BNF 50

    AHFS Drug Information 2005

    MIMS Indonesia 2006/2007

    Drug Fact & Comparisons 2003

    Drug Information Handboo
    Share:

    recent posts

    Popular Posts

    Labels

    Recent Posts