Showing posts with label [Farmakoterapi] Analgesik-Antipirektik. Show all posts
Showing posts with label [Farmakoterapi] Analgesik-Antipirektik. Show all posts

Heparin

[ Index Informasi Obat ]
Deskripsi
- Nama & Struktur Kimia : Heparinum
- Sifat Fisikokimia : Serbuk higroskopik, amorf, berwarna putih atau pucat. Larut dalam 20 bagian air.
- Keterangan : Larutan 1% dalam air mempunyai pH : 5.5 - 8.0

Golongan/Kelas Terapi
Obat Yang mempengaruhi darah

Nama Dagang
- Hico - Inviclot - Thrombogel (Thrombogel) - Heparin Sodium B Braun

Indikasi

Profilaksis dan terapi pada disorder tromboembolik.

Dosis, Cara Pemberian dan Lama Pemberian

Untuk terapi tromboembolism vena : dosis yang diberikan melalui i.v : 5000 - 10000 unit diikuti dengan infus i.v kontinyu, 1000-2000 unit/jam atau injeksi sub kutan 15000 unit setiap 12 jam.

Untuk profilaksis tromboembolism vena post operasi : 5000 unit, diberikan secara sub kutan, 2 jam sebelum operasi, kemudian setiap 8-12 jam selama 7 hari sampai pasien keluar dari rumah sakit.

Dosis yang sama diberikan untuk mencegah tromboembolism pada wanita hamil pada wanita dengan riwayat trombosis vena atau embolism paru-paru, dosis mungkin ditingkatkan menjadi 10000 unit setiap 12 jam setelah trimester ke tiga.

Untuk penanganan angina tidak stabil atau embolism arterial periferm heparin diberikan melalui infus i.v kontinyu dengan dosis yang sama dengan dosis rekomendasi untuk terapi tromboembolism.

Dosis untuk pencegahan oklusi arteri koroner setelah terapi infark miokardiak adalah 5000 unit diberikan secara i.v diikuti 1000 unit/jam; dosis 12500 unit, sub kutan setiap 12 jam selama 10 hari untuk mencegah terjadinya trombosis.

Farmakologi

Bereaksi dengan thromboplastin dan membentuk persenyawaan komplek antithromboplastin yang menghalangi terbentuknya thrombin dari prothrombin.

Onset kerja antikoagulasi : melalui rute i.v , sub kutan : ~20-30 menit.

Absorpsi : oral, rektal, diabsorpsi baik malalui semua rute pemberian.

Distribusi : tidak melalui plasenta, tidak didistribusikan ke dalam air susu.

Metabolisme : melalui hati, mungkin mengalami metabolisme sebagian pada sistem retikuloendoethelial.

T½ eliminasi ; rata-rata 1.5 jam, rentang 1-2 jam, dipengaruhi oleh obesitas, fungsi ginjal, fungsi hati, adanya tumor, embolism pulmonari, dan infeksi.

Ekskresi : melalui urin (jumlah kecil dalam bentuk obat tidak berubah).

Stabilitas Penyimpanan

Heparin harus disimpan dalam suhu kamar dan dihindari dari penyimpanan beku dan suhu >40°C.

Kontraindikasi

Hipersensitifitas terhadap heparin atau komponen lain dalam sediaan. Semua gangguan perdarahan atau risiko perdarahan : gangguan koagulasi, hemofilia, trombositopenia, penyakit hati berat, ulkus peptikum, perdarahan intrakranial, aneurisma serebral, karsinoma visceral, abortus, retinopati perdarahan hemoroid, tuberculosis aktif, endokarditis.

Efek Samping

Sakit dada, vasospasmus, syok hemoragi, demam, sakit kepala, kedinginan,urtikaria, alopesia, dysesthesia pedis, purpura, ekzema, nekrosis kutan, plak erithemathosus, hiperkalemia, hiperlipidemia, mual, muntah, konstipasi, hemorage, ditemukan darah pada urin, epistaksis, hemoragi adrenal, hemoragi retriperitonial, trombositopenia, peningkatan enzim SGOT, SGPT, ulserasi, nekrosis kutan yang disebabkan oleh injeksi sub kutan, neuropati perifer, osteoporosis, konjungtivitis, hemoptisis, hemoragi pulmonari, asma, artritis, rinitis, bronkospasma, reaksi alergi, reaksi anafilaktik.

Interaksi


- Dengan Obat Lain :

Risiko pendarahan berhubungan dengan heparin dapat ditingkatkan dengan antikoagulan oral (warfarin), trombolitik, dekstran dan obat yang mempengaruhi fungsi platelet (misalnya aspirin, obat antiinflamasi non steroid, dipiridamo, tiklopidin, klopidogrel, antagonis IIb/IIIa.Namun heparin masih digunakan bersamaan dengan terapi trombolitik atau pada awal terapi dengan warfarin untuk memastikan efek antikoagulan dan melindungi kemungkinan hiperkoagulasi transien. Nitrogliserin iv mungkin menurunkan efek antikoagulan heparin.

- Dengan Makanan : Hindari cat's claw, dong quai, teh hijau, bawang putih,ginkgo karena akan menambah aktivitas antiplatelet.

Pengaruh


- Terhadap Kehamilan : Faktor resiko : C


- Terhadap Ibu Menyusui : Heparin tidak didistribusi ke dalam air susu


- Terhadap Anak-anak : -


- Terhadap Hasil Laboratorium : Meningkatkan tiroksin (S), meningkatkan prothrombin time (PT), meningkatkan activated partial thromboplastin time (aPPT)


Parameter Monitoring

Jumlah platelet, hemoglobin, hematokrit, tanda-tanda pendarahan

Bentuk Sediaan

Injeksi IV, Jelly (Sediaan Kombinasi untuk Pengobatan Topikal)

Peringatan

1.Tempat suntikan : di dinding perut atau beberapa tempat daerah iliaka, gunakan jarum sangat halus, semprit tuberkulin dan lakukan penekanan selama 5 menit untuk mengurangi kemungkinan perdarahan.

2. Hati-hati agar heparin jangan tertinggal pada tempat suntikan. Cara pemberian ini tidak menimbulkan perdarahan spontan, tidak diperlukan pemantauan (monitoring) efek antikoagulan.

3. Harus hati-hati pada penderita dengan riwayat alergi, harus dilakukan tes pendahuluan dengan dosis tidak melebihi 100 IU.

4. Jangan suntik intramuskulus, berisiko iritasi, pendarahan lokal dan hematoma, sedang absorpsi tidak dapat diandalkan. Pemberian intravena hanya boleh dilakukan bila tersedia alat pemantau efek antikoagulan.

5. Harus dilakukan pemeriksaan masa pembekuan darah dan jumlah trombosit.

6. Ada resiko perdarahan spontan selama pengobatan pada usia lanjut, penderita insufisiensi ginjal, jantung.

7. Hindarkan obat berisiko ulkus lambung, menurunkan perlekatan trombosit (adhesiveness).

8. Hentikan heparin bila pada minggu kedua jumlah trombosit menurun diakibatkan peningkatan fibrinogenesis intravaskular.

Kasus Temuan Dalam Keadaan Khusus

-

Informasi Pasien

-

Mekanisme Aksi

Meningkatkan efek antitrombin III dan menginaktivasi trombin (demikian juga dengan faktor koagulan IX, X, XI, XII dan plasmin) dan mencegah konversi fibrinogen menjadi fibrin : heparin juga menstimulasi pembebasan lipase lipoprotein (lipase lipoprotein menghidrolisis trigliserida menjadi gliserol dan asam lemak bebas).

Monitoring Penggunaan Obat

-

Daftar Pustaka

Martindale, 34th edition, 2005

Lexi-Comp's Drug Information Handbook - 14th edition, 2006

MIMS 2006/2007
Share:

Aspirin (Asetosal/ Asam asetil salisilat)

Deskripsi
- Nama & Struktur Kimia : Merupakan ester salisilat dari asam. C9H8O4
- Sifat Fisikokimia : Berbentuk kristal putih seperti batang/jarum, berbau. Sedikit larut dalam air, sangat larut dalam alkohol. pKa : 3,5
- Keterangan : -

Golongan/Kelas Terapi
Analgesik Non Narkotik

Nama Dagang
- Aptor - Aspilets - Aspimec - Aspirin Bayer
- Astika - Bodrexin - Cardio Aspirin - Farmasal
- Procardin - Restor - Thrombo Aspilets - Ascardia

Indikasi

Nyeri :

Sakit kepala, nyeri-nyeri ringan lain yang berhubungan dengan adanya inflamasi. Nyeri ringan sampai sedang setelah operasi, melahirkan, sakit gigi, dismenore. Demam Penyakit Inflamasi, Rheumatoid arthritis, juvenile arthritis, osteo atrhritis, SLE, kondisi poli arthritis, psoriatic arthritis/Reiter's syndrome, Demam Rematik Mencegah terjadinya Tromboemboli TIA & AIS, Menurunkan risiko Transient Ischemic Attacks & menurunkan risiko stroke yang lebih parah dari Acute Ischemic Stroke, CAD & MI, Pencegahan Sekunder Coronary Artery Disease & Myocardial Infarction, Emboli yang berhubungan dengan Atrial Fibrilation & atau Mitral Valve Disease, Trombosis pada Arteri lain, Trombosis Mikrosirkular, Prostthetic Heart Valves, Trombosis Vena, Kondisi trombosis lain, Perikarditis, Kawasaki Disease, Komplikasi pada kehamilan (menurunkan faktor resiko preeklamsia, dll), Pencegahan kanker colorectal, Penggunaan lain.

Dosis, Cara Pemberian dan Lama Pemberian

Nyeri & Demam :

Dewasa : 650mg-1,3g setiap 8 jam, tidak lebih dari 3,9g/hari.

Swa-medikasi :

Migrain/sakit kepala ringan sampai berat : 500mg/hari. Hentikan jika telinga berdenging atau tidak mendengar, atau alergi

Penyakit Inflamasi :

Dosis awal : 2,4-3,6g/hari dalam dosis terbagi dapat ditingkatkan 325mg-1,2g/hari.

Dosis pemeliharaan : 3,6-5,4g/hari.

Gejala Juvenile Arthritis :

Dosis awal :

Anak-anak dengan BB < 25kg : 60-130mg/kg BB/hari.

Anak-anak dengan BB > 25kg : 2,4-3,6g/hari dalam dosis terbagi

Dosis pemeliharaan : 80-100mg/kg BB/hari dapat ditingkatkan hingga 130mg/kg BB/hari disesuaikan dengan respon Pasien, toleransi & konsentrasi salisilat dalam serum.

Demam Rematik :

Dosis awal :

Dewasa : 4,9-7,8g/hari

Anak-anak : 90-130mg/kg BB/hari setiap 4-6 jam (dalam dosis terbagi) selama 1-2 minggu. Kemudian dosis diturunkan menjadi 60 - 70mg/kg BB/hari

Penyesuaian dosis tergantung pada respon, toleransi & konsentrasi salisilat dalam serum.

Transient Ischemic Attacks & Acute Ischemic Stroke :

Untuk mengurangi resiko berulangnya TIA, stroke, kematian : 50 - 325mg/hari

AIS : 160-325mg/hari dimulai dalam waktu 48 jam setelah stroke terjadi, dilanjutkan hingga 2-4 minggu. Pencegahan AIS sekunder adalah dengan dosis rendah.

CAD & MI :

Pencegahan : 160-325mg/hari, dimulai paling lama 24 jam setelah MI terjadi kemudian diteruskan selama 30 hari paling sedikit

Angina stabil kronis :

Dosis : 75-325mg/hari segera setelah didiagnosa (kecuali ada kontraindikasi aspirin)

Perikarditis :

Dosis 160-325mg/hari kadang-kadang lebih

Batu ginjal Kalsium Oksalat : 200-300mg/hari

Farmakologi

Aspirin bekerja dengan mengasetilasi enzim prostaglandin H2 endoperoxide synthase (PGHS) & menghambat kerja enzim COX secara permanen. COX-1 umumnya ada di semua sel termasuk platelet. Aspirin relatif selektif menghambat COX-1 & sedikit COX-2. PGH2 dala platelet & endotel vaskular memproduksi tromboxan A2 (bertanggung jawab dalam agregasi platelet dan vasokonstriksi) & prostacyclin (bertanggung jawab dalam menghambat agregasi platelet & vasodilatasi) sehingga dosis sangat bervariasi.

Efek pada darah : Menghambat fase kedua agregasi platelet & mencegah pelepasan adenosin diphosphate (ADP) dari platelet & faktor 4 platelet.

Antitrombotik : Menghambat sintesa prostaglandin di vena. Aspirin dosis rendah dapat mencegah trombosis dengan cara menghambat secara selektif sintesa PGHS & tromboxan A2.

Stabilitas Penyimpanan

Stabil pada udara kering. Lembab, panas & perubahan pH dapat menghidrolisis Aspirin. Asprin stabil pada pH rendah (2-3). Simpan pada suhu 2-15°C & jauhkan dari jangkauan anak-anak.

Kontraindikasi

Alergi terhadap Aspirin dan golongan salisilat

Efek Samping

Reye's syndrome : Iritasi lambung karena bersifat asam.

Efek terhadap Sistem syaraf : Nyeri pada ujung syaraf, sakit kepala, epilepsi, agitasi, perubahan mental, koma, paralisis, pusing, limbung, depresi, bingung,amnesia, sulit tidur.

Efek lain : Demam, myopathy, epistaxis, kerusakan ginjal, penurunan fungsi ginjal, meningkatkan kreatinin, hematouria, oligouria, UTI, asidosis, asidosis metabolit, hiperfosfatemia, hipomag-nesemia, hiponatremia, hipernatremia, hipokalemia, hiperka-lemia hiperkalsemia, abnormalitis elektrolit. Tumor lisi sindrom sepsis, infeksi lain, Kerusakan jantung, gangguan pernafasan.

Interaksi

- Dengan Obat Lain : Meningkatkan konsentrasi serum alopurinol sehingga dapat meningkatkan toksisitas allopurinol. Chlorpropamide : Meningkatkan reaksi hepatorenal, monitor hipoglikemi. Obat lain : Cotrimoxazole : Trombositopenia Cyclosporin : Meningkatkan konsentrasi cyclosporin dalam darah (penyesuaian dosis) .

- Dengan Makanan : Makanan & susu : Menurunkan efek merugikan terhadap saluran cerna.

Pengaruh

- Terhadap Kehamilan : -

- Terhadap Ibu Menyusui : -

- Terhadap Anak-anak : Reyes Syndrome.

- Terhadap Hasil Laboratorium : -

Parameter Monitoring

-

Bentuk Sediaan

Tablet Salut Tahan Asam 80 mg, 100 mg, 160 mg, Tablet Biasa 500 mg.

Peringatan

Reye's syndrome pada anak Swamedikasi nyeri dan demam.

Kasus Temuan Dalam Keadaan Khusus

-

Informasi Pasien

Minum setelah makan dengan satu gelas air / susu.

Mekanisme Aksi

Asetilasi enzim PGHS.

Monitoring Penggunaan Obat

Munculnya efek samping.

Daftar Pustaka

AHFS Drug Information 2005
Share:

Codein (kodein)

Golongan
Penghilang nyeri golongan opioid (analgesik opioid)

Sediaan
Tablet: 30 mg (fosfat)

Penyakit/indikasi
Penghilang nyeri opioid potensi rendah untuk nyeri ringan sampai sedang

Indikasi:
Nyeri ringan sampai sedang

Kontraindikasi :
Depresi napas, penyakit paru obstruktif, serangan asma akut

Perhatian :
Gangguan hati dan ginjal; ketergantungan; kehamilan; menyusui; overdosis

Kehamilan dan meyusui
Kehamilan :
* Trimester 3 : menekan pernapasan neonatus; efek putus obat pada neonatusdengan ibu yang tergantung obat; risiko henti kerja lambung dan aspirasi pneumonia pada ibu selama persalinan

Menyusui :
* Jumlah terlalu sedikit untuk berbahaya; namun ibu memiliki keberagaman dalam metabolisme codein- risiko overdosis morfin pada bayi

Interaksi : (secara umum opioid analgesik)

Alkohol
Meningkatkan efek hipotensif dan sedasi saat opioid analgesik diberikan bersama alkohol

Antibakterial
Kadar alfentanil dalam darah ditingkatkan oleh eritromisin; hindari premedikasi dengan opioid anlagesik disarankan oleh pabrik ciprofloxacin, mengurangi kadar ciprofloxacin dalam darah saat ciprofloxacin sebagai antibiotik profilaksis; rifampicin meingkatkan metabolism metadon, mengurangi efek

Antikoagulan
Tramadol meningkatkan efek antikoagulan koumarin; dextropropoxyphene mungkin meningkatkan efek antikoagulan koumarin

Antidepresan
Kadar konsentrasi metadon dalam darah mungkin ditingkatkan fluvoxamin; mungkin meningkatkan efek serotoninergik saat petidin atau tramadol diberikan dengan duloxetine; mungkin eksitasi atau depresi system saraf pusat-SSP (hipertensi atau hipotensi) saat opioid alanlgesik diberikan dengan MAOI, hindari penggunaan bersama dan 2 minggu setelah berhenti MAOI; eksitasi atau depresi SSP (hipertensi atau hipotensi) saat petidin diberikan dengan MAOI, hindari penggunaan bersama dan 2 minggu setelah berhenti MAOI; mungkin eksitasi SSP atau depresi (hipertensi atau hipotensi) saat opioid analgesik diberikan dengan meclobemide; mungkin eksitasi SSP atau depresi (hipertensi atau hipotensi) saat dextrometorphan atau petidin diberikan dengan meclobemide, hindari penggunaan bersama; menignkatkan risiko toksisitas SSP saat tramadol diberikan dengan SSRI atau trisiklik; efek sedasi mungkin meningkat saat analgesik opioid diberikan dengan trisiklik

Antiepilepsi
Kadar metadon dalam darah diturunkan oleh carbamazepin; dextropropoxyphen meningkatkan efek carbamazepin; efek tramadol diturunkan oleh carbamazepin; fenitoin meningkatkan metabolism metadon, mengurangi efek dan risiko reaksi putus obat

Antijamur
Ketokonazol menghambat metabolism buprenorphin, kurangi dosis buprenorphin; metabolism fentanil dihambat oleh flukonazol, risiko depresi napas lebih lama atau lebih lambat muncul; kadar fentanil dalam darah mungkin ditingkatkan oleh flukonazol dan itrakonazol; vorikonazol meningkatkan kadar alfentanil dan metadon dalam darah, pertimbangkan menurunkan dosis alfentanil dan metadon

Antihistamin
Efek sedasi mungkin meningkat saat analgesik opioid diberikan dengan antihistamin sedative

Antipsikotik
Meningkatkan efek sedasi dan hipotensi saat analgesik opioid diberikan dengan antipsikotik; meningkatkan risiko kejang saat tramadol diberikan dengan antipsikotik

Antiviral
Kadar metadon mungkin diturunkan oleh abacavir dan nevirapin; kadar metadon dalam darah diturunkan oleh efavirenz, fosemprenavir, melfinavir, dan ritonavir; ritonavir meningkatkan kadar dextropropoxyphen, ririko toksisitas hindari penggunaan bersama; kadar buprenorphin dalam darah mungkin ditingkatkan oleh ritonavir;kadar petidin dalam darah dikurangi oleh ritonavir, tetapi kadar metabolit toksik petidin dalam darah meningkat, hindari penggunaan bersamaan; ritonavir mungkin mengurangi kadar morfin dalam darah, meningkatkan kadar fentanil dalam darah; metadon mungkin meningkatkan kadar zidovudin dalam darah

Ansiolitik dan hipnotik
mengingkatkan efek sedasi saat analgesik opioid diberikan dengan ansiolitik dan hipnotik

Atomoxetine
Meningkatkan risiko aritmia ventricular saat metadon diberikan dengan atomoxetine; mungkin meningkatkan risiko kejang saat tramadol diberikan dengan atomoxetine

Penyekat beta
Morfin mungkin meningkatkan kadar esmolol dalam darah

Penyekat kanal kalsium
Metabolism alfentanil dihambat oleh diltiazem, risiko depresi napas lebih lama atau terlambat untuk muncul

Domperidone
Analgesik opioid melawan efek domperidon pada kerja saluran cerna

Dopaminergik
Risiko toksisitas SSP saat petidin diberikan dengan rasagiline, hindari petidin 2 minggu setelah rasagiline; hindari penggunaan bersama dextrometorphan dengan rasagiline; hiperpireksia dan toksisitas SSP dilaporkan saat petidin diberikan dengan selegiline, hindari penggunaan bersama; perhatian dengan tramadol disarankan pabrik selegiline

5HT3 antagonis
Efek tramadol mungkin dilawan oleh ondansetron

Memantine
Meningkatkan risiko toksisitas SSP saat dextrometorphan diberikan dengan memantine (pabrik memantine menyarankan penghindaran pemakaian bersama)

Metoclopramide
Analgesik opioid melawan efek metoclopramide pada efek saluran cerna

Obat untuk ulkus
Metabolism analgesik opioid dihambat oleh cimetidine, mengingkatkan kadar dalam darah

Dosis :
Nyeri ringan sampai sedang, per oral, DEWASA 30-60 mg tiap 4 jam bila perlu, maksimal 240mg/hari; ANAK 1-12 tahun, 0.5-1 mg/kg tiap 4-6 jam bila perlu; maksimal 240 mg sehari

Efek Samping :

Konstipasi bisa menyulitkan pada penggunaan jangka panjang; pusing, mual, muntah; kesulitan BAK; spasme ureter atau saluran empedu; mulut kering, sakit kepala, berkeringat, pelebaran pembuluh darah di wajah; pada dosis terapi, kodein lebih rendah kemungkinan daripada morfin untuk menyebabkan toleransi, ketergantungan, euphoria, sedasi atau efek yang tidak diinginkan lainnya

Sumber: dari sini
Share:

Ibuprofen

KOMPOSISI:
Ibuprofen

SEDIAAN:
Tablet 200 mg

INDIKASI:
Analgetik & antiinflamasi, rheumatoid

KONTRAINDIKASI:
Asma, Tukak lambung, wamil trimester I, hipersensitivitas

EFEK SAMPING:
Mual, muntah, diare, konstipasi, nyeri & rasa panas di epigastrum

DOSIS :
Oral: Dewasa : 1200 – 1800 mg/ hr Dibagi 3 – 4 (maks 2.400 mg/hr)
Anak > 30 Kg BB: 20 mg/ kg BB/ hr
Anak < 30 kg BB : maks 500 mg/ hr
PO : Berikan segera sesudah makan
Share:

Asam Mefenamat

KOMPOSISI:
Asam Mefenamat

SEDIAAN:
Tablet 250 mg, 500 mg

INDIKASI:
Sakit kepala, sakit gigi, nyeri otot tulang , nyeri karena luka, nyeri setelah operasi, nyeri setelah melahirkan, dismenore, nyeri reumatik, nyeri tulang belakang, demam.

KONTRAINDIKASI:
Ulserasi sampai inflamasi saluran cerna, peny. ginjal atau hati, hipersensitif, tukak lambung.

EFEK SAMPING:
Mual, muntah diare, iritasi lambung, pusing-pusing & ggn penglihatan.

DOSIS : Dewasa: Awal 500 mg kmdn 250 mg tiap 6 jam, Maks 7 hari.
PO : Berikan segera sesudah makan
Share:

Antrain

KOMPOSISI:
Metamizole Na

SEDIAAN:
Tablet 500 mg

INDIKASI:
Meredakan nyeri, pasca op, nyeri kolik

KONTRAINDIKASI:
Psikosis berat, kecenderungan perdarahan, porfiria, hipersensitif derifat pirazolon.

EFEK SAMPING:
agranulositosis, reaksi alergi.

DOSIS :
Tablet : Dewasa 1 tab tiap 6-8 jam, Maks 4 tab/hr
Injeksi: Dewasa 500 mg tiap 6-8 jam. Maks 3x/hr IM atau IV

PO : Diberikan sesudah makan
Share:

Antalgin (≈ Novalgin ≈ Novamidon ≈ Adimidon ≈ Dellamidon ≈ Camidon)

KOMPOSISI:
Metamhampyron (+klordiazepoksida)

SEDIAAN:
Tablet/kapsul 250 mg, 500 mg ; Ampul 2 ml (250 mg/ml); Vial 8 ml (250 mg/ml); Antalgin, pyramidon, lidocaine.

INDIKASI:
Analgetik-antipiretik
• Nyeri akut hebat, sesudah luka/ pembedahan, tumor / kolik & jika analgesic lain tdk menolong (INJ)
• Demam tinggi yang tdk dapat diatasi antipiretik lain

KONTRAINDIKASI:
Alergi dipiron atau AINS lainnya, payah jantung, bayi < 3 bln, wamil trimester I & 6 mgg t’akhir. Penggunaan bersama klorpromazin.

EFEK SAMPING:
Agranolositosis, reaksi kulit, iritasi lambung

DOSIS :
Oral
- dewasa: 500-1000 mg 3-4 x sehari (maks 3 gr)
- anak: 250-500 mg 3-4 x sehari (maks 1 gr)
Parenteral: 500-1000 mg sekali suntik (jgn lebih 1 gr)
PO : Sesudah makan
Share:

Tramadol

KOMPOSISI:
Tramadol HCl

SEDIAAN:
Tablet 50 mg

INDIKASI:
Pengobatan nyeri akut dan kronik yang berat, nyeri pasca op. Ketergantungan obat dan opium, sensitif terhadap tramadol atau opiat, mendapat terapi MAOI, intoksikasi akut dengan alkohol, hipnotik, analgesik, atau obat yang mempengaruhi SSP lain.

KONTRAINDIKASI:
Tidak dianjurkan pada wanita hamil dan menyusui

EFEK SAMPING:
Pusing, sedasi, lelah, sakit kepala pruritus, berkeringat, kulit kemerahan, mulut kering, mual, muntah, dispepsia, obstipasi

DOSIS :
Dewasa & anak > 16 thn 50 mg dosis tunggal, dapat ditingkatkan 50 mg ssdh selang waktu 4-6 jam. Maks : 400 mg /hr. Pasien ggn hati dan ginjal (bersihan kreatin <30 mL/mnt) 50-100 mg tiap 12 jam , maks : 200 mg/hr. Sirosis hati 50 mg/12 jam.

PO : Diberikan bersama atau tanpa makanan
Share:

Asetaminofen (Parasetamol)

Sediaan:

Tablet 250, 500 mg

Supositoria : 100 mg

Sirup : 125 mg/5 ml

Indikasi:

Nyeri ringan sampai sedang termasuk dysmenorrhea, sakit kepala; pereda nyeri pada osteoarthritis dan lesi jaringan lunak; demam termasuk demam setelah imunisasi; serangan migren akut, tension headache

Kontraindikasi :

Gangguan fungsi hati berat, hipersensitif terhadap paracetamol

Perhatian :

Gangguan hati; gangguan ginjal; ketergantungan alkohol

Kehamilan dan meyusui :

Kehamilan :

· Tidak diketahui berbahaya

Menyusui :

· Jumlah terlalu sedikit untuk membahayakan

Interaksi :

Antikoagulan

Penggunaan parasetamol jangka panjang sebagai pemakaian umum mungkin meningkatkan efek antikoagulan dari koumarin

Antiepilepsi

Carbamazepin mungkin meningkatkan metabolisme parasetamol

Sitotoksik

Parasetamol mungkin menghambat metabolisme busulfan intravena (pabrik busulfan intravena menyatakan perhatian dalam 72 jam penggunaan parasetamol)

Obat pengatur lipid

Penyerapan parasetamol dikurangi oleh kolestiramin

Metoklopramid

Kecepatan penyerapan parasetamol ditingkatkan oleh parasetamol

Dosis :

Demam setelah imunisasi

per oral:

BAYI 2-3 bulan, 60 mg diikuti dosis kedua, jika perlu, 4-6 jam kemudian. Ingatkan orang tua untuk menghubungi tenaga kesehatan jika demam menetap setelah dosis kedua

Nyeri ringan – sedang atau demam

per oral:

DEWASA 0,5 – 1 g tiap 4-6 jam, maksimal 4 g sehari;

ANAK dibawah 3 bulan (lihat di bawah), 3 bulan – 1 tahun 60-125 mg, 1-5 tahun 120-250 mg, 6-12 tahun 250-500 mg,

dosis ini dapat diulang tiap 4-6 jam jika perlu (maksimal 4 dosis dalam 24 jam)

per rectal:

DEWASA 0,5 – 1 g;

ANAK 1-5 tahun 125-250 mg, 6-12 tahun 250-500 mg; dosis diberikan tiap 4-6 jam jika perlu, maksimal 4 dosis dalam 24 jam

Bayi kurang dari 3 bulan sebaiknya tidak diberikan parasetamol kecuali dianjurkan dokter; dosis 10 mg/kg (5 mg/kg jika jaundice) bisa diberikan

Pengobatan serangan migren akut

per oral:

DEWASA 0,5 – 1 g saat serangan pertama, dapat diulang tiap 4-6 jam jika perlu, maksimal 4 g sehari;

ANAK 6-12 tahun 250-500 mg saat serangan pertama, dapat diulang tiap 4-6 jam jika perlu, maksimal 4 dosis dalam 24 jam

per rectal:

DEWASA dan ANAK di atas 12 tahun 0,5 – 1 g saat tanda pertama serangan, dapat diulang tiap 4-6 jam jika perlu, maksimal 4 dosis dalam 24 jam; ANAK 6-12 tahun 250-500 mg saat tanda pertama serangan, dapat diulang tiap 4-6 jam jika perlu, maksimal 4 dosis dalam 24 jam

Efek samping :

Jarang tetapi dilaporkan : ruam dan gangguan darah; penting: kerusakan hati ( dan lebih jarang kerusakan ginjal) setelah overdosis

Sumber: dari sini dan sini

Share:

OBAT ANALGESIK ANTIPIRETIK


Obat saraf dan otot golongan analgesik atau obat yang dapat menghilangkan rasa sakit/ obat nyeri sedangkan obat antipiretik adalah obat yang dapat menurunkan suhu tubuh. Analgesik sendiri dibagi dua yaitu :
  1. Analgesik opioid / analgesik narkotika Analgesik opioid merupakan kelompok obat yang memiliki sifat-sifat seperti opium atau morfin. Golongan obat ini terutama digunakan untuk meredakan atau menghilangkan rasa nyeri.
  2. Tetap semua analgesik opioid menimbulkan adiksi/ketergantungan, maka usaha untuk mendapatkan suatu analgesik yang ideal masih tetap diteruskan dengan tujuan mendapatkan analgesik yang sama kuat dengan morfin tanpa bahaya adiksi.

    Ada 3 golongan obat ini yaitu :
    1. Obat yang berasal dari opium-morfin,
    2. Senyawa semisintetik morfin, dan
    3. Senyawa sintetik yang berefek seperti morfin.

  3. Analgesik lainnya, Seperti golongan salisilat seperti aspirin, golongan para amino fenol seperti paracetamol, dan golongan lainnya seperti ibuprofen, asam mefenamat, naproksen/naproxen dan banyak lagi.
Berikut contoh obat-obat analgesik antipiretik yang beredar di Indonesia :
  1. Paracetamol/acetaminophen
  2. Merupakan derivat para amino fenol. Di Indonesia penggunaan parasetamol sebagai analgesik dan antipiretik, telah menggantikan penggunaan salisilat. Sebagai analgesik, parasetamol sebaiknya tidak digunakan terlalu lama karena dapat menimbulkan nefropati analgesik.

    Jika dosis terapi tidak memberi manfaat, biasanya dosis lebih besar tidak menolong.

    Dalam sediaannya sering dikombinasi dengan cofein yang berfungsi meningkatkan efektivitasnya tanpa perlu meningkatkan dosisnya.

  3. Ibuprofen
  4. Ibuprofen merupakan derivat asam propionat yang diperkenalkan banyak negara. Obat ini bersifat analgesik dengan daya antiinflamasi yang tidak terlalu kuat. Efek analgesiknya sama dengan aspirin.

    Ibuprofen tidak dianjurkan diminum oleh wanita hamil dan menyusui.

  5. Asam mefenamat
  6. Asam mefenamat digunakan sebagai analgesik. Asam mefenamat sangat kuat terikat pada protein plasma, sehingga interaksi dengan obat antikoagulan harus diperhatikan. Efek samping terhadap saluran cerna sering timbul misalnya dispepsia dan gejala iritasi lain terhadap mukosa lambung.

  7. Tramadol
  8. Tramadol adalah senyawa sintetik yang berefek seperti morfin.

    Tramadol digunakan untuk sakit nyeri menengah hingga parah. Sediaan tramadol pelepasan lambat digunakan untuk menangani nyeri menengah hingga parah yang memerlukan waktu yang lama.

    Minumlah tramadol sesuai dosis yang diberikan, jangan minum dengan dosis lebih besar atau lebih lama dari yang diresepkan dokter.

    Jangan minum tramadol lebih dari 300 mg sehari.

  9. Benorylate
  10. Benorylate adalah kombinasi dari parasetamol dan ester aspirin. Obat ini digunakan sebagai obat antiinflamasi dan antipiretik. Untuk pengobatan demam pada anak obat ini bekerja lebih baik dibanding dengan parasetamol dan aspirin dalam penggunaan yang terpisah. Karena obat ini derivat dari aspirin maka obat ini tidak boleh digunakan untuk anak yang mengidap Sindrom Reye.

  11. Fentanyl
  12. Fentanyl termasuk obat golongan analgesik narkotika. Analgesik narkotika digunakan sebagai penghilang nyeri. Dalam bentuk sediaan injeksi IM (intramuskular) Fentanyl digunakan untuk menghilangkan sakit yang disebabkan kanker.

    Menghilangkan periode sakit pada kanker adalah dengan menghilangkan rasa sakit secara menyeluruh dengan obat untuk mengontrol rasa sakit yang persisten/menetap. Obat Fentanyl digunakan hanya untuk pasien yang siap menggunakan analgesik narkotika.

    Fentanyl bekerja di dalam sistem syaraf pusat untuk menghilangkan rasa sakit. Beberapa efek samping juga disebabkan oleh aksinya di dalam sistem syaraf pusat. Pada pemakaian yang lama dapat menyebabkan ketergantungan tetapi tidak sering terjadi bila pemakaiannya sesuai dengan aturan.

    Ketergantungan biasa terjadi jika pengobatan dihentikan secara mendadak. Sehingga untuk mencegah efek samping tersebut perlu dilakukan penurunan dosis secara bertahap dengan periode tertentu sebelum pengobatan dihentikan.

  13. Naproxen
  14. Naproxen termasuk dalam golongan antiinflamasi nonsteroid. Naproxen bekerja dengan cara menurunkan hormon yang menyebabkan pembengkakan dan rasa nyeri di tubuh.

  15. Obat lainnya
  16. Metamizol, Aspirin (Asetosal/ Asam asetil salisilat), Dypirone/Methampiron, Floctafenine, Novaminsulfonicum, dan Sufentanil.

Untuk pemilihan golongan obat analgesik dan antipiretik yang tepat ada baiknya anda harus periksakan diri dan konsultasi ke dokter.

Di medicastore anda dapat mencari informasi obat seperti : kegunaan atau indikasi obat, generik atau kandungan obat, efek samping obat, kontra indikasi obat, hal apa yang harus menjadi perhatian sewaktu konsumsi obat, gambar obat yang anda pilih hingga harga obat dengan berbagai sediaan yang dibuat oleh pabrik obat. Sehingga anda dapat memilih dan beli obat sesuai dengan kebutuhan anda.

Sumber: Medicastore.com

Share:

recent posts

Popular Posts

Labels

Recent Posts