Showing posts with label [ObGin] Kehamilan. Show all posts
Showing posts with label [ObGin] Kehamilan. Show all posts

Faktor Resiko yang Ada Sebelum Kehamilan

DEFINISI
Beberapa faktor resiko ada sebelum wanita menjadi hamil. Faktor resiko ini termasuk karakter fisik dan sosial tertentu pada wanita, masalah yang terjadi pada kehamilan sebelumnya, dan gangguan tertentu yang telah dimiliki.

Karakter Fisik

Usia, berat badan, dan tinggi pada wanita mempengaruhi resiko selama kehamilan. Anak gadis berusia 15 dan lebih muda beresiko tinggi mengalami preeclampsia (sebuah jenis tekanan darah yang terjadi selama kehamilan). Perempuan muda juga beresiko tinggi mengalami kekurangan berat badan (terlalu kecil untuk usia hamil) atau bayi kekurangan gizi. Wanita berusia 35 dan lebih tua beresiko tinggi mengalami masalah seperti tekanan darah tinggi, diabetes selama hamil (diabetes yang terjadi selama kehamilan), dan komplikasi selama persalinan.

Wanita yang berat badan kurang dari 100 pon sebelum menjadi hamil lebih mungkin memiliki bayi kecil, berat badan kurang. Wanita obesitas lebih mungkin memiliki bayi yang sangat besar, yang kemungkinan sulit untuk dilahirkan. Juga, wanita obesitas lebih mungkin mengalami diabetes gestational dan preeklampsia.

Wanita yang lebih pendek dari 5 kaki lebih mungkin mengalami panggul kecil, yang bisa membuat gerakan janin melalui panggul dan vagina (saluran lahir) kesulitan selama persalinan. Misal, bahu janin lebih mungkin menetap berlawanan dengan tulang pubis. Komplikasi ini disebut bahu dystocia. Juga, wanita yang pendek lebih mungkin mengalami persalinan preterm dan bayi tidak cukup berkembang seperti yang diharapkan.

Kelainan struktur pada organ reproduksi meningkatkan resiko keguguran. Misal rahim ganda atau servik lemah (incompetent) yang cenderung untuk membuka (melebar) sebagaimana pertumbuhan janin.

Karakter Sosial

Menjadi tidak menikah atau dalam kelompok sosial ekonomi yang rendah meningkatkan masalah selama kehamilan. Alasannya sifat ini meningkatkan resiko tidak jelas tetapi kemungkinan berhubungan dengan sifat lain yang lebih umum pada wanita ini. Misal, wanita ini lebih mungkin untuk merokok dan sedikit untuk mengkonsumsi makanan kesehatan untuk memperoleh perawatan medis yang tepat.

Masalah Pada Kehamilan Sebelumnya

Ketika wanita mengalami masalah pada kehamilan pertama, mereka lebih mungkin mengalami masalah, seringkali hal yang sama, pada kehamilan berikutnya. Beberapa masalah termasuk memiliki bayi prematur, bayi yang berat badannya kurang, bayi yang beratnya lebih dari 10 pon, bayi dengan kelahiran cacat, keguguran sebelumnya, melahirkan terlambat (postterm)(setelah 42 minggu pada kehamilan), ketidakcocokan Rh yang membutuhkan transfusi darah ke janin, atau melahirkan yang membutuhkan operasi sessar. Jika wanita memiliki bayi yang meninggal segera setelah dilahirkan, mereka juga lebih mungkin mengalami masalah pada kehamilan berikutnya.

Wanita bisa mengalami kondisi yang cenderung untuk membuat masalah berulang yang sama. Misal, wanita dengan diabetes lebih mungkin untuk memiliki bayi yang berat badannya lebih dari 10 pon ketika lahir.

Wanita yang memiliki anak dengan gangguan genetik atau cacat lahir lebih mungkin memiliki bayi lain dengan masalah serupa. Tes genetik pada bayi, bahkan jika baru dilahirkan, dan kedua orangtua kemungkinan tepat sebelum kehamilan lain diupayakan. Jika wanita ini menjadi hamil kembali. Beberapa tes seperti ultrasonografi, chorionic villus sampling, dan amniocentesis bisa membantu memastikan apakah janin memiliki gangguan genetik atau cacat lahir.

Telah mengalami 6 atau lebih kehamilan meningkatkan resiko pada persalinan yang sangat cepat dan pendarahan berlebihan setelah melahirkan. Hal itu juga meningkatkan resiko pada plasenta yang salah letak (placenta previa).

Gangguan Yang Hadir Sebelum Kehamilan.

Sebelum menjadi hamil, wanita bisa mengalami gangguan yang meningkatkan resiko pada masalah selama kehamilan. Wanita ini harus berbicara dengan dokter dan berusaha mendapatkan kondisi fisik terbaik mungkin sebelum menjadi hamil. Setelah mereka menjadi hamil, mereka bisa memerlukan perawatan khusus, seringkali yang berasal dari tim interdisciplinary. Tim tersebut bisa termasuk dokter kandungan (yang bisa juga menjadi spesialis pada gangguan), spesialis gangguan, dan praktisi kesehatan lainnya (seperti ahli gizi)
  1. Penyakit jantung : kebanyakan wanita yang menderita penyakit jantung-termasuk gangguan klep jantung (seperti mitral valve prolapse) dan beberapa cacat lahir pada jantung-bisa melahirkan anak sehat dengan selamat, tanpa sakit permanen apapun yang berakibat pada fungsi jantung atau jangka hidup. Meskipun begitu, wanita yang mengalami gagal jantung sebelum hamil sangat beresiko pada masalah.

    Kehamilan memerlukan kerja jantung yang lebih berat. Konsekwensinya, kehamilan bisa memperburuk penyakit jantung atau menyebabkan penyakit jantung untuk menghasilkan gejala-gejala untuk pertama kali. Biasanya, masalah-masalah serius, termasuk kematian pada wanita atau janin tersebut, terjadi hanya ketika penyakit jantung adalah berat sebelum wanita tersebut menjadi hamil. Sekitar 1% wanita yang mengalami penyakit jantung berat sebelum hamil menjadi meninggal sebagai akibat dari kehamilan, biasanya karena gagal jantung.

    Resiko pada masalah meningkat sepanjang kehamilan sebanding dengan perkembangan masalah jantung. Wanita hamil dengan penyakit jantung bisa menjadi lelah yang tak biasa dan bisa membatasi kegiatan mereka. Jarang, wanita dengan penyakit jantung berat dianjurkan untuk melakukan aborsi dini pada kehamilan. Resiko juga meningkat selama persalinan dan melahirkan. Setelah melahirkan, wanita dengan penyakit jantung berat tidak bisa keluar dari bahaya setidaknya 6 bulan, tergantung pada jenis penyakit jantung.

    Penyakit jantung pada wanita hamil bisa mempengaruhi janin. Janin kemungkinan dilahirkan prematur. Wanita dengan cacat lahir pada jantung lebih mungkin memiliki anak dengan cacat lahir serupa. Ultrasonografi bisa mendeteksi beberapa kerusakan ini sebelum janin dilahirkan. Jika penyakit jantung berat pada wanita hamil tiba-tiba memburuk, janin bisa mati.

    Selama persalinan, wanita yang mengalami penyakit jantung berat kemungkinan diberikan obat bius epidural, yang menghambat sensasi pada tulang belakang bagian bawah dan mencegah wanita dari mendorong. Mendorong selama persalinan menegangkan jantung, karena meningkatkan jumlah darah yang kembali menuju jantung. Karena mendorong tidak mungkin, bayi harus dilahirkan dengan forcep.

    Untuk wanita dengan beberapa jenis penyakit jantung, kehamilan tidak dianjurkan karena meningkatkan resiko mereka pada kematian. Hipertensi paru-paru primer dan sindron eisenmenger adalah contohnya. Jika wanita mengalami salah satu gangguan ini bisa hamil, dokter menganjurkan mereka untuk mengakhiri kehamilan sedini mungkin.
  2. Tekanan darah tinggi : wanita yang mengalami tekanan darah tinggi (hipertensi kronis) sebelum hamil lebih mungkin mengalami masalah serius yang berpotensi selama kehamilan. Masalah-masalah ini termasuk preeklampsia (sebuah jenis tekanan darah tinggi yang terjadi selama kehamilan), tekanan darah tinggi yang memburuk, janin yang tidak berkembang sebanyak yang diharapkan, pelepasan plasenta yang premature dari rahim (placental abruption), dan kematian waktu lahir.

    Untuk kebanyakan wanita dengan tekanan darah ringan (140/90 sampai 150/100 mm per merkuri (mm Hg)), pengobatan dengan obat-obatan antihipertensi tidak dianjurkan. Beberapa pengobatan tidak tampak untuk mengurangi resiko pada preeklampsia, pelepasan prematur pada plasenta, atau kematian waktu lahir maupun untuk memperbaiki pertumbuhan janin. Meskipun begitu, beberapa wanita diobati untuk mencegah kehamilan karena epidode tekanan darah yang lebih tinggi (yang memerlukan perawatan di rumah sakit).

    Untuk wanita yang tekanan darahnya lebih tinggi dari 150/100 mm Hg, pengobatan dengan obat-obatan antihipertensi dianjurkan. Pengobatan bisa mengurangi resiko stroke dan komplikasi lain yang disebabkan tekanan darah yang sangat tinggi. Pengobatan juga dianjurkan untuk wanita yang mengalami tekanan darah tinggi dan gangguan ginjal karena jika tekanan darah tidak dikendalikan dengan baik, ginjal tersebut kemungkinan lebih lanjut rusak.

    Kebanyakan obat-obatan antihipertensi digunakan untuk mengobati tekanan darah tinggi bisa digunakan dengan aman selama kehamilan. Meskipun begitu, penghambat enzim angiotensin-converting (ACE) dihentikan selama kehamilan, terutama selama dua semester terakhir. Obat-obatan ini bisa menyebabkan kerusakan ginjal pada janin. Akibatnya, bayi tersebut bisa mati setelah dilahirkan.

    Selama kehamilan, wanita dengan tekanan darah tinggi dipantau ketat untuk memastikan tekanan darah dikendalikan dengan baik, ginjal berfungsi dengan normal, dan janin berkembang dengan normal. Meskipun begitu, pelepasan plasenta yang prematur tidak dapat dicegah atau diantisipasi. Seringkali, bayi harus segera dilahirkan untuk dicegah atau diantisipasi. Seringkali, bayi harus segera dilahirkan untuk mencegah kematian waktu lahir atau komplikasi yang disebabkan oleh tekanan darah tinggi (seperti stroke) pada wanita.
  3. Anemia : mengalami anemia menurun, seperti penyakit sel arit, penyakit hemoglobin S-C, dan beberapa talasemia, peningkatan resiko pada masalah selama kehamilan. Sebelum dilahirkan, tes darah dilakukan secara rutin untuk memeriksa kelainan hemoglobin pada wanita yang mengalami peningkatan resiko mengalami kelainan ini karena ras, latar belakang etnis, atau riwayat keluarga. Contoh chorionic villus atau amniocentesis kemungkinan dilakukan untuk memeriksa kelainan hemoglobin pada janin.

    Wanita yang mengalami penyakit sel arit terutama sekali beresiko mengalami infeksi selama kehamilan. Pneumonia, infeksi saluran kemih, dan infeksi pada rahim adalah yang paling umum. Sekitar sepertiga wanita hamil mengalami penyakit sel arit mengalami tekanan darah tinggi selama kehamilan. Serangan nyeri berat mendadak, disebut siklus krisis sel arit, bisa terjadi selama kehamilan sebagaimana setiap waktu yang lain. Gagal jantung dan penyumbatan pada arteri paru-paru bisa menggumpalkan darah (emboli paru-paru), yang kemungkinan mengancam nyawa, bisa juga terjadi. Pendarahan selama persalinan atau setelah melahirkan kemungkinan lebih berat. Janin bisa lambat bertumbuh atau tidak bertumbuh sebanyak yang diharapkan. Janin bahkan bisa meninggal. Penyakit sel arit yang lebih berat sebelum kehamilan, resiko yang lebih berat pada masalah kesehatan untuk wanita hamil dan janin dan resiko kematian pada janin yang lebih tinggi selama kehamilan. Dengan transfusi darah teratur, wanita sedikit mungkin mengalami siklus krisis sel arit tetapi lebih mungkin mengalami penolakan darah yang ditransfusi. Keadaan ini, disebut alloimmunization, bisa mengancam nyawa. Juga, transfusi untuk wanita hamil tidak mengurangi resiko untuk janin.
  4. Gangguan ginjal : wanita dengan gangguan ginjal berat sebelum hamil lebih mungkin mengalami masalah selama kehamilan. Fungsi ginjal bisa cepat memburuk selama kehamilan. Tekanan darah tinggi, yang seringkali disertai gangguan ginjal, bisa juga memburuk, dan preeklampsia (jenis tekanan darah tinggi selama kehamilan) bisa terbentuk. Janin tidak bisa bertumbuh seperti yang diharapkan, fungsi ginjal dan tekanan darah dipantau dengan ketat sebagaimana perkembangan janin. Seringkali, bayi harus segera dilahirkan.

    Wanita yang mengalami cangkok ginjal yang telah diletakkan untuk 2 tahun lebih biasanya bisa melahirkan anak dengan aman jika ginjal mereka berfungsi secara normal, jika mereka tidak mengalami peristiwa penolakan, dan jika tekanan darah mereka adalah normal. Kebanyakan wanita yang mengalami gangguan ginjal dan yang mengalami hemodialisa teratur bisa juga melahirkan bayi yang sehat.
  5. Seizure Disorder (kejang) : untuk kebanyakan wanita yang menggunakan antikonsulvan untuk mengobati seizure disorder, frekwensi kejang tidak berubah selama kehamilan. Meskipun begitu, kadangkala dosis antikonsulvan harus ditingkatkan.

    Penggunaan antikonsulvan meningkatkan resiko cacat lahir. Wanita yang menggunakan antikonsulvan harus mendiskusikan resiko cacat lahir dengan ahli di bidangnya, lebih baik sebelum mereka hamil. Beberapa wanita kemungkinan menghentikan antikonsulvan selama kehamilan dengan aman, tetapi kebanyakan wanita harus melanjutkan penggunaan obat-obatan tersebut. Resiko dihasilkan dari tidak menggunakan obat-obatan tersebut (menghasilkan frekwensi serangan yang lebih, yang bisa membahayakan janin dan wanita tersebut) biasanya lebih banyak resiko dihasilkan dari panggunaan obat-obatan selama kehamilan.
  6. Penyakit kelamin menular : wanita yang mengalami penyakit kelamin menular bisa mengalami masalah selama kehamilan. Infeksi chlamydial bisa menyebabkan persalinan preterm dan selaput yang mengandung janin pecah secara prematur. Hal itu bisa juga menyebabkan conjunctivitis pada bayi yang baru lahir, sama seperti gonorhoe. Sifilis pada wanita hamil kemungkinan ditularkan kepada janin melalui plasenta. Sifilis bisa menyebabkan beberapa kerusakan lahir.

    Sekitar seperempat wanita hamil yang memiliki infeksi virus immunodeficiency manusia (HIV) yang tidak diobati, yang menyebabkan AIDS, menularkannya kepada bayi mereka. Para ahli menganjurkan bahwa wanita dengan infeksi HIV menggunakan obat-obatan antiretroviral selama kehamilan. Ketika wanita hamil menggunakan obat-obatan ini, resiko penularan HIV kepada bayi mereka berkurang lebih sedikit dibandingkan 2%. Untuk beberapa wanita dengan infeksi HIV, melahirkan dengan operasi sessar, direncanakan kemudian, bisa mengurangi resiko penularan HIV kepada bayi lebih lanjut. Kehamilan tidak tampak mempercepat kemajuan infeksi HIV pada wanita.

    Herpes kelamin bisa ditularkan kepada bayi selama melahirkan normal. Bayi yang tidak terinfeksi dengan herpes bisa mengalami infeksi otak yang mengancam nyawa disebut herpes encephalitis. Jika herpes menghasilkan luka pada daerah kelamin di akhir kehamilan, wanita biasanya dianjurkan untuk melahirkan dengan operasi sessar, sehingga virus tersebut tidak ditularkan kepada bayi. Jika luka hadir, resiko penularan sangat rendah.
  7. Diabetes : untuk wanita yang mengalami diabetes sebelum mereka hamil, resiko komplikasi selama kehamilan bergantung pada seberapa diabetes telah hadir dan apakah ada komplikasi pada diabetes, seperti tekanan darah tinggi dan kerusakan ginjal, telah ada. (Pada beberapa wanita, diabetes terjadi selama kehamilan, gangguan ini disebut gestational diabetes).

    Resiko komplikasi selama kehamilan bisa dikurangi dengan mengendalikan kadar gula (glukosa) di dalam darah. Kadar tersebut harus dijaga senormal mungkin sepanjang kehamilan. Cara untuk mengukur kadar gula darah (seperti makanan, olahraga, dan insulin) harus dimulai sebelum kehamilan. Kebanyakan wanita hamil diminta untuk mengukur kadar gula mereka beberapa kali sehari di rumah. Mengendalikan diabetes terutama sekali diakhir kehamilan sangat penting. Kemudian, kadar gula darah cenderung meningkat karena tubuh menjadi sedikit responsif terhadap insulin. Dosis yang lebih tinggi pada insulin biasanya diperlukan.

    Jika diabetes kurang dikontrol awal sekali pada kehamilan, resiko keguguran dini dan kerusakan lahir bertambah secara signifikan. Ketika diabetes kurang dikontrol dan telat pada kehamilan, janin besar dan resiko kamatian ketika melahirkan meningkat. Janin besar mengurangi janin untuk lewat dengan mudah melalui vagina dan lebih mungkin untuk terluka selama melahirkan normal. Konsekwensinya, melahirkan dengan operasi sessar seringkali diperlukan. Resiko preeklampsia (jenis tekanan darah tinggi yang terjadi selama kehamilan) juga meningkat untuk wanita dengan diabetes.

    Paru-paru janin cenderung matang dengan lambat. Jika melahirkan dini dipertimbangkan (misalnya, karena janin besar), dokter bisa mengangkat dan meneliti contoh cairan yang mengelilingi janin (cairan ketuban). Prosedur ini, disebut amniocentesis, membantu dokter untuk memastikan apakah paru-paru janin cukup matang untuk dilahirkan untuk bernafas.

    Bayi yang baru lahir pada wanita yang mengalami diabetes meningkatkan resiko mengalami kadar gula yang rendah, kalsium rendah, dan kadar bilirubin yang rendah di dalam darah. Staff rumah sakit mengukur kadar zat-zat ini dan meneliti bayi yang baru lahir untuk gejala-gejala kelainan ini.

    Untuk wanita dengan diabetes, kebutuhan untuk insulin segara turun secara dramatis setelah melahirkan. Tetapi kebutuhan tersebut biasanya kembali seperti semula sebelum kehamilan dalam waktu sekitar 1 minggu.
  8. Gangguan Hati dan kantung empedu : wanita yang mengalami hepatitis karena virus yang kronis atau sirosis (luka parut pada hati) lebih meungkin untuk gugur atau melahirkan secara prematur. Sirosis bisa menyebabkan pembuluh varicose untuk terbentuk di sekitar kerongkongan (varises kerongkongan). Kehamilan sedikit meningkatkan resiko pendarahan besar-besaran dari pembuluh ini, khususnya selama 3 bulan terakhir pada kehamilan.

    Wanita hamil yang mempunyai batu empedu dipantau secara ketat. Jika batu empedu menghambat kantung empedu atau menyebabkan infeksi, operasi kemungkinan diperlukan. Operasi ini biasanya aman untuk wanita dan janin.
  9. Asma : pada sekitar separuh wanita yang mengalami asma dan hamil, frekwensi atau tingkat keparahan serangan asma tidak berubah selama kehamilan. Kira-kira seperempat wanita bertambah baik selama kehamilan, dan sekitar seperempat menjadi buruk. Jika wanita hamil dengan asma berat diobati dengan prednison, resiko dimana janin tidak berkembang seperti yang diharapkan atau akan dilahirkan secara prematur menjadi meningkat.

    Karena asma bisa berubah sepanjang kehamilan, dokter bisa meminta wanita dengan asma untuk menggunakan peak flow meter untuk memantau pernafasan mereka lebih sering. Wanita hamil dengan asma harus mengunjungi dokter secara teratur sehingga pengobatan bisa disesuaikan sesuai kebutuhan. Mengontrol dengan baik asma adalah penting. Pengobatan yang tidak cukup bisa mengakibatkan masalah serius. Cromolyn, bronkodilator (seperti albuterol), dan kortikosteroid (seperti beclometason) bisa digunakan selama kehamilan. Inhalasi adalah cara yang lebih disukai untuk menggunakan obat-obatan ini. Ketika dihirup, obat tersebut mempengaruhi sebagian besar paru-paru dan mempengaruhi seluruh tubuh dan sedikit janin. Aminophylline (digunakan dengan mulut atau infus) dan teofilin (digunakan dengan mulut) kadangkala digunakan selama kehamilan. Kortikosteroid digunakan dengan mulut hanya ketika pengobatan lain tidak efektif. Divaksinasi untuk melawan virus influenza (flu) selama musim influenza sangat penting untuk wanita hamil dengan asma.
  10. Gangguan autoimmune : kelainan antibodi dihasilkan pada gangguan autoimmune bisa menyeberang ke plasenta dan menyebabkan masalah pada janin. Kehamilan mempengaruhi gangguan autoimmune pada cara yang berbeda
  11. Systemic lupus erythematosus (lupus) bisa muncul untuk pertama kali, memburuk, atau agak berat selama kehamilan. Bagaimana kehamilan mempengaruhi jalan lupus tidak dapat diduga, tetapi waktu yang paling sering untuk tercetus segera setelah melahirkan.

    Wanita yang mengalami lupus seringkali mengalami riwayat keguguran berulang, janin yang tidak berkembang seperti yang diharapkan, dan persalinan preterm. Jika wanita mengalami komplikasi disebabkan lupus (seperti kerusakan ginjal atau tekanan darah tinggi), resiko kematian untuk janin atau bayi yang baru lahir meningkat.

    Pada wanita hamil, antibodi lupus bisa menyeberangi plasenta menuju janin. Akibatnya, janin bisa mengalami detak jantung yang sangat lambat, anemia, jumlah platelet yang rendah, atau jumlah sel darah putih yang rendah. Meskipun begitu, antibodi ini hilang secara bertahap lebih dari beberapa minggu setelah bayi dilahirkan, dan masalah yang mereka sebabkan terselesaikan kecuali untuk detak jantung yang lambat.
  12. Pada penyakit Grave, antibodi merangsang kelenjar tiroid untuk menghasilkan hormon tiroid yang berlebihan. Antibodi ini bisa menyeberangi palsenta dan merangsang kelenjar tiroid pada janin. Akibatnya, janin bisa mengalami detak jantung yang cepat dan tidak bisa bertumbuh seperti yang diharapkan. Kelenjar tiroid bayi bisa membesar, membentuk gondok. Sangat jarang, gondok kemungkinan membesar yang berhubungan dengan melahirkan melalui vagina.

    Biasanya, wanita dengan penyakit grave menggunakan dosis efektif serendah mungkin propylthiouracil, yang memperlambat aktifitas kelenjar tiroid. Penelitian fisik dan pengukuran kadar hormon tiroid dilakukan secara teratur karena propylthiouracil melintasi plasenta dan mencegah janin untuk menghasilkan hormon tiroid yang cukup. Seringkali, penyakit grave menjadi sedikit berat selama trisemester ketiga, sehingga dosis propylthiouracil bisa dikurangi atau dihentikan. Jika diperlukan, kelenjar tiroid pada wanita hamil kemungkinan diangkat pada trisemester kedua. Wanita ini harus mulai menggunakan hormon tiroid 24 jam setelah operasi. Menggunakan hormon ini tidak menyebabkan masalah pada janin.

  13. Myasthenia gravis, yang menyebabkan kelemahan otot, biasanya tidak menyebabkan komplikasi serius dan permanen selama kehamilan. Meskipun begitu, sangat jarang terjadi selama persalinan, wanita yang mengalami myasthenia gravis bisa memerlukan pertolongan ketika bernafas (assisted ventilation). Antibodi yang menyebabkan gangguan ini bisa melalui plasenta. Sehingga kira-kira satu dari lima bayi dilahirkan untuk wanita dengan myasthenia gravis dilahirkan dengan gangguan tersebut. Meskipun begitu, mengakibatkan kelemahan otot pada bayi biasanya sementara, karena antibodi dari ibu hilang secara bertahap dan bayi tidak menghasilkan antibodi pada jenis ini.
  14. Idiopathic thrombocytopenic purpura bisa menyebabkan masalah pendarahan pada wanita hamil dan bayi mereka. Jika tidak diobati selama kehamilan, gangguan tersebut cenderung lebih berat. Kortikosteroid, biasanya diberikan prednison melalui mulut, bisa meningkatkan jumlah platelet dan memperbaiki penggumpalan darah pada wanita hamil dengan gangguan ini. Meskipun begitu, prednison meningkatkan resiko dimana janin tidak akan berkembang seperti yang diharapkan atau akan dilahirkan dengan prematur. Gamma globulin dosis tinggi kemungkinan diberikan secara infus segera setelah melahirkan. Akibatnya, persalinan bisa diproses dengan aman, dan wanita bisa menjalani melahirkan normal tanpa pendarahan yang tak terkendali. Wanita hamil diberikan transfusi platelet hanya ketika melahirkan dengan operasi sessar diperlukan atau ketika jumlah platelet sangat rendah dimana pendarahan berat bisa terjadi. Jarang terjadi, ketika jumlah platelet tetap rendah membahayakan meskipun diobati, limpa, yang normalnya menjebak dan menghancurkan sel darah tua dan platelet, diangkat. Waktu yang terbaik untuk operasi ini adalah selama trisemester kedua.

    Antibodi yang menyebabkan gangguan ini bisa menyeberangi plasenta menuju janin, jarang terjadi mengakibatkan jumlah platelet rendah yang berbahaya sebelum dan segera setelah lahir. Bayi kemudian kemungkinan berdarah selama persalinan dan melahirkan dan bisa mengakibatkan terluka atau mati, khususnya jika pendarahan terjadi di dalam otak. Antibodi hilang dalam beberapa minggu, dan darah bayi kemudian menggumpal secara normal.

  15. Rheumatoid arthritis tidak mempengaruhi janin, tetapi melahirkan kemungkinan sulit untuk wanita jika arthritis telah merusak persendian paha mereka atau bagian bawah tulang belakang (lumbar). Gejala rheumatoid arthritis bisa berkurang selama kehamilan, tetapi biasanya kembali ke kadar awal mereka setelah kehamilan.
  16. Fibroid : fibroid di dalam rahim, relatif sering terjadi tumor yang bukan kanker, bisa meningkatkan resiko persalinan preterm, melahirkan janin abnormal, plasenta yang tidak pada tempatnya (placenta previa), dan keguguran berulang. Jarang, fibroid berhubungan dengan gerakan janin melalui persalinan normal.
  17. Kanker : karena kanker cenderung mengancam nyawa dan karena menunda pengobatan bisa mengurangi kemungkinan pengobatan yang berhasil, kanker biasanya diobati dengan cara yang sama apakah wanita hamil atau tidak. Beberapa pengobatan yang umum (operasi, obat-obatan kemoterapi, dan terapi radiasi) bisa membahayakan janin. Dengan demikian, beberapa wanita bisa mempertimbangkan aborsi. Meskipun begitu, pengobatan bisa kadangkala diatur waktunya sehingga resiko terhadap janin berkurang.
Sumber: Medicastore.com
Share:

Hambatan pada Tahap Kehamilan

Trimester I:
  • Abortus
  • Mola Hidatidosa
  • Hiperemesis Gravidarum
  • Kehamilan Ektopik
  • Mola Hidatidosa

Trimester II:


Trimester III:
  • HAP
  • KPD

Pesalinan:
  • Inersia Uteri
  • Ruptur Uteri
  • Distosia
  • Malposisi
  • Panggul Sempit
  • Partus Lama

Post Partum:
  • Infeksi post partum
  • Atonia Uteri
  • Perdarahan Post Partum
Share:

selengkapnya "Mola Hidatidosa atau Hamil Anggur"

Sinonim
Hydatidiform mole, kehamilan anggur, hamil anggur, hamil mata ikan, molar pregnancy, molar gestation.


Pendahuluan
Penyakit trofoblastik gestasional (gestational trophoblastic disease) meliputi beberapa penyakit yang prosesnya muncul atau berkembang di plasenta, diantaranya: mola parsial dan komplet/lengkap, placental site trophoblastic tumors, koriokarsinoma, dan mola invasif.
Share:

Mola Hidatidosa atau hamil anggur

Kendati dalam istilah medis tidak dikenal Hamil Anggur, ada baiknya kita bahas sekilas untuk tambahan sedikit pengetahuan. Nama penyakit tersebut sebenarnya adalah Mola Hidatidosa. Nama-nama lain lihat “kata kunci”.
Mengapa disebut Hamil Anggur ? Yah, itu kan kebiasaan manusia (indonesia?), mungkin mengaitkannya dengan bentuknya yang mirip anggur.
Kata kunci:
Share:

Kehamilan Ektopik

Kehamilan kadang tidak seperti yang kita harapkan. Sehingga jika didapatkan hasil test kehamilan lewat urine (+), pastikan dulu kehamilan anda adalah kehamilan yang normal. Artinya normal disini adalah, kehamilan terletak didalam rahim (Intra uterine), dan sudah terdapat gambaran janinnya, dengan detak jantungnya ada.
Ada beberapa kondisi, yang menandakan bahwa kehamilan tidak senormal yang kita harapkan.
Share:

Pemeriksaan Pada kehamilan


Pemeriksaan Leopold
Pemeriksaan Leopold I , untuk menentukan tinggi fundus uteri dan bagian janin yang berada dalam fundus uteri.
Petunjuk cara pemeriksaan :
Share:

Hepatitis B dan Kehamilan

Infeksi virus hepatitis B dapat menyebabkan masalah kesehatan. Seseorang yang terinfeksi virus ini mungkin tidak menunjukkan tanda-tanda terinfeksi, namun dapat menularkannya pada kepada orang lain.

Share:

Sindroma Alkohol


DEFINISI
Sindroma Alkohol Pada Janin adalah suatu keadaan yang terjadi pada bayi yang selama dia berada dalam kandungan, ibunya mengkonsumsi minuman beralkohol.
Share:

Merokok Selama Kehamilan, Apa Efeknya?

Ibu Hamil Jangan Merokok! Merokok selama anda hamil hanya akan memberi efek yang buruk bagi bayi anda, pelajari lebih lanjut bagaimana ibu hamil perokok aktif maupun perokok pasif selama kehamilan akan berpengaruh buruk!
Share:

JENIS HORMON KEHAMILAN

"Pada saat hamil, banyak sekali hormon kehamilan yang memegang peran penting dalam kehamilan"

Pengertian Hormon
Hormon adalah zat kimia yang dihasilkan oleh kelenjar endokrin. Pada saat hamil produksi hormon tersebut menjadi lebih banyak dan masing-masing hormon berguna untuk mengatur pertumbuhan janin selama kehamilan. Beberapa jenis hormon dan fungsinya yang telah dikenal adalah :

1. HCG (human chorionic gonadotrophin)
Hormon ini dihasilkan oleh embrio. Berfungsi untuk mencegah haid dan meningkatkan kadar progesteron. Kadar HCG yang tinggi pada tiga bulan pertama diperkirakan penyebab morning sickness

2. Estrogen dan Progesteron
Hormon ini merupakan salah satu hormon penting dalam kehamilan yang mengatur kehamilan. Progesteron mempersiapkan lapisan rahim untuk menerima telur yang sudah dibuahi, merangsang perkembangan jaringan tubuh serta menimbulkan rasa tenang. Bersama dengan estrogen, hormon progesteron juga berguna untuk merangsang perkembangan kelenjar air susu, memperbesar buah dada, dan membuat areola melebar dan lebih gelap.

3. Relaxin
Hormon ini melembutkan rahim dan mengendorkan otot panggul untuk persiapan kelahiran.

4. Oksitosin
Hormon ini berfungsi untuk merangsang kontraksi rahim untuk mendorong bayi keluar. Oksitosin juga berguna untuk membantu rahim mengkerut ke ukuran normal setelah melahirkan dan merangsang produksi air susu selama proses menyusui.

5. Prostaglandin
Bertugas untuk merangsang kehamilan. Wanita memproduksi hormon ini ketika janin siap lahir. Cairan semen yang dikeluarkan pria ketika ejakulasi juga mengandung hormon Prostaglandin

6. Endorfin
Hormon endorfin menimbulkan rasa tenang dan menghilangkan rasa sakit. Hormon endorfin meningkat selama kehamilan dan memuncak saat persalinan/kelahiran
Share:

Pentingnya Antenatal Care ( ANC )

Kehamilan merupakan sebuah anugerah bagi pasangan suami istri. Bayangkan, seorang bayi mungil akan menyemarakkan hari-hari Anda.
Ketika hasil tes kehamilan menunjukkan tanda positif, sebuah babak baru tengah dimulai. Sebagai calon ibu, Anda memiliki tanggung-jawab menjaga kehamilan dengan baik. Tapi bukan berarti Anda harus bersikap berlebihan, karenanya siapkan diri dengan banyak meraup pengetahuan seputar kehamilan - bisa lewat buku atau sharing dengan teman.

Kapan Siap Hamil?
Idealnya, pasangan suami istri disarankan melakukan cek kesehatan sebelum kehamilan. Artinya, kehamilan memang diinginkan serta direncanakan. Tujuannya, agar bayi yang dilahirkan kelak berasal dari orangtua yang sehat dan siap memiliki anak. Oleh karenanya, ketika hasil tes kehamilan positif sebaiknya konsultasikan dengan dokter atau bidan.

Pemeriksaan selama hamil pada intinya bertujuan untuk menekan angka kematian ibu melahirkan dan menurunkan angka kematian bayi, serta mendeteksi dini seandainya terdapat gangguan, agar bisa segera diatasi. Antenatal care penting dilakukan mengingat perkembangan penyakit seringkali berjalan cepat. Selain itu, kesehatan ibu hamil dapat dipantau, misalnya kondisi jantung, tekanan darah, dan sebagainya.

Antenatal Care
Pengertian Antenatal Care /Asuhan antenatal adalah suatu program yang terencana berupa observasi, edukasi dan penanganan medik pada ibu hamil, untuk memperoleh suatu proses kehamilan dan persalinan yang aman dan memuaskan.

Sumber: dari sini

Tujuan Antenatal Care
• Memantau kemajuan kehamilan untuk memastikan kesehatan ibu dan tumbuh kembang janin.
• Meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik, mental dan sosial ibu dan janin.
• Mengenali secara dini adanya ketidaknormalan atau komplikasi yang mungkin terjadi selama hamil.
• Mempersiapkan persalinan cukup bulan, melahirkan dengan selamat ibu dan bayinya.
• Mempersiapkan ibu agar masa nifas berjalan normal dan pemberian ASI ekslusif.
• Mempersiapkan peran ibu dan keluarga dalam menerima kelahiran bayi agar dapat tumbuh kembang secara normal.

Kunjungan Ante Natal Care ( ANC )
1. Kunjungan antenatal care ( ANC ) sebaiknya dilakukan 4 kali selama kehamilan, yaitu :
• 1 kali pada trimester pertama, yaitu :
1. Membina hubungan saling percaya antara bidan dan ibu sehingga suatu mata rantai penyelamatan jiwa telah terbina jika diperlukan.
2. Mendeteksi masalah yang dapat diobati sebelum menjadi bersifat mengancam jiwa.
3. Mencegah masalah, seperti tetanus neonatorum, anemia defisiensi zat besi, penggunaan praktek tradisional yang merugikan.
4. Memulai persiapan persalinan dan kesiapan untuk menghadapi komplikasi.
5. Mendorong prilaku yang sehat ( nutrisi, latihan, dan kebersihan, istirahat dan sebagainya ).

• 1 kali pada trimester kedua ( sebelum minggu ke 28 ),yaitu
1. Sama seperti kunjungan pada trimester pertama.
2. Perlu kewaspadaan khusus mengenai pre eklampsia, pantauan tekanan darah, periksa protein urine dan gejala yang lainnya.

• 2 kali pada trimester ketiga, yaitu :
1. Sama seperti kunjungan sebelumnya.
2. Perlu adanya palpasi abdomen untuk mendeteksi adanya kehamilan ganda.
3. Deteksi kelainan letak atau kondisi lain yang memerlukan kelahiran di Rumah Sakit.

2. Asuhan Standar minimal 7T, yaitu
1) Timbang berat badan,
2) Mengukur Tekanan darah,
3) Ukur Tinggi fundus uteri (TFU),
a. Mengukur tinggi fundus uteri adalah untuk memantau tumbuh kembang janin.
b. Untuk mengetahui usia kehamilan.
c. Pada kehamilan diatas 20 minggu fundus uteri diukur dengan pita ukur (cm).
d. Jika usia kehamilan kurang dari 20 minggu menggunakan petunjuk-petunjuk badan.
4) Pemberian imunisasi TT lengkap,
a. TT1 dapat diberikan pada kunjungan ANC pertama.
b. TT2 diberikan 4 minggu setelah TT1, lama perlindungan 3 tahun.
c. TT3 diberikan 6 bulan setelah TT2, lama perlindungan 5 tahun.
d. TT4 diberikan 1 tahun setelah TT3, lama perlindungan 10 tahun.
e. TT5 diberikan 1 tahun setelah TT4, lama perlindungan 25 tahun / seumur hidup.
5) Pemberian Tablet fe,
1. Tablet Fe dapat diberikan setelah rasa mual hilang.
2. Pemberian minimal 90 tablet selama kehamilan.
3. Tablet Fe tidak boleh diminum bersama kopi atau teh.
4. Tablet Fe bisa diberikan secara bersamaan dengan vitamin C.
6) Tes terhadap penyakit menular seksual, dan
7) Temu wicara dalam rangka persiapan rujukan.

Sumber: dari sini


KUNJUNGAN / PEMERIKSAAN PERTAMA ANTENATAL CARE
1. Tujuan
- menentukan diagnosis ada/tidaknya kehamilan
- menentukan usia kehamilan dan perkiraan persalinan
- menentukan status kesehatan ibu dan janin
- menentukan kehamilan normal atau abnormal, serta ada/ tidaknya faktor risiko kehamilan
- menentukan rencana pemeriksaan/ penatalaksanaan selanjutnya
2. Anamnesis
• Identitas umum, perhatian pada usia ibu, status perkawinan dan tingkat pendidikan. Range usia reproduksi sehat dan aman antara 20-30 tahun. Pada kehamilan usia remaja, apalagi kehamilan di luar nikah, kemungkinan ada unsur penolakan psikologis yang tinggi. Tidak jarang pasien meminta aborsi. Usia muda juga faktor kehamilan risiko tinggi untuk kemungkinan adanya komplikasi obstetri seperti preeklampsia, ketuban pecah dini, persalinan preterm, abortus.
• Keluhan utama sadar/tidak akan kemungkinan hamil, apakah semata-mata ingin periksa hamil, atau ada keluhan / masalah lain yang dirasakan.
• Riwayat kehamilan sekarang / riwayat penyakit sekarang Ada/tidaknya gejala dan tanda kehamilan. Jika ada amenorea, kapan hari pertama haid terakhir, siklus haid biasanya berapa hari. Hal ini penting untuk memperkirakan usia kehamilan menstrual dan memperkirakan saat persalinan menggunakan Rumus Naegele (h+7 b-3 + x + 1mg) untuk siklus 28 + x hari. Ditanyakan apakah sudah pernah periksa kehamilan ini sebelumnya atau belum (jika sudah, berarti ini bukan kunjungan antenatal pertama, namun tetap penting untuk data dasar inisial pemeriksaan kita).
• Apakah ada keluhan / masalah dari sistem organ lain, baik yang berhubungan dengan perubahan fisiologis kehamilan maupun tidak.
3. Pemeriksaan Fisis Status generalis / pemeriksaan umum Penilaian keadaan umum, kesadaran, komunikasi/kooperasi. Tanda vital (tekanan darah, nadi, suhu, pernapasan), tinggi/berat badan. Kemungkinan risiko tinggi pada ibu dengan tinggi BAB V

Sumber: dari sini

Tujuh Manfaat Antenatal Care
1. Memastikan kehamilan
Melalui alat konvensional atau yang modern seperti ultrasonografi (USG), bidan atau dokter akan memastikan kehamilan Anda.

2. Apakah kehamilan berada di rahim?
Posisi kehamilan perlu diketahui sedini mungkin dengan USG, agar bila terjadi sesuatu dapat dilakukan tindakan sedini mungkin.

3. Mengetahui usia kehamilan
Penting diketahui untuk memperkirakan kapan perkiraan melahirkan.

4. Mengetahui perkembangan janin
Perkembangan janin dalam kandungan merupakan salah satu faktor penentu perkembangan mental intelektual selanjutnya.

5. Meneropong kelainan
Jika dicurigai ada kelainan janin, misalnya dapat dilakukan amniocenesis, yakni mengambil cairan ketuban (amnion) dan menganalisa kromosomnya.
6. Mengetahui posisi bayi
Dokter atau bidan dapat mengetahui posisi janin, terutama pada trimester 3. Misalnya bayi sungsang atau melintang. Tujuannya agar ibu dan bayi mendapat pertolongan yang tepat ketika saat persalinan tiba.
7. Penyakit kehamilan
Seiring bertambahnya usia kehamilan, beban organ tubuh ibu akan semakin bertambah. Beberapa gangguan yang mungkin muncul antara lain:
• Kadar hemoglobin (Hb) rendah
• Diabetes gestasional
• Pre-eklampsia/ eklampsia

Sumber: dari sini


Tanda bahaya pada kehamilan :
• Perdarahan vaginal
• Bengkak muka atau jari
• Nyeri kepala berat atau lama
• Penglihatan kabur
• Muntah terus2 an
• Demam
• Nyeri waktu kencing
• Keluar cairan banyak dari vagina
• Gerak anak bertambah atau hilang


Sumber: dari sini
Share:

Kehamilan Resiko Tinggi

Kehamilan resiko tinggi adalah kehamilan yang akan menyebabkan terjadinya bahaya dan komplikasi yang lebih besar baik terhadap ibu maupun terhadap janin yang dikandungnya selama masa kehamilan, melahirkan ataupun nifas bila dibandingkan dengan kehamilan persalinan dan nifas normal.

Secara garis besar, kelangsungan suatu kehamilan sangat bergantung pada keadaan dan kesehatan ibu, plasenta dan keadaan janin.
- Jika ibu sehat dan didalam darahnya terdapat zat-zat makanan dan bahan-bahan organis dalam jumlah yang cukup, maka pertumbuhan dan perkembangan bayi dalam kandungan akan berjalan baik.
- Dalam kehamilan, plasenta akan befungsi sebagai alat respiratorik, metabolik, nutrisi, endokrin, penyimpanan, transportasi dan pengeluaran dari tubuh ibu ke tubuh janin atau sebaliknya. Jika salah satu atau beberapa fungsi di atas terganggu, maka janin seperti “tercekik”, dan pertumbuhannya akan terganggu.
Demikian juga bila ditemukan kelainan pertumbuhan janin baik berupa kelainan bawaan ataupun - kelainan karena pengaruh lingkungan, maka pertumbuhan dan perkembangan janin dalam kandungan dapat mengalami gangguan.

Bagi kebanyakan wanita, proses kehamilan dan persalinan adalah proses yang dilalui dengan kegembiraan dan suka cita. Tetapi 5-10% dari kehamilan termasuk kehamilan dengan resiko tinggi, wanita dengan kehamilan resiko tinggi, mereka harus mempersiapkan diri dengan lebih memperhatikan perawatan kesehatannya dalam menghadapi kehamilan dengan resiko tinggi ini.

APAKAH YANG DIMAKSUD IBU HAMIL DENGAN RISIKO TINGGI ?
Yaitu Ibu Hamil yang mengalami risiko atau bahaya yang lebih besar pada waktu kehamilan maupun persalinan, bila dibandingkan dengan Ibu Hamil yang normal.

APAKAH FAKTOR RESIKO SEBELUM KEHAMILAN?
Sebelum hamil, seorang wanita bisa memiliki suatu keadaan yang menyebabkan meningkatnya resiko selama kehamilan. Selain itu, jika seorang wanita mengalami masalah pada kehamilan yang lalu, maka resikonya untuk mengalami hal yang sama pada kehamilan yang akan datang adalah lebih besar.

• Riwayat kehamilan dan persalinan yang sebelumnya kurang baik . (contoh: riwayat keguguran, perdarahan pasca kelahiran, lahir mati)
Jika seorang wanita pernah melahirkan bayi dengan berat badan lebih dari 5 kg, mungkin dia menderita diabetes. Jika selama kehamilan seorang wanita menderita diabetes, maka resiko terjadinya keguguran atau resiko kematian ibu maupun bayinya meningkat. Pemeriksaan kadar gula darah dilakukan pada wanita hamil ketika memasuki usia kehamilan 20-28 minggu.
Seorang wanita yang pernah melahirkan bayi prematur, memiliki resiko yang lebih tinggi untuk melahirkan bayi prematur pada kehamilan berikutnya. Seorang wanita yang pernah melahirkan bayi dengan berat badan kurang dari 1,5 kg, memiliki resiko sebesar 50% untuk melahirkan bayi prematur pada kehamilan berikutnya.
Seorang wanita yang 3 kali berturut-turut mengalami keguguran pada trimester pertama, memiliki resiko sebesar 35% unuk mengalami keguguran lagi.
Keguguran juga lebih mungkin terjadi pada wanita yang pernah melahirkan bayi yang sudah meninggal pada usia kehamilan 4-8 minggu atau pernah melahirkan bayi prematur.
Sebelum mencoba hamil lagi, sebaiknya seorang wanita yang pernah mengalami keguguran menjalani pemeriksaan untuk:
- kelainan kromosom atau hormon
- kelainan struktur rahim atau leher rahim
- penyakit jaringan ikat (misalnya lupus)
- reksi kekebalan pada janin (biasanya ketidaksesuaian Rh).
Jika penyebab terjadinya keguguran diketahui, maka dilakukan tindakan pengobatan.
Kematian di dalam kandungan atau kematian bayi baru lahir bisa terjadi akibat:
- Kelainan kromosom pada bayi
- Diabetes
- Penyakit ginjal atau pembuluh darah menahun
- Tekanan darah tinggi
- Penyalahgunaan obat
- Penyakit jaringan ikat pada ibu (misalnya lupus).

• Tinggi badan ibu hamil kurang dari 145 cm.
Seorang wanita yang memiliki tinggi badan kurang dari 145 cm, lebih mungkin memiliki panggul yang sempit. Selain itu, wanita tersebut juga memiliki resiko yang lebih tinggi untuk mengalami persalinan prematur dan melahirkan bayi yang sangat kecil.

• Ibu hamil yang kurus/berat badan kurang atau terlalu gemuk.
Seorang wanita yang pada saat tidak hamil memiliki berat badan kurang dari 50 kg, lebih mungkin melahirkan bayi yang lebih kecil dari usia kehamilan (KMK, kecil untuk masa kehamilan). Jika kenaikan berat badan selama kehamilan kurang dari 7,5 kg, maka resikonya meningkat sampai 30%.
Sebaliknya, seorang wanita gemuk lebih mungkin melahirkan bayi besar. Obesitas juga menyebabkan meningkatnya resiko terjadinya diabetes dan tekanan darah tinggi selama kehamilan.

• Usia ibu hamil kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun.
Anak perempuan berusia 15 tahun atau kurang lebih rentan terhadap terjadinya pre-eklamsi (suatu keadaan yang ditandai dengan tekanan darah tinggi, protein dalam air kemih dan penimbunan cairan selama kehamilan) dan eklamsi (kejang akibat pre-eklamsi). Mereka juga lebih mungkin melahirkan bayi dengan berat badan rendah atau bayi kurang gizi.
Wanita yang berusia 35 tahun atau lebih, lebih rentan terhadap tekanan darah tinggi, diabetes atau fibroid di dalam rahim serta lebih rentan terhadap gangguan persalinan. Diatas usia 35 tahun, resiko memiliki bayi dengan kelainan kromosom (misalnya sindroma Down) semakin meningkat. Pada wanita hamil yang berusia diatas 35 tahun bisa dilakukan pemeriksaan cairan ketuban (amniosentesis) untuk menilai kromosom janin.

• Sudah memiliki 4 anak atau lebih.
Seorang wanita yang telah mengalami kehamilan sebanyak 4 kali atau lebih, lebih mungkin mengalami:
- kontraksi yang lemah pada saat persalinan (karena otot rahimnya lemah)
- perdarahan setelah persalinan (karena otot rahimnya lemah)
- persalinan yang cepat, yang bisa menyebabkan meningkatnya resiko perdarahan vagina yang berat
- plasenta previa (plasenta letak rendah).

• Jarak antara dua kehamilan kurang dari 2 tahun.

• Ibu menderita anemia atau kurang darah.
• Perdarahan pada kehamilan ini.

• Tekanan darah yang meninggi dan sakit kepala hebat dan adanya bengkak pada tungkai.
Seorang wanita yang pernah mengalami pre-eklamsi atau eklamsi, kemungkinan akan mengalaminya lagi pada kehamilan berikutnya, terutama jika diluar kehamilan dia menderita tekanan darah tinggi menahun.

• Kelainan letak janin atau bentuk panggul ibu tidak normal.
Kelainan struktur pada organ reproduksi wanita (misalnya rahim ganda atau leher rahim yang lemah) bisa meningkatkan resiko terjadinya keguguran.
Untuk mengetahui adanya kelainan struktur, bisa dilakukan pembedahan diagnostik, USG atau rontgen.
Fibroid (tumor jinak) di dalam rahim bisa meningkatkan resiko terjadinya:
- kelahiran prematur
- gangguan selama persalinan
- kelainan letak janin
- kelainan letak plasenta
- keguguran berulang.

• Penyakit Herediter
Jika seorang wanita pernah melahirkan bayi dengan kelainan genetik atau cacat bawaan, biasanya sebelum merencanakan kehamilan berikutnya, dilakukan analisa genetik pada bayi dan kedua orangtuanya.

Jika seorang wanita pernah melahirkan bayi yang menderita penyakit hemolitik, maka bayi berikutnya memiliki resiko menderita penyakit yang sama. Penyakit ini terjadi jika darah ibu memiliki Rh-negatif, darah janin memiliki Rh-positif dan ibu membentuk antibodi untuk menyerang darah janin; antibodi ini menyebabkan kerusakan pada sel darah merah janin.
Pada kasus seperti ini, dilakukan pemeriksaan darah pada ibu dan ayah. Jika ayah memiliki 2 gen untuk Rh-positif, maka semua anaknya akan memiliki Rh-positif; jika ayah hanya memiliki 1 gen untuk Rh-positif, maka peluang anak-anaknya untuk memiliki Rh-positif adalah sebesar 50%.
Biasanya pada kehamilan pertama, perbedaan Rh antara ibu dengan bayinya tidak menimbulkan masalah, tetapi kontak antara darah ibu dan bayi pada persalinan menyebabkan tubuh ibu membentuk antibodi. Akibatnya, resiko penyakit hemolitik akan ditemukan pada kehamilan berikutnya.
Tetapi setelah melahirkan bayi dengan Rh-positif, biasanya pada ibu yang memiliki Rh-negatif diberikan immunoglobulin Rh-nol-D, yang akan menghancurkan antibodi Rh. Karena itu, penyakit hemolitik pada bayi jarang terjadi.

• Riwayat penyakit kronik
Keadaan kesehatan yang sangat penting adalah:
- Tekanan darah tinggi menahun
- Penyakit ginjal
- Diabetes
- Penyakit jantung yang berat
- Penyakit sel sabit
- Penyakit tiroid
- Lupus
- Kelainan pembekuan darah.
- Asma
- TBC

APAKAH FAKTOR RESIKO SELAMA KEHAMILAN?
Seorang wanita hamil dengan resiko rendah bisa mengalami suatu perubahan yang menyebabkan bertambahnya resiko yang dimilikinya.
Dia mungkin terpapar oleh teratogen (bahan yang bisa menyebabkan cacat bawaan), seperti radiasi, bahan kimia tertentu, obat-obatan dan infeksi; atau dia bias mengalami kelainan medis atau komplikasi yang berhubungan dengan kehamilan.

• Obat-obatan atau infeksi
Obat-obatan yang diketahui bisa menyebabkan cacat bawaan jika diminum selama hamil adalah:
- Alkohol
- Phenitoin
- Obat-obat yang kerjanya melawan asam folat (misalnya triamteren atau trimethoprim)
- Lithium
- Streptomycin
- Tetracyclin
- Talidomide
- Warfarin.
Infeksi yang bisa menyebabkan cacat bawaan adalah:
- Herpes simpleks
- Hepatitis virus
- Influenza
- Gondongan
- Campak Jerman (rubella)
- Cacar air (varisela)
- Sifilis
- Listeriosis
- Toksoplasmosis
- Infeksi oleh virus coxsackie atau sitomegalovirus.

• Merokok berbahaya bagi ibu dan janin yang dikandungnya, tetapi hanya sekitar 20% wanita yang berhenti merokok selama hamil.
Efek yang paling sering terjadi akibat merokok selama hamil adalah berat badan bayi yang rendah. Selain itu, wanita hamil yang merokok juga lebih rentan mengalami:
- komplikasi plasenta
- ketubah pecah sebelum waktunya
- persalinan prematur
- infeksi rahim.
Seorang wanita hamil yang tidak merokok sebaiknya menghindari asap rokok dari orang lain karena bisa memberikan efek yang sama terhadap janinnya. Cacat bawaan pada jantung, otak dan wajah lebih sering ditemikan pada bayi yang ibunya merokok. Merokok selama hamil juga bisa menyebabkan meningkatnya resiko terjadinya sindroma kematian bayi mendadak. Selain itu, anak-anak yang dilahirkan oleh ibu perokok bisa mengalami kekurangan yang sifatnya ringan dalam hal pertumbuhan fisik, perkembangan intelektual dan perilaku. Efek ini diduga disebabkan oleh karbon monoksida (yang menyebabkan berkurangnya pasokan oksigen ke jaringan tubuh) dan nikotin (yang merangsang pelepasan hormon yang menyebabkan pengkerutan pembuluh darah yang menuju ke plasenta dan rahim).

• Mengkonsumsi alkohol selama hamil bisa menyebabkan cacat bawaan. Sindroma alkohol pada janin merupakan salah satu akibat utama dari pemakaian alkohol selama hamil. Sindroma ini ditandai dengan:
- keterbelakangan pertumbuhan sebelum atau sesudah lahir
- kelainan wajah
- mikrosefalus (ukuran kepala lebih kecil), yang kemungkinan disebabkan oleh pertumbuhan otak yang dibawah normal
- kelainan perkembangan perilaku.
Sindroma alkohol pada janin seringkali menyebabkan keterbelakangan mental. Selain itu, alkohol juga bisa menyebabkan keguguran dan gangguan perilaku yang berat pada bayi maupun anak yang sedang tumbuh (misalnya perilaku antisosial dan kurang memperhatikan). Resiko terjadinya keguguran pada wanita hamil yang mengkonsumsi alkohol adalah 2 kali lipat, terutama jika wanita tersebut adalah peminum berat. Berat badan bayi yang dilahirkan berada di bawah normal, yaitu rata-rata 2 kg.
Suatu pemeriksaan laboratorium yang sensitif dan tidak memerlukan biaya besar, yaitu kromatografi, bisa digunakan untuk mengetahui pemakaian heroin, morfin, amfetamin, barbiturat, kodein, kokain, marijuana, metadon atau fenotiazin pada wanita hamil.
Wanita yang menggunakan obat suntik memiliki resiko tinggi terhadap:
- Anemia
- Bakteremia
- Endokarditis
- Abses kulit
- Hepatitis
- Flebitis
- Pneumonia
- Tetanus
- Penyakit menular seksual (termasuk AIDS).
Sekitar 75% bayi yang menderita AIDS, ibunya adalah pemakai obat suntik atau pramuria. Bayi-bayi tersebut juga memiliki resiko menderita penyakit menular seksual lainnya, hepatitis dan infeksi. Pertumbuhan mereka di dalam rahim kemungkinan mengalami kemunduran dan mereka bisa lahir prematur.
Kokain merangsang sistem saraf pusat, bertindak sebagai obat bius lokal dan menyebabkan pengkerutan pembuluh darah. Pembuluh darah yang mengkerut bisa menyebabkan berkurangnya aliran darah sehingga kadang janin tidak mendapatkan oksigen yang cukup.
Berkurangnya aliran darah dan oksigen bisa menyebabkan gangguan pertumbuhan berbagai organ dan biasanya menyebabkan cacat kerangka serta penyempitan sebagian usus.
Pemeriksaan air kemih untuk mengatahui adanya kokain biasanya dilakukan jika:
- seorang wanita hamil tiba-tiba menderita tekanan darah tinggi yang berat
- terjadi perdarahan akibat pelepasan plasenta sebelum waktunya
- terjadi kematian dalam kandungan yang sebabnya tidak diketahui.
31% dari wanita pemakai kokain mengalami persalinan prematur, 19% melahirkan bayi yang pertumbuhannya terhambat dan 15% mengalami pelepasan plasenta sebelum waktunya.
Jika pemakaian kokain dihentikan setelah trimester pertama, maka resiko persalinan prematur dan pelepasan plasenta sebelum waktunya tetap meningkat, tetapi pertumbuhan janinnya normal.

• Tekanan darah tinggi pada wanita hamil bisa disebabkan oleh kehamilan atau keadaan lain.
Tekanan darah tinggi di akhir kehamilan bisa merupakan ancaman serius terhadap ibu dan bayinya dan harus segera diobati.

• Jika seorang wanita hamil pernah menderita infeksi kandung kemih, maka dilakukan pemeriksaan air kemih pada awal kehamilan. Jika ditemukan bakteri, segera diberikan antibiotik untuk mencegah infeksi ginjal yang bisa menyebabkan persalinan prematur dan ketuban pecah sebelum waktunya.

• Infeksi vagina oleh bakteri selama hamil juga bisa menyebabkan persalinan prematur dan ketuban pecah sebelum waktunya. Untuk mencegah terjadinya hal tersebut, diberikan antibiotik.

• Penyakit yang menyebabkan demam (suhu lebih tinggi dari 39,4 derajat Celsius) pada trimester pertama menyebabkan meningkatnya kemungkinan terjadinya keguguran dan kelainan sistem saraf pada bayi. Demam pada trimester terakhir menyebabkan meningkatnya kemungkinan terjadinya persalinan prematur.

BAHAYA APA SAJA YANG DAPAT DITIMBULKAN AKIBAT IBU HAMIL DENGAN RISIKO TINGGI ?
- Bayi lahir belum cukup bulan.
- Bayi lahir dengan berat kahir rendah (BBLR).
- Keguguran (abortus).
- Persalinan tidak lancar / macet.
- Perdarahan sebelum dan sesudah persalinan.
- Janin mati dalam kandungan.
- Ibu hamil / bersalin meninggal dunia.
- Keracunan kehamilan/kejang-kejang.

BAGAIMANA MENGATASI KEHAMILAN DENGAN RESIKO TINGGI SECARA BIJAKSANA?
Diagnosa Ibu hamil dengan kehamilan resiko tinggi JANGANLAH diartikan dengan makna yang selalu negatif.
Dengan perawatan yang baik, 90-95% ibu hamil yang termasuk kehamilan dengan resiko tinggi dapat melahirkan dengan selamat dan mendapatkan bayi yang sehat.

APAKAH KEHAMILAN RISIKO TINGGI DAPAT DICEGAH ?
Kehamilan risiko tinggi dapat dicegah dan diatasi dengan baik bila gejalanya ditemukan sedini mungkin sehingga dapat dilakukan tindakan perbaikinya, dan kenyataannya, banyak dari faktor resiko ini sudah dapat diketahui sejak sebelum konsepsi terjadi.
Jadi semakin dini masalah dideteksi, semakin baik untuk memberikan penanganan kesehatan bagi ibu hamil maupun bayi. Juga harus diperhatikan bahwa pada beberapa kehamilan dapat mulai dengan normal, tetapi mendapatkan masalah kemudian.

BAGAIMANA PENCEGAHAN KEHAMILAN RISIKO TINGGI DAPAT DILAKUKAN ?
- Sangat penting bagi setiap ibu hamil untuk melakukan ANC (Antenatal Care) atau pemeriksaan kehamilan secara teratur, yang bermanfaat untuk memonitor kesehatan ibu hamil dan bayinya. Dengan memeriksakan kehamilan sedini mungkin dan teratur ke Posyandu, Puskesmas, Rumah Sakit, paling sedikit 4 kali selama masa kehamilan.
- Dengan mendapatkan imunisasi TT 2X.
- Bila ditemukan kelainan risiko tinggi pemeriksaan harus lebih sering dan lebih intensif.
- Makan makanan yang bergizi yaitu memenuhi 4 sehat 5 sempurna.
- Hindari rokok, alkohol, dll

APA YANG DAPAT DILAKUKAN SEORANG IBU UNTUK MENGHINDARI BAHAYA KEHAMILAN RISIKO TINGGI ?
- Dengan mengenal tanda-tanda kehamilan risiko tinggi.
- Segera ke Posyandu, Puskesmas atau Rumah Sakit terdekat bila ditemukan tanda-tanda kehamilan risiko tinggi.


Sumber: dari sini, sini dan sini
Share:

KEHAMILAN LEWAT WAKTU (POST TERM)

DEFINISI
Kehamilan umumnya berlangsung 40 minggu atau 280 hari dari hari pertama haid terakhir. Kehamilan aterm ialah usia kehamilan antara 38 sampai 42 minggu dan ini merupakan periode dimana terjadi persalinan normal. Kehamilan yang melewati 294 hari atau lebih dari 42 minggu lengkap disebut sebagai post term atau kehamilan lewat waktu.

ETIOLOGI
Etiologi pasti belum diketahui. Faktor yang dikemukakan adalah hormonal yaitu kadar progesterone tidak cepat turun walaupun kehamilan telah cukup bulan, sehingga kepekaan uterus terhadap oksotosin kurang. Faktor lain menurut Nwoso dan kawan-kawan adalah adanya perbedaan dalam rendahnya kadar cortisol pada darah bayi sehingga disimpulkan kerentanan akan stress merupakan faktor tidak timbulnya his, selain kurangnya air ketuban dan insufiensi plasenta.

DIAGNOSIS
1) Bila tanggal hari pertama haid terakhir dicatat dan diketahui wanita hamil, diagnosis tidak sukar.
2) Bila wanita tidak tahu, lup4 atau tidak ingat, atau sejak melahirkan yang lalu tidak dapat haid terus menjadi hamil, hal ini akan sukar memastikannya. Hanya dengan pemeriksaan antenatal yang teratur dapat diikuti tinggi dan naiknya fundus uteri, mulainya gerakan janin dan besarnya janin dapat membantu diagnosis.
3) Pemeriksaan berat badan ibu diikuti, kapan menjadi berkurang, begitu pula lingkaran perut dan jumlah air ketuban apakah berkurang.
4) Pemeriksaan rontgenologik
Dapat dijumpai pusat-pusat penulangan pada bagian distal femur, bagianproksimal tibia,os kuboid, diameter biparietal 9,8 cm atau lebih.
5) Ulhasonografi : ukuran diameter biparietal, gerakan janin dan jumlah air ketuban.
6) Pemeriksaansi tologik air ketuban:
Air ketuban diambil dengan amniosentesis baik transvaginal maupun transabdominal. Air ketuban akan bercampur lemak dari sel-sel kulit yang dilepas janin setelah kehamilan mencapai 36 minggu ke atas. Air ketuban yang diperoleh di pulas dengan sulfat biru Nil, maka sel-sel yang mengandung lemak akan berwarna jingga:
. Melebihi 10%: kehamilan di atas 36 minggu
. Melebihi 50%: kehamilan di atas 39 minggu
7) Amnioskopi : melihat derajat kekeruhan air ketuban, menurut wamanya karena dikeruhi mekoneum.
8) Kardiotokografi : mengawasi dan membaca denyut jantung janin, karena insufiensi plasenta.
9) Uji oksitosin (stress test) : yaitu dengan infus tetes oksitosin, dan diawasi reaksi janin terhadap kontraksi uterus. Jika ternyata reaksi janin kurang baik hal ini mungkinj anin akan berbahaya dalam kandungan.
10) Pemeriksaan kadar striol dalam urin.
11) Pemeriksaan pH darah kepala janin.
12) Pemeriksaas Histologi vagina.

TANDA-TANDA BAYI POST TERM :
. Biasanya lebih berat dari bayi matur
. Tulang dan sutura kepala lebih keras dari bayi matur
. Rambut lanugo hilang atau sangat kurang
. Verniks kaseosa di badan kurang
. Kuku-kuku panjang
. Rambut kepala agak tebal
. Kulit agak pucat dengan deskuama sel epitel.

PENGARUH TERHADAP IBU DAN JANIN
a) Terhadap ibu : persalinan post term dapat menyebabkan distosia karena
1) Aksi uterus tidak terkoordinasi
2) Janin besar
3) Moulding (moulage) kepala kurang
Maka akan sering dliumpai : partus lama, kesalahan letak, inersia uteri, distosia bahu dan perdarahan postpartum. Karena itu akan menaikkan angka morbiditas dan mortalitas.
b) Terhadap janin:
1) Jumlah kematian janin/bayi pada kehamilan 43 minggu 3 kali lebih besar dari kehamilan 40 minggu
2) Post term akan menambah bahaya padajanin
3) Pengaruh post term padajanin bervariasi : berat badanjanin tetap bertambah besar, tetap dan ada yang berkurang sesudah kehamilan 42 minggu. Ada pula yang bisa terjadi kematian janin dalam kandungan.

PENATALAKSANAAN
1) Setelah kehamilan lebih dari 40-42 minggu yang penting adalah monitoring janin sebaik-baiknya.
2) Apabila tidak ada tanda-tanda insufiensi plasenta, persalinan spontan dapat ditunggu dengan pengawasan ketat.
3) Lakukan pemeriksaan dalam untuk mengetahui kematangan serviks, kalau sudah matang boleh dilakukan induksi persalinan dengan atau tanpa emniotomi.
4) Bila disertai riwayat kehamilan yang lalu ada : kematian janin dalam rahim, hipertensi, pre-eklampsi dan ini adalah anak pertama karena infertilitas, pada kehamilan lebih dari 40-42 minggu, wanita dirawat di rumah sakit
5) Tindakan operasi seksio sesaria dapat dipertimbangkan pada indikasi :
~ Insufiensi plasenta dengan keadaan serviks belum matang
~ Pembukaan belum lengkap, persalinan lama dan terjadi tanda gawat janin
~ Pada primigavida tua, kematian janin dalam kandungan, preeklampsi, hipertensi menahun, anak berharga (infertilitas) dan kesalahan letak janin.
6) Pada persalinan pervagina harus diperhatikan :
~ Bahwa pertus lama akan sangat merugikan bayi
~ Bahwa janin post term kadang-kadang besar, kemungkinan disproporsi sefalo -pelvik dan distosia janin perlu dipertimbangkan
~ Bahwa janin post term lebih peka terhadap sedatif dan narkosa oleh karena itu anestesi konduksi paling baik
~ Bahwa perawatan neonatus post term perlu di bawah pengawasan dokter anak

DAFTAR PUSTAKA
Cunninghamm, F. Garry. 2005. Obstetri Williom. Jakarta: EGC
Mochtar, Rustam. 1990. Sinopsis Obstetri. Jakarta: EGC
Oxorn, Harry. L990. ILMU KEBIDANAN, Fisiologi don patologi persalinan. Jakarta: Yayasan Essentia Medica
wiknjosastro, Hanifa. 1992. Ilmu kebidanan.Jakarta: Yayasan Bina pustaka

sumber: dari sini
Share:

Infeksi Rubella ’Incar’ Kehamilan

Sebagaimana “anggota” TORCH lainnya (TORCH : Toksoplasma, Rubella, Cytomegalo Virus, Herpes), infeksi Rubella pada kehamilan dapat menyebabkan keguguran, bayi lahir mati atau gangguan terhadap janin.

Susahnya, sebanyak 50% lebih ibu yang mengalami Rubella tidak merasa apa-apa. Sebagian lain mengalami demam, tulang ngilu, kelenjar belakang telinga membesar dan agak nyeri. Setelah 1-2 hari muncul bercak-bercak merah seluruh tubuh yang hilang dengan sendirinya setelah beberapa hari. Dokter tentunya juga tidak curiga bila tidak mendapat laporan dari ibu.

Walaupun ibu tidak merasa apa-apa, tetapi akibatnya dapat fatal bagi janin. Berdasarkan data dari WHO, paling tidak 236.000 kasus Sindrom Rubella Kongenital terjadi setiap tahun di negara-negara berkembang dan dapat meningkat 10 kali lipat pada saat terjadi epidemi.

Tidak semua janin akan tertular. Jika ibu hamil terinfeksi saat usia kehamilannya <> 36 minggu.

SINDROM RUBELLA KONGENITAL

Untungnya, Sindrom Rubella Kongenital biasanya terjadi hanya bila ibu terinfeksi pada saat umur kehamilan masih kurang dari 4 bulan. Bila sudah lewat 5 bulan, jarang sekali terjadi infeksi.

Sindrom Rubella Kongenital merupakan gabungan dari beberapa abnormalitas fisik yang berkembang pada bayi sebagai akibat dari infeksi Rubella pada ibu hamil yang ditularkan pada janin melalui plasenta. CRS pertama kali dilaporkan tahun 1941 oleh Norman Greg, seorang dokter ahli mata dari Australia. Norman menemukan katarak bawaan pada bayi yang ibunya mengalami infeksi Rubella di awal kehamilannya. Selain katarak kongenital, gejala CRS dapat berupa gangguan pendengaran atau tuli, gangguan jantung & pembuluh darah, kerusakan otak, dan lain-lain. Disamping itu, bayi dengan CRS berisiko lebih besar untuk terkena Diabetes Melitus, gangguan tiroid, gangguan pencernaan dan gangguan syaraf (pan-encephalitis). Kondisi ini disebabkan oleh infeksi virus yang menetap atau karena respon autoimun.

MENCEGAH RUBELLA
Vaksinasi sejak kecil atau sebelum hamil. Untuk perlindungan terhadap serangan virus Rubella telah tersedia vaksin dalam bentuk vaksin kombinasi yang sekaligus digunakan untuk mencegah infeksi campak dan gondongan, dikenal sebagai vaksin MMR (Mumps, Measles, Rubella). Vaksin Rubella diberikan pada usia 15 bulan. Setelah itu harus mendapat ulangan pada umur 4-6 tahun. Bila belum mendapat ulangan pada umur 4-6 tahun, harus tetap diberikan umur 11-12 tahun, bahkan sampai remaja. Vaksin tidak dapat diberikan pada ibu yang sudah hamil.

Deteksi status kekebalan tubuh sebelum hamil. Sebelum hamil sebaiknya memeriksa kekebalan tubuh terhadap Rubella, seperti juga terhadap infeksi TORCH lainnya.

Jika anti-Rubella IgG saja yang positif, berarti Anda pernah terinfeksi atau sudah divaksinasi terhadap Rubella. Anda tidak mungkin terkena Rubella lagi, dan janin 100% aman.

Jika anti-Rubella IgM saja yang positif atau anti-Rubella IgM dan anti-Rubella IgG positif, berarti anda baru terinfeksi Rubella atau baru divaksinasi terhadap Rubella. Dokter akan menyarankan Anda untuk menunda kehamilan sampai IgM menjadi negatif, yaitu selama 3-6 bulan.

Jika anti-Rubella IgG dan anti-Rubella IgM negatif berarti anda tidak mempunyai kekebalan terhadap Rubella. Bila anda belum hamil, dokter akan memberikan vaksin Rubella dan menunda kehamilan selama 3-6 bulan. Bila anda tidak bisa mendapat vaksin, tidak mau menunda kehamilan atau sudah hamil, yang dapat dikerjakan adalah mencegah anda terkena Rubella

Bila sudah hamil padahal belum kebal, terpaksa anda berusaha menghindari tertular Rubella dengan cara berikut:
1. Jangan mendekati orang sakit demam
2. Jangan pergi ke tempat banyak anak berkumpul, misalnya Playgroup, sekolah TK dan SD
3. Jangan pergi ke tempat penitipan anak
Sayangnya, hal ini tidak dapat 100% dilaksanakan karena situasi atau karena orang lain yang terjangkit Rubella belum tentu menunjukkan gejala demam. Kekebalan terhadap Rubella diperiksa ulang lagi umur 17-20 minggu.
Bila ibu hamil mengalami Rubella, periksalah darah apa benar terkena Rubella.
Bila ibu sedang hamil mengalami demam disertai bintik-bintik merah, pastikan apakah benar Rubella dengan memeriksa IgG dan IgM Rubella setelah 1 minggu. Bila IgM positif, berarti benar infeksi Rubella baru.
Bila ibu hamil mengalami Rubella, pastikan apakah janin tertular atau tidak
Untuk memastikan apakah janin terinfeksi atau tidak maka dilakukan pendeteksian virus Rubella dengan teknik PCR (Polymerase Chain Reaction). Bahan pemeriksaan diambil dari air ketuban (cairan amnion). Pengambilan sampel air ketuban harus dilakukan oleh dokter ahli kandungan & kebidanan, dan baru dapat dilakukan setelah usia kehamilan lebih dari 22 minggu.

REFERENSI
Washington State of Health. Reporting and Surveillance Guidelines. Oktober 2002. www.co.jefferson.wa.us
US Department of Health and Human Service Center for Disease Control and Prevention (CDC). Morbidity and Mortality Weekly Report. July 2001; vol 50/No.RR-12 : 1-23

Sumber: dari sini

Artikel yang berhubungan:
Kantarak Kongenital
Infeksi TORCH Pada Kehamilan
Pemeriksaan TORCH bagi Ibu Hamil
Share:

MANFAAT ASAM FOLAT


Jangan abaikan vitamin yang satu ini. Bukan cuma penting buat ibu yang sedang hamil, tapi juga buat janin.

Asam folat, menurut Dr.Ir.Ali Khomsan dari Jurusan Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga, Fak.Pertanian IPB, Bogor, termasuk dalam golongan vitamin B. “Yang biasa dipasangkan dengan vitamin B-12. Jadi, orang yang mengalami defisiensi asam folat, biasanya juga akan kekurangan B-12.”

Sementara menurut Dr.Bambang Fajar,Sp.OG dari RS International Bintaro, Tangerang, asam folat adalah salah satu gugus yang berperan dalam pembentukan DNA pada proses erithropoesis. Yaitu, dalam pembentukan sel-sel darah merah atau eritrosit (butir-butir darah merah) dan perkembangan sistem syaraf.

Dalam keadaan normal, tubuh memerlukan 50 mikrogram asam folat. “Jika dalam sehari asam folat yang diserap tubuh kurang dari 50 mikrogram, maka dalam 4 bulan, ia akan terkena defisiensi asam folat ini.”

Kebutuhan asam folat akan meningkat selama kehamilan. “Bisa sampai 800 mikrogram hingga 1 miligram per harinya.” Selain itu, kebutuhan asam folat juga meningkat pada bayi, anak-anak, dan remaja, serta pada penderita penyakit tertentu, seperti kanker dan beberapa penyakit kulit.”


LAHIR PREMATUR
Kekurangan asam folat atau folic acid akan menyebabkan anemia megaloblastik. Anemia adalah suatu keadaan di mana jumlah eritrosit yang beredar atau konsentrasi hemoglobinnya mengalami penurunan. Akibatnya, ada penurunan transportasi oksigen dari paru ke jaringan perifer. Anemia bisa juga terjadi karena kekurangan zat besi ataupun B-12, yang disebut anemia perniciosa.

Gejala anemia megaloblastik, menurut Fajar, sama dengan anemia umumnya. “Tampak lesu, mudah lelah, kurang darah, cepat mengantuk, nafas pendek, peradangan pada lidah, mual, hilangnya nafsu makan, sakit kepala, pingsan, pucat, dan agak kekuningan.”

Untuk mengetahui penyebabnya, dilakukan tes laboratorium. “Melalui pemeriksaan darah tepi atau dari sumsum tulang, sehingga terlihat karakteristik butir-butir darahnya. Apakah karena defisiensi asam folat, zat besi, atau B-12.”

Kenyataannya hampir semua ibu hamil akan mengalami anemia, karena volume darah saat hamil meningkat rata-rata 40-50 persen, dibandingkan saat normal. Akibatnya, jumlah zat besi dan asam folat yang dibutuhkan untuk memproduksi sel darah merah akan meningkat pula secara bertahap. Pada kasus anemia ringan memang tidak menimbulkan dampak apa-apa pada janin.

“Tapi ketika sel-sel darah merah yang membawa oksigen semakin berkurang, maka janin pun akan terkena pula,” jelas Fajar. Anemia akut ini bisa mengakibatkan janin mengalami fetal neural tube defect (gangguan tulang belakang) dengan tidak terbentuknya sebagian tulang belakang janin. Akibatnya, bayi bisa mengalami kecacatan. Kecuali itu, anemia ini juga bisa mengakibatkan janin terkena BBLR (berat badan lahir rendah). “Hal tersebut bisa terjadi karena pada kasus anemia, butir-butir darahnya tidak ada sehingga aliran oksigen pada janin terganggu,” jelas Fajar.

Bukan tidak mungkin pula terjadi solutio plasentae (lepasnya plasenta dari rahim) yang mengakibatkan janin bisa meninggal, abortus spontan (keguguran) atau lahir prematur. Selain itu, bisa juga mengakibatkan kontraksi kurang bagus, kesulitan dalam persalinan, infeksi, dan uterus sulit berkontraksi.

Namun demikian, ibu hamil penderita anemia tidak harus selalu melahirkan lewat operasi. “Bila proses persalinannya tak kunjung maju, barulah dilakukan caesar.” Tetapi, bila berjalan lancar, walau ia menderita anemia, persalinan bisa dilakukan secara normal.

TERAPI
Cara memperbaikinya, menurut Fajar, sangat mudah. “Kalau si ibu menderita anemia megaloblastik, berarti ia harus mengkonsumsi asam folat yang cukup. Lakukan diet makanan yang kaya asam folat agar konsumsi zat tersebut terpenuhi, selain dibantu dengan tablet asam folat itu sendiri. Minimal 1-5 miligram per hari.”

Asam folat banyak terdapat dalam organ tubuh hewan, semacam hati. Juga dalam sayuran hijau seperti bayam, asparagus, brokoli, serta buah-buahan. “Nah, ini bedanya dengan vitamin B-12. Vitamnin B-12 banyak terdapat dalam produk hewan, tapi tidak ada dalam nabati.”

Tapi, lanjutnya, sangat sulit jika hanya mengandalkan dari makanan yang dikonsumsi sementara kebutuhan asam folat cukup tinggi. “Mau tak mau harus dibantu dengan tablet asam folat.” Tak heran, jika asam folat selalu diberikan di awal kehamilan. Tujuannya untuk mencegah sejak dini.

Apalagi, ujar Ali Khomsan, asam folat sangat rentan terhadap pemanasan yang tinggi. “Untuk mengoptimalkan asam folat, sebaiknya jangan memasak sayuran terlalu matang. Bisa saja dengan cara menumis. Baik juga jika dilakukan dengan cara dilalap. Hanya, hati-hati jika memakan lalapan sayuran mentah. Cuci dengan bersih, sehingga telur-telur cacing yang biasa ikut menempel di daun sayuran bisa hilang. Lain dengan buah-buahan yang bisa dimakan tanpa dimasak.”

Untuk olahan hewan, semacam daging atau hati, memang susah kalau tidak dimasak matang. Tapi setidaknya, olahan hewan kualitasnya biasanya lebih tinggi, sehingga daya serapnya juga lebih baik.


Saran Bagi Penderita

* Harus cukup mengkonsumsi makanan sumber asam folat, seperti sayuran hijau, buah-buhan, atau organ-organ hewan.

* Jika anemianya parah, hati-hati dalam berdiet. Laksanakan perintah dokter untuk mengkonsumsi makanan tambahan. Jangan menghentikannya, meskipun Anda mulai merasa baik.

* Berisitirahatlah sebanyak mungkin, karena anemia umumnya menyebabkan kelelahan berat. Sehingga untuk berikutnya bisa melakukan aktivitas dengan normal

Sumber: dari sini




Share:

INFEKSI TORCH PADA KEHAMILAN

TORCH adalah istilah untuk menggambarkan gabungan dari empat jenis penyakit infeksi yaitu TOxoplasma, Rubella, Cytomegalovirus dan Herpes. Keempat jenis penyakti infeksi ini, sama-sama berbahaya bagi janin bila infeksi diderita oleh ibu hamil. Kini, diagnosis untuk penyakit infeksi telah berkembang antar lain ke arah pemeriksaan secara imunologis. Prinsip dari pemeriksaan ini adalah deteksi adanya zat anti (antibodi) yang spesifik taerhadap kuman penyebab infeksi tersebut sebagai respon tubuh terhadap adanya benda asing (kuman. Antibodi yang terburuk dapat berupa Imunoglobulin M (IgM) dan Imunoglobulin G (IgG)
TOXOPLASMA
Infeksi Toxoplasma disebabkan oleh parasit yang disebut Toxoplasma gondi. Pada umumnya, infeksi Toxoplasma terjadi tanpa disertai gejala yang spesifik. Kira-kira hanya 10-20% kasus infeksi Toxoplasma yang disertai gejala ringan, mirip gejala influenza, bisa timbul rasa lelah, malaise, demam, dan umumnya tidak menimbulkan masalah. Infeksi Toxoplasma berbahaya bila terjadi saat ibu sedang hamil atau pada orang dengan sistem kekebalan tubuh terganggu (misalnya penderita AIDS, pasien transpalasi organ yang mendapatkan obat penekan respon imun). Jika wanita hamil terinfeksi Toxoplasma maka akibat yang dapat terjadi adalah abortus spontan atau keguguran (4%), lahir mati (3%) atau bayi menderita Toxoplasmosis bawaan. pada Toxoplasmosis bawaan, gejala dapat muncul setelah dewasa, misalnya kelainan mata dan telinga, retardasi mental, kejang-kejang dan ensefalitis.
Diagnosis Toxoplasmosis secara klinis sukar ditentukan karena gejala-gejalanya tidak spesifik atau bahkan tidak menunjukkan gejala (sub klinik). Oleh karena itu, pemeriksaan laboratorium mutlak diperlukan untuk mendapatkan diagnosis yang tepat. Pemeriksaan yang lazim dilakukan adalah Anti-Toxoplasma IgG, IgM dan IgA, serta Aviditas Anti-Toxoplasma IgG. Pemeriksaan tersebut perlu dilakukan pada orang yang diduga terinfeksi Toxoplasma, ibu-ibu sebelum atau selama masa hamil (bila hasilnya negatif pelu diulang sebulan sekali khususnya pada trimester pertma, selanjutnya tiap trimeter), serta bayi baru lahir dari ibu yang terinfeksi Toxoplasma.
RUBELLA
Infeksi Rubella ditandai dengan demam akut, ruam pada kulit dan pembesaran kelenjar getah bening. Infeksi ini disebabkan oleh virus Rubella, dapat menyerang anak-anak dan dewasa muda. Infeksi Rubella berbahaya bila tejadi pada wanita hamil muda, karena dapat menyebabkan kelainan pada bayinya. Jika infeksi terjadi pada bulan pertama kehamilan maka risiko terjadinya kelainan adalah 50%, sedangkan jika infeksi tejadi trimester pertama maka risikonya menjadi 25% (menurut America College of Obstatrician and Gynecologists, 1981). Tanda tanda dan gejala infeksi Rubella sangat bervariasi untuk tiap individu, bahkan pada beberapa pasien tidak dikenali, terutama apabila ruam merah tidak tampak. Oleh Karena itu, diagnosis infeksi Rubella yang tepat perlu ditegakkan dengan bantuan pemeriksaan laboratorium. Pemeriksaan Laboratorium yang dilakukan meliputi pemeriksaan Anti-Rubella IgG dana IgM. Pemeriksaan Anti-rubella IgG dapat digunakan untuk mendeteksi adanya kekebalan pada saat sebelum hamil. Jika ternyata belum memiliki kekebalan, dianjurkan untuk divaksinasi. Pemeriksaan Anti-rubella IgG dan IgM terutama sangat berguna untuk diagnosis infeksi akut pada kehamilan <>
CYTOMEGALOVIRUS (CMV)
Infeksi CMV disebabkan oleh virus Cytomegalo, dan virus ini temasuk golongan virus keluarga Herpes. Seperti halnya keluarga herpes lainnya, virus CMV dapat tinggal secara laten dalam tubuh dan CMV merupakan salah satu penyebab infeksi yang berbahaya bagi janin bila infeksi yang berbahaya bagi janin bila infeksi terjadi saat ibu sedang hamil. Jika ibu hamil terinfeksi. maka janin yang dikandung mempunyai risiko tertular sehingga mengalami gangguan misalnya pembesaran hati, kuning, pekapuran otak, ketulian, retardasi mental, dan lain-lain. Pemeriksaan laboratorium sangat bermanfaat untuk mengetahui infeksi akut atau infeski berulang, dimana infeksi akut mempunyai risiko yang lebih tinggi. Pemeriksaan laboratorium yang silakukan meliputi Anti CMV IgG dan IgM, serta Aviditas Anti-CMV IgG.

HERPES SIMPLEKS TIPE II
Infeksi herpes pada alat genital (kelamin) disebabkan oleh Virus Herpes Simpleks tipe II (HSV II). Virus ini dapat berada dalam bentuk laten, menjalar melalui serabut syaraf sensorik dan berdiam diganglion sistem syaraf otonom.
Bayi yang dilahirkan dari ibu yang terinfeksi HSV II biasanya memperlihatkan lepuh pada kulit, tetapi hal ini tidak selalu muncul sehingga mungkin tidak diketahui. Infeksi HSV II pada bayi yang baru lahir dapat berakibat fatal (Pada lebih dari 50 kasus). Pemeriksaan laboratorium, yaitu Anti-HSV II IgG dan Igm sangat penting untuk mendeteksi secara dini terhadap kemungkinan terjadinya infeksi oleh HSV II dan mencaegah bahaya lebih lanjut pada bayi bila infeksi terjadi pada saat kehamilan.

Infeksi TORCH yang terjadi pada ibu hamil dapt membahayakan janin yang dikandungnya. Pada infeksi TORCH, gejala klinis yang ada searing sulit dibedakan dari penyakit lain karena gejalanya tidak spesifik. Walaupun ada yang memberi gejala ini tidak muncul sehingga menyulitkan dokter untuk melakukan diagnosis. Oleh karena itu, pemeriksaan laboratorium sangat diperlukan untuk membantu mengetahui infeksi TORCH agar dokter dapat memberikan penanganan atau terapi yang tepat.

Panel TORCH
● Anti Toxoplasma IgG dan IgM
● Anti Rubella IgG dan IgM
● Anti CMV IgG dan IgM
● Anti HSV II IgG dan IgM

Sumber : dari sini
Artikel yang berhubungan:
Share:

KEMATIAN JANIN DALAM KANDUNGAN (IUFD)

A. Pengertian
Adalah keadaan tidak adanya tanda-tanda kehidupan janin dalam kandungan. Kematian janin dalam kandungan (KJDK) atau intra uterine fetal deadth (IUFD), sering dijumpai baik pada kehamilan dibawah 20 minggu maupun sesudah kehamilan 20 minggu
• Sebelum 20 minggu :
Kematian janin dapat terjadi dan biasanya berakhir dengan abortus. Bila hasil konsepsi yang sudah mati tidak dikeluarkan dan tetap tinggal dalam rahim disebut missed abortion.
• Sesudah 20 minggu :
Biasanya ibu telah merasakan gerakan janin sejak kehamilan 20 minggu dan seterusnya. Apabila wanita tidak merasakan gerakan janin dapat disangka terjadi kematian dalam rahim.


B. Etiologi
1. Perdarahan : plasenta previa dan solusio placenta
2. Pre eklampsi dan eklampsi
3. Penyakit-penyakit kelainan darah
4. Penyakit-penyakit infeksi dan penyakit menular
5. Penyakit-penyakit saluran kencing : bakteriuria, peelonefritis, glomerulonefritis dan payah ginjal
6. Penyakit endokrin : diabetes melitus, hipertiroid
7. Malnutrisi dan sebagainya.

Diagnosis :
1. Anamnesis
Ibu tidak merasakan gerakan janin dalam beberapa hari, atau gerakan janin sangat berkurang. Ibu merasakan perutnya tidak bertambah besar, bahkan bertambah kecil atau kehamilan tidak seperti biasanya. Atau wanita belakangan ini merasakan perutnya sering menjadi keras dan merasakan sakit seperti mau melahirkan.
2. Inspeksi
Tidak terlihat gerakan-gerakan janin, yang biasanya dapat terlihat terutama pada ibu yang kurus.
3. Palpasi
Tinggi fundus > rendah dari seharusnya tua kehamilan, tidak teraba gerakanan janin. Dengan palpasi yang teliti, dapat dirasakan adanya krepitasi pada tulang kepala janin.
4. Auskultasi
Baik memamakai setetoskop monoral maupun dengan Deptone akan terdengar DJJ.
5. Reaksi kehamilan
Reaksi kehamilan baru negatif setelah beberapa minggu janin mati dalam kandungan.
6. Rontgen Foto Abdomen
Adanya akumulasi gas dalam jantung dan pembuluh darah besar janin
Tanda Nojosk : adanya angulasi yang tajam tulang belakang janin.
Tanda Gerhard : adanya hiperekstensi kepala tulang leher janin
Tanda Spalding : overlaping tulang-tulang kepala (sutura) janin
Disintegrasi tulang janin bila ibu berdiri tegak
Kepala janin kelihatan seperti kantong berisi benda padat.
7. Ultrasonografi
Tidak terlihat DJJ dan gerakan-gerakan janin.

Penanganan
- Bila disangka telah terjadi kematian janin dalam rahim, tidak usah terburu-buru bertindak, sebaiknya diobservasi dulu dalam 2-3 minggu untuk mencapai kepastian diagnosis.
- Biasanya selama masih menunggu ini, 70-90% akan terjadi persalinan yang spontan.
- Bila setelah 3 minggu kematian janin dalam kandungan atau 1 minggu setelah didiagnosis, partus belum mulai, maka wanita harus dirawat agar dapat dilakukan induksi partus.
- Induksi partus dapat dimulai dengan pemberian estrogen untuk mengurangi efek progesteron atau langsung dengan pemberian oksitoxsin drip, dengan atau tanpa amniotomi.

Pengaruh Terhadap Ibu
Kematian janin dalam kandungan 3-4 minggu, biasanya tidak membahayakan ibu. Setelah lewat 4 minggu maka kemungkinan terjadinya kelainan darah (hipo fibrigenemia) akan lebih besar. Karena itu pemeriksaan pembekuan darah harus diakukan setiap minggu setelah diagnosis ditegakkan. Bila terjadi hipofibrinogenemia. Bahayanya adalah perdarahan post partum. Terapinya adalah dengan pemberian darah segar atau pemberian fibrinogen.

C. Komplikasi
1. Trauma emosional yang berat terjadi bila waktu antara kematian janin dan persalinan cukup bulan.
2. Dapat terjadi infeksi bila ketuban pecah.
3. Dapat terjadi koagulasi bila kematian janin berlangsung > 2 minggu.

D. Penanganan
1. Periksa TTV
2. Periksa radiologi
3. USG
4. Berikan dukungan mental pada pasien
5. Pilih cara persalinan dengan induksi/ekspektatif.
6. Jika ersalinan tidak terjadi dalam 2 minggu, trombosit menurun dan serviks belum matang, matangkan servik dengan misoprostol.
- Tepatkan misoprostol 25 mcg di puncak vagina, dapat diulangi sesudah 6 jam.
- Jika tidak ada respon sesudah 2x 25 mcg isoprostol naikkan dosis menjadi 50 mcg setiap 6 jam.

sumber: dari sini
Share:

Ketuban Pecah Dini

Definisi
Ketuban pecah dini (KPD) didefinisikan sebagai pecahnya ketuban sebelum waktunya melahirkan. Hal ini dapat terjadi pada akhir kehamilan maupun jauh sebelum waktunya melahirkan. KPD preterm adalah KPD sebelum usia kehamilan 37 minggu. KPD yang memanjang adalah KPD yang terjadi lebih dari 12 jam sebelum waktunya melahirkan.
Kejadian KPD berkisar 5-10% dari semua kelahiran, dan KPD preterm terjadi 1% dari semua kehamilan. 70% kasus KPD terjadi pada kehamilan cukup bulan. KPD merupakan penyebab kelahiran prematur sebanyak 30%.
Gambar 1. Ketuban Pecah
Penyebab
Pada sebagian besar kasus, penyebabnya belum ditemukan. Faktor yang disebutkan memiliki kaitan dengan KPD yaitu riwayat kelahiran prematur, merokok, dan perdarahan selama kehamilan. Beberapa faktor risiko dari KPD :
  1. Inkompetensi serviks (leher rahim)
  2. Polihidramnion (cairan ketuban berlebih)
  3. Riwayat KPD sebelumya
  4. Kelainan atau kerusakan selaput ketuban
  5. Kehamilan kembar
  6. Trauma
  7. Serviks (leher rahim) yang pendek (<25mm)>
  8. Infeksi pada kehamilan seperti bakterial vaginosis
Gambar 2. Inkompetensi leher Rahim
Tanda dan Gejala
Tanda yang terjadi adalah keluarnya cairan ketuban merembes melalui vagina. Aroma air ketuban berbau manis dan tidak seperti bau amoniak, mungkin cairan tersebut masih merembes atau menetes, dengan ciri pucat dan bergaris warna darah. Cairan ini tidak akan berhenti atau kering karena terus diproduksi sampai kelahiran. Tetapi bila Anda duduk atau berdiri, kepala janin yang sudah terletak di bawah biasanya "mengganjal" atau "menyumbat" kebocoran untuk sementara.
Demam, bercak vagina yang banyak, nyeri perut, denyut jantung janin bertambah cepat merupakan tanda-tanda infeksi yang terjadi.
Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan secara langsung cairan yang merembes tersebut dapat dilakukan dengan kertas nitrazine, kertas ini mengukur pH (asam-basa). pH normal dari vagina adalah 4-4,7 sedangkan pH cairan ketuban adalah 7,1-7,3. Tes tersebut dapat memiliki hasil positif yang salah apabila terdapat keterlibatan trikomonas, darah, semen, lendir leher rahim, dan air seni. Pemeriksaan melalui ultrasonografi (USG) dapat digunakan untuk mengkonfirmasi jumlah air ketuban yang terdapat di dalam rahim.
Komplikasi KPD
Komplikasi paling sering terjadi pada KPD sebelum usia kehamilan 37 minggu adalah sindrom distress pernapasan, yang terjadi pada 10-40% bayi baru lahir. Risiko infeksi meningkat pada kejadian KPD. Semua ibu hamil dengan KPD prematur sebaiknya dievaluasi untuk kemungkinan terjadinya korioamnionitis (radang pada korion dan amnion). Selain itu kejadian prolaps atau keluarnya tali pusar dapat terjadi pada KPD.
Risiko kecacatan dan kematian janin meningkat pada KPD preterm. Hipoplasia paru merupakan komplikasi fatal yang terjadi pada KPD preterm. Kejadiannya mencapai hampir 100% apabila KPD preterm ini terjadi pada usia kehamilan kurang dari 23 minggu.
Gambar 3. Keluarnya Tali Pusar
Penanganan Ketuban Pecah di Rumah
  1. Apabila terdapat rembesan atau aliran cairan dari vagina, segera hubungi dokter atau petugas kesehatan dan bersiaplah untuk ke Rumah Sakit
  2. Gunakan pembalut wanita (jangan tampon) untuk penyerapan air yang keluar
  3. Daerah vagina sebaiknya sebersih mungkin untuk mencegah infeksi, jangan berhubungan seksual atau mandi berendam
  4. Selalu membersihkan dari arah depan ke belakang untuk menghindari infeksi dari dubur
  5. Jangan coba melakukan pemeriksaan dalam sendiri
Terapi
Apabila terjadi pecah ketuban, maka segeralah pergi ke rumah sakit. Dokter kandungan akan mendiskusikan rencana terapi yang akan dilakukan, dan hal tersebut tergantung dari berapa usia kehamilan dan tanda-tanda infeksi yang terjadi. Risiko kelahiran bayi prematur adalah risiko terbesar kedua setelah infeksi akibat ketuban pecah dini. Pemeriksaan mengenai kematangan dari paru janin sebaiknya dilakukan terutama pada usia kehamilan 32-34 minggu. Hasil akhir dari kemampuan janin untuk hidup sangat menentukan langkah yang akan diambil.
Kontraksi akan terjadi dalam waktu 24 jam setelah ketuban pecah apabila kehamilan sudah memasuki fase akhir. Semakin dini ketuban pecah terjadi maka semakin lama jarak antara ketuban pecah dengan kontraksi. Jika tanggal persalinan sebenarnya belum tiba, dokter biasanya akan menginduksi persalinan dengan pemberian oksitosin (perangsang kontraksi) dalam 6 hingga 24 jam setelah pecahnya ketuban. Tetapi jika memang sudah masuk tanggal persalinan dokter tak akan menunggu selama itu untuk memberi induksi pada ibu, karena menunda induksi bisa meningkatkan resiko infeksi.

Apabila paru bayi belum matang dan tidak terdapat infeksi setelah kejadian KPD, maka istirahat dan penundaan kelahiran (bila belum waktunya melahirkan) menggunakan magnesium sulfat dan obat tokolitik. Apabila paru janin sudah matang atau terdapat infeksi setelah kejadian KPD, maka induksi untuk melahirkan mungkin diperlukan.
Penggunaan steroid untuk pematangan paru janin masih merupakan kontroversi dalam KPD. Penelitan terbaru menemukan keuntungan serta tidak adanya risiko peningkatan terjadinya infeksi pada ibu dan janin. Steroid berguna untuk mematangkan paru janin, mengurangi risiko sindrom distress pernapasan pada janin, serta perdarahan pada otak.
Penggunaan antibiotik pada kasus KPD memiliki 2 alasan. Yang pertama adalah penggunaan antibiotik untuk mencegah infeksi setelah kejadian KPD preterm. Dan yang kedua adalah berdasarkan hipotesis bahwa KPD dapat disebabkan oleh infeksi dan sebaliknya KPD preterm dapat menyebabkan infeksi. Keuntungan didapatkan pada wanita hamil dengan KPD yang mendapatkan antibiotik yaitu, proses kelahiran diperlambat hingga 7 hari, berkurangnya kejadian korioamnionitis serta sepsis neonatal (infeksi pada bayi baru lahir).
Pencegahan
Beberapa pencegahan dapat dilakukan namun belum ada yang terbukti cukup efektif. Mengurangi aktivitas atau istirahat pada akhir triwulan kedua atau awal triwulan ketiga dianjurkan.

Sumber: dari sini
Share:

recent posts

Popular Posts

Labels

Recent Posts