Showing posts with label [Farmakoterapi] Antibiotik. Show all posts
Showing posts with label [Farmakoterapi] Antibiotik. Show all posts

KLORAMFENIKOL dapat menimbulkan anemia aplastik

Kloramfenikol diisolasi pertama kali pada tahun 1947 dari Streptomyces venezuelae. Karena ternyata Kloramfenikol mempunyai daya antimikroba yang kuat maka penggunaan Kloramfenikol meluas dengan cepat sampai pada tahun 1950 diketahui bahwa Kloramfenikol dapat menimbulkan anemia aplastik yang fatal.
  1. Efek antimikroba Kloramfenikol bekerja dengan jalan menghambat sintesis protein kuman. Yang dihambat adalah enzim peptidil transferase yang berperan sebagai katalisator untuk membentuk ikatan-ikatan peptida pada proses sintesis protein kuman.
    Efek toksis Kloramfenikol pada sel mamalia terutama terlihat pada sistem hemopoetik/darah dan diduga berhubungan dengan mekanisme kerja Kloramfenikol.
  2. Efek samping
    1. Reaksi hematologik Terdapat dalam 2 bentuk yaitu;
      1. Reaksi toksik dengan manifestasi depresi sumsum tulang.
        Kelainan ini berhubungan dengan dosis, menjadi sembuh dan pulih bila pengobatan dihentikan. Reaksi ini terlihat bila kadar Kloramfenikol dalam serum melampaui 25 mcg/ml.
      2. Bentuk yang kedua bentuknya lebih buruk karena anemia yang terjadi bersifat menetap seperti anemia aplastik dengan pansitopenia. Timbulnya tidak tergantung dari besarnya dosis atau lama pengobatan. Efek samping ini diduga disebabkan oleh adanya kelainan genetik.
    2. Reaksi alergi Kloramfenikol dapat menimbulkan kemerahan kulit, angioudem, urtikaria dan anafilaksis. Kelainan yang menyerupai reaksi Herxheimer dapat terjadi pada pengobatan demam Tifoid walaupun yang terakhir ini jarang dijumpai.
    3. Reaksi saluran cerna Bermanifestasi dalam bentuk mual, muntah, glositis, diare dan enterokolitis.
    4. Sindrom gray Pada bayi baru lahir, terutama bayi prematur yang mendapat dosis tinggi (200 mg/kg BB) dapat timul sindrom Gray, biasanya antara hari ke 2 sampai hari ke 9 masa terapi, rata-rata hari ke 4.
      Mula-mula bayi muntah, tidak mau menyusui, pernafasan cepat dan tidak teratur, perutkembung, sianosis dan diare dengan tinja berwarna hijau dan bayi tampak sakit berat.
      Pada hari berikutnya tubuh bayi menjadi lemas dan berwarna keabu-abuan; terjadi pula hipotermia (kedinginan).
    5. Reaksi neurologik Dapat terlihat dalam bentuk depresi, bingung, delirium dan sakit kepala.
  3. Penggunaan klinik Banyak perbedaan pendapat mengenai indikasi penggunaan kloramfenikol, tetapi sebaiknya obat ini hanya digunakan untuk mengobati demam tifoid, salmonelosis lain dan infeksi H. influenzae. Infeksi lain sebaiknya tidak diobati dengan kloramfenikol bila masih ada antimikroba lain yang lebih aman dan efektif.
    Kloramfenikol tidak boleh digunakan untuk bayi baru lahir, pasien dengan gangguan hati dan pasien yang hipersensitif terhadapnya.
  4. Sediaan
    1. Kloramfenikol Terbagi dalam bentuk sediaan :
      1. Kapsul 250 mg, Dengan cara pakai untuk dewasa 50 mg/kg BB atau 1-2 kapsul 4 kali sehari.
        Untuk infeksi berat dosis dapat ditingkatkan 2 x pada awal terapi sampai didapatkan perbaikan klinis.
      2. Salep mata 1 %
      3. Obat tetes mata 0,5 %
      4. Salep kulit 2 %
      5. Obat tetes telinga 1-5 %
        Keempat sediaan di atas dipakai beberapa kali sehari.
    2. Kloramfenikol palmitat atau stearat Biasanya berupa botol berisi 60 ml suspensi (tiap 5 l mengandung Kloramfenikol palmitat atau stearat setara dengan 125 mg kloramfenikol). Dosis ditentukan oleh dokter.
    3. Kloramfenikol natrium suksinat Vial berisi bubuk kloramfenikol natrium suksinat setara dengan 1 g kloramfenikol yang harus dilarutkan dulu dengan 10 ml aquades steril atau dektrose 5 % (mengandung 100 mg/ml).
    4. Tiamfenikol Terbagi dalam bentuk sediaan :
      1. Kapsul 250 dan 500 mg.
      2. Botol berisi pelarut 60 ml dan bubuk Ttiamfenikol 1.5 g yang setelah dilarutkan mengandung 125 mg Tiamfenikol tiap 5 ml.
Sumber : Buku farmakologi dan Terapi, edisi 4, Bagian farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia 1995.
Untuk pemilihan antibiotika Kloramfenikol dan dosis/cara pakainya yang tepat ada baiknya anda harus periksakan diri dan konsultasi ke dokter.
Share:

SEFALOSFORIN antibiotika Betalaktam

Sefalosporin termasuk golongan antibiotika Betalaktam. Seperti antibiotik Betalaktam lain, mekanisme kerja antimikroba Sefalosporin ialah dengan menghambat sintesis dinding sel mikroba. Yang dihambat adalah reaksi transpeptidase tahap ketiga dalam rangkaian reaksi pembentukan dinding sel.
Sefalosporin aktif terhadap kuman gram positif maupun garam negatif, tetapi spektrum masing-masing derivat bervariasi.

Penggolongan Sefalosporin

Hingga tahun 2006 golongan Sefalosporin sudah menjadi 4 generasi, pembedaan generasi dari Sefalosporin berdasarkan aktivitas mikrobanya dan yang secara tidak langsung sesuai dengan urutan masa pembuatannya.

Berikut pembagian generasi Sefalosporin :

No. Nama Generasi Cara Pemberian Aktivitas Antimikroba
1. Cefadroxil 1 Oral Aktif terhadap kuman gram positif dengan keunggulan dari Penisilin aktivitas nya terhadap bakteri penghasil Penisilinase
2. Cefalexin 1 Oral
3. Cefazolin 1 IV dan IM
4. Cephalotin 1 IV dan IM
5. Cephradin 1 Oral IV dan IM
6. Cefaclor 2 Oral Kurang aktif terhadap bakteri gram postif dibandingkan dengan generasi pertama, tetapi lebih aktif terhadap kuman gram negatif; misalnya H.influenza, Pr. Mirabilis, E.coli, dan Klebsiella
7. Cefamandol 2 IV dan IM
8. Cefmetazol 2 IV dan IM
9. Cefoperazon 2 IV dan IM
10. Cefprozil 2 Oral
11. Cefuroxim 2 IV dan IM
12. Cefditoren 3 Oral Golongan ini umumnya kurang efektif dibandingkan dengan generasi pertama terhadap kuman gram positif, tetapi jauh lebih efektif terhadap Enterobacteriaceae, termasuk strain penghasil Penisilinase.
13. Cefixim 3 Oral
14. Cefotaxim 3 IV dan IM
15. Cefotiam 2 IV dan IM
16. Cefpodoxim 3 Oral
17. Ceftazidim 3 IV dan IM
18. Ceftizoxim 3 IV dan IM
19. Ceftriaxon 3 IV dan IM
20. Cefepim 4 Oral IV dan IM Hampir sama dengan generasi ketiga
21. Cefpirom 4 Oral IV dan IM

Indikasi Klinik

Sediaan Sefalosporin seyogyanya hanya digunakan untuk pengobatan infeksi berat atau yang tidak dapat diobati dengan antimikroba lain, sesuai dengan spektrum antibakterinya. Anjuran ini diberikan karena selain harganya mahal, potensi antibakterinya yang tinggi sebaiknya dicadangkan hanya untuk hal tersebut diatas.

Adapun indikasi dari masing Sefalosporin sebagai berikut :

  1. Cefadroxil dan Cefalexin Obat golongan Cefalosporin ini yang digunakan untuk mengobati infeksi tertentu yang disebabkan oleh bakteri pada kulit, tenggorokan, dan infeksi kandung kemih. Antibiotik ini tidak efektif untuk pilek, flu atau infeksi lain yang disebabkan virus.
  2. Cefazolin Cefazolin digunakan untuk mengobati infeksi bakteri dan penyakit pada infeksi pada kandung empedu dan kandung kemih, organ pernafasan, genito urinaria (infeksi pada organ seksual dan saluran kencing), pencegahan infeksi pada proses operasi dan infeksi kulit atau luka.
  3. Cephalotin Obat golongan Sefalosporin ini yang digunakan untuk mengobati infeksi bakteri dan penyakit pada infeksi kulit dan jaringan lunak, saluran nafas, genito-urinaria, pasca operasi, otitis media dan septikemia.
  4. Cefaclor dan Cefixim Cefalosporin ini menghilangkan bakteri yang menyebabkan berbagai macam penyakit seperti pneumonia dan infeksi pada telinga, paru-paru, tenggorokan, saluran kemih dan kulit.
  5. Cefamandol, Ceftizoxim dan Ceftriaxon Cefalosporin ini menghilangkan bakteri yang menyebabkan berbagai macam penyakit pada paru-paru, kulit, tulang, sendi, perut, darah dan saluran kencing.
  6. Cefmetazol Cefmetazol lebih aktif daripada Sefalosporin golongan pertama terhadap gram positif Proteus, Serritia, kuman anaerobik gram negatif (termasuk B. fragilis) dan beberapa E.coli, Klebsiella dan P. mirabilis, tetapi kurang efektif dibandingkan Cefoxitin atau Cefotetan melawan kuman gram negatif.
  7. Cefoperazon dan Ceftazidim Obat Sefalosporin ini menghilangkan bakteri yang menyebabkan berbagai macam infeksi termasuk paru-paru, kulit, sendi, perut, darah, kandungan, dan saluran kemih.
  8. Cefprozil Obat Sefalosporin ini mengobati infeksi seperti Otitis Media, infeksi jaringan lunak dan saluran nafas.
  9. Cefuroxim Cefuroxim digunakan untuk mengobati infeksi tertentu yang disebabkan oleh bakteri seperti; bronkitis, gonore, penyakit limfa, dan infeksi pada organ telinga, tenggorokan, sinus, saluran kemih, dan kulit.
  10. Cefotaxim Cefotaxime digunakan untuk mengobati Gonore, infeksi pada ginjal (pyelonephritis), organ pernafasan, saluran kemih, meningitis, pencegahan infeksi pada proses operasi dan infeksi kulit dan jaringan lunak.
  11. Cefotiam Memiliki aktivitas spetrum luas terhadap kuman gram negatif dan positif, tetapi tidak memiliki aktivitas terhadap Pseudomonas aeruginosa.
  12. Cefpodoxim Obat Sefalosporin ini menghilangkan bakteri yang menyebabkan berbagai macam infeksi seperti Pneumonia, Bronkitis, Gonore dan infeksi pada telinga, kulit, tenggorokan dan saluran kemih.
  13. Cefepim Obat Sefalosporin ini menghilangkan bakteri yang menyebabkan berbagai macam infeksi seperti Pneumonia, kulit, dan saluran kemih.
  14. Cefpirom Obat Sefalosporin ini menghilangkan bakteri yang menyebabkan berbagai macam infeksi pada darah atau jaringan, paru-paru dan saluran nafas bagian bawah, serta saluran kemih.
Sumber :
www.tiscali.co.uk
http://redpoll.pharmacy.ualberta.ca/drugbank/
http://search.nlm.nih.gov/medlineplus/
www.ashp.org
Untuk pemilihan antibiotika Sefalosporin yang tepat ada baiknya anda harus periksakan diri dan konsultasi ke dokter.
Share:

Penjelasan AMINOGLIKOSID



Aminoglikosid merupakan senyawa yang terdiri dari 2 atau lebih gugus gula amino yang terikat lewat ikatan glikosidik pada inti heksosa.
Aminoglikosid merupakan produk streptomises atau fungus lainnya. Seperti Streptomyces griseus untuk Streptomisin, Streptomyses fradiae untuk Neomisin, Streptomyces kanamyceticus untuk Kanamisin, Streptomyces tenebrarius untuk Tobramisin, Micromomospora purpures untuk Gentamisin dan Asilasi kanamisin A untuk Amikasin.
Aminoglikosid dari sejarahnya digunakan untuk bakteri gram negatif. Aminoglikosid pertama yang ditemukan adalah Streptomisin.
Antibiotika lain untuk bakteri gram negatif adalah golongan Sefalosporin generasi 3 yang lebih aman, akan tetapi karena harganya masih mahal banyak dipakai golongan Aminoglikosid.
Aktivitas bakteri Aminoglikosid dari Gentamisin, Tobramisin, Kanamisin, Netilmisin dan Amikasin terutama tertuju pada basil gram negatif yang aerobik (yang hidup dengan oksigen).
Masalah resistensi merupakan kesulitan utama dalam penggunaan Streptomisin secara kronik; misalnya pada terapi Tuberkulosis atau endokarditis bakterial subakut. Resistensi terhadap Streptomisin dapat cepat terjadi, sedangkan resistensi terhadap Aminoglikosid lainnya terjadi lebih berangsur-angsur.

Sediaan dari Aminoglikosid

Sediaan dari Aminoglikosid dapat dibagi dalam dua kelompok :
  1. Sediaan Aminoglikosid sistemik untuk pemberian IM atau IV yaitu Amikasin, Gentamisin, Kanamisin dan Streptomisin
  2. Sediaan Aminoglikosid topikal terdiri dari Aminosidin, Kanamisin, Neomisin, Gentamisin dan Streptomisin. Dalam kelompok topikal termasuk juga semua Aminoglikosid yang diberikan per oral untuk mendapatkan efek lokal dalam lumen saluran cerna.
Sediaan Aminoglikosid pada umumnya tersedia sebagai garam sulfat.
  1. Streptomisin Untuk suntikan tersedia bentuk bubuk kering dalam vial yang mengandung 1 atau 5 g zat. Kadar larutan tergantung dari cara pemberian yang direncanakan; dan cara penyuntikan tergantung dari jenis dan lokasi infeksi.
    Suntikan IiM merupakan cara yang paling sering diberikan. Dosis total sehari berkisar 1-2 g (15-25 mg/kg BB); 500 mg - 1 g disuntikkan setiap 12 jam. Untuk infeksi berat dosis harian dapat mencapai 2-4 g dibagi dalam 2-4 kali pemberian. Dosis untuk anak ialah 20-30 mg/kgBB sehari, dibagi untuk dua kali penyuntikkan.
  2. Gentamisin Tersedia sebagai larutan steril dalam vial atau ampul 60mg/1,5 ml; 80 mg/2 ml; 120 mg/3 ml dan 280 mg/2 ml. Salep atau krim dalam kadar 0,1 and 0,3 % salep mata 0,3 %.
    Sediaan parenteral ada di pasar tidak boleh digunakan untuk suntikan intratekal atau intraventrikular (otak) karena mengandung zat pengawet.
  3. Kanamisin Untuk sediaan tersedia larutan dan bubuk kering. Larutan dalam vial ekuivalen dengan basa Kanamisin 500 mg/2 ml dan 1 g/3 ml untuk orang dewasa; serta 75 mg/2 ml untuk anak. Vial bubuk kering berisi 1 g dan 0,5 g. Untuk pemberian oral tersedia bentuk kapsul/tablet 250 mg dan sirup 50 mg/ml.
  4. Amikasin Obat ini tersedia untuk suntikan IM dan IV dalam vial berisi 100; 250; 500; 1.000; dan 2.000 mg. Dosis total sehari umumnya tidak lebih dari 1,5 gram sehari. Penyesuaian dosis perlu dipertimbangkan pada berbagai keadaan. Adanya gangguan faal ginjal memerlukan pengurangan dosis dan perpanjangan interval waktu antara dosis, dengan berpedoman pada kadar efektif dalam darah yang berkisar antar 5-10 ug/ml sampai 20-25 ug/ml.
  5. Tobramisin Obat ini tersedia sebagai larutan 80 mg/2 ml untu suntikan IM. Untuk infus Tobramisin dilarutkan dalam Dekstrose 5% atau larutan NaCl isotonis dan diberikan dalam 30-60 menit. Jangan diberikan lebih dari 10 hari.
  6. Netilmisin Obat ini boleh diberikan IM atau IV, dan tersedia sebagai larutan 50 dan 100, 150 mg/2 ml. Dosisnya ialah 4-6,5 mg/kg BB sehari yang dibagi dalam 2-3 dosis.
    Untuk penggunaan intravena dosis tunggal diencerkan dalam 50 sampai 200 ml pelbagai larutan.
  7. Neomisin Neomisin tersedia untuk penggunan topikal dan oral, penggunaan parenteral tidak lagi dibenarkan karena toksisitasnya.
    Salep mata dan kulit mengandung 5 mg/g untuk digunakan 2-3 kali sehari. Untuk oral tersedia tablet 250 mg. Dosis oral neomisin dapat mencapai 4-8 g sehari, dalam dosis terbagi; misalnya yang digunakan pada pengendalian koma hepatik atau pembersihan lumen usus.
Untuk pemilihan obat Aminoglikosid yang tepat ada baiknya anda harus periksakan diri dan konsultasi ke dokter.
Share:

Penjelasan Antibiotik

Antibiotika adalah zat yang dihasilkan oleh suatu mikroba, terutama fungi/jamur, yang dapat menghambat atau dapat membasmi mikroba jenis lain.
Banyak antibiotika saat ini dibuat secara semisintetik atau sintetik penuh. Namun dalam prakteknya antibiotika sintetik tidak diturunkan dari produk mikroba (misalnya kuinolon).
Antibiotika yang akan digunakan untuk membasmi mikroba, penyebab infeksi pada manusia, harus mememiliki sifat toksisitas selektif setinggi mungkin.
Artinya, antibiotika tersebut haruslah bersifat sangat toksik untuk mikroba, tetapi relatif tidak toksik untuk manusia.
Antibiotika adalah obat yang sangat ampuh dan sangat bermanfaat jika digunakan secara benar. Namun, jika digunakan tidak semestinya antibiotika justru akan mendatangkan berbagai mudharat.
Yang harus selalu diingat, antibiotika hanya ampuh dan efektif membunuh bakteri tetapi tidak dapat membunuh virus. Karena itu, penyakit yang dapat diobati dengan antibiotika adalah penyakit-penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri.

Gambar. Resistensi antibiotika
Penyebab timbulnya resistensi antibiotika yang terutama adalah karena penggunaan antibiotika yang tidak tepat, tidak tepat sasaran, dan tidak tepat dosis.
Tidak tepat sasaran, salah satunya adalah pemberian antibiotika pada pasien yang bukan menderita penyakit infeksi bakteri. Walaupun menderita infeksi bakteri, antibiotika yang diberikan pun harus dipilih secara seksama. Tidak semua antibiotika ampuh terhadap bakteri tertentu.
Setiap antibiotika mempunyai daya bunuh terhadap bakteri yang berbeda-beda. Karena itu, antibiotika harus dipilih dengan seksama. Ketepatan dosis sangat penting diperhatikan.
Tidak tepat dosis dapat menyebabkan bakteri tidak terbunuh, bahkan justru dapat merangsangnya untuk membentuk turunan yang lebih kuat daya tahannya sehingga resisten terhadap antibiotika.
Karena itu, jika dokter memberikan obat antibiotika, patuhilah petunjuk pemakaiannya dan harus diminum sampai habis.
Pemakaian antibiotika tidak boleh sembarangan, baik untuk anak-anak maupun orang dewasa. Itu sebabnya, antibiotika tidak boleh dijual bebas melainkan harus dengan resep dokter.
Terlalu sering mengonsumsi antibiotika juga berdampak buruk pada ''bakteri-bakteri baik'' yang menghuni saluran pencernaan kita. Bakteri-bakteri tersebut dapat terbunuh, padahal mereka bekerja membuat zat-zat yang bermanfaat bagi kesehatan kita.
Golongan antibiotika
Antibiotika dapat digolongkan sebagai berikut :
  1. Aminoglikosid, bekerja dengan menghambat sintesis protein dari bakteri.
  2. Sefalosforin, bekerja dengan menghambat sintesis peptidoglikan serta mengaktifkan enzim autolisis pada dinding sel bakteri.
  3. Klorampenikol, bekerja dengan menghambat sintesis protein dari bakteri.
  4. Makrolida, bekerja dengan menghambat sintesis protein dari bakteri.
  5. Penisilin, bekerja dengan menghambat sintesis peptidoglikan.
  6. Antibiotika golongan beta laktam golongan lain, bekerja dengan menghambat sintesis peptidoglikan serta mengaktifkan enzim autolisis pada dinding sel bakteri.
  7. Kuinolon, bekerja dengan menghambat satu atau lebih enzim topoisomerase yang bersifat esensial untuk replikasi dan transkripsi DNA bakteri.
  8. Tetrasiklin, bekerja dengan menghambat sintesis protein dari bakteri.
  9. Kombinasi antibakteri
  10. Antibiotika golongan lain
Untuk pemilihan antibiotika yang tepat sesuai kebutuhan dan keluhan anda ada baiknya anda harus periksakan diri dan konsultasi ke dokter.
Share:

Antibiotik PENISILIN

Penisilin merupakan kelompok antibiotika Beta Laktam yang telah lama dikenal.
Pada tahun 1928 di London, Alexander Fleming menemukan antibiotika pertama yaitu Penisilin yang satu dekade kemudian dikembangkan oleh Florey dari biakan Penicillium notatum untuk penggunaan sistemik. Kemudian digunakan P. chrysogenum yang menghasilkan Penisilin lebih banyak.
Penisilin yang digunakan dalam pengobatan terbagi dalam Penisilin alam dan Penisilin semisintetik.
Penisilin semisintetik diperoleh dengan cara mengubah struktur kimia Penisilin alam atau dengan cara sintesis dari inti Penisilin.
Beberapa Penisilin akan berkurang aktivitas mikrobanya dalam suasana asam sehingga Penisilin kelompok ini harus diberikan secara parenteral. Penisilin lain hilang aktivitasnya bila dipengaruhi enzim Betalaktamase (Penisilinase) yang memecah cincin Betalaktam.
  1. Aktivitas dan Mekanisme Kerja Penisilin Penisilin menghambat pembentukan Mukopeptida yang diperlukan untuk sintesis dinding sel mikroba. Terhadap mikroba yang sensitif, Penisilin akan menghasilkan efek bakterisid (membunuh kuman) pada mikroba yang sedang aktif membelah. Mikroba dalam keadaan metabolik tidak aktif (tidak membelah) praktis tidak dipengaruhi oleh Penisilin, kalaupun ada pengaruhnya hanya bakteriostatik (menghambat perkembangan).
    Oleh karenanya penting untuk menghabiskan antibiotika yang diresepkan dokter anda.
  2. Efek Samping Penisilin
    • Reaksi hipersensitif, mulai ruam dan gatal sampai serum sickness dan reaksi alergi sistemik yang serius.
    • Nyeri tenggorokan atau lidah, lidah terasa berbulu lembut, muntah, diare.
    • Mudah marah, halusinasi, kejang
  3. Sediaan dari Penisilin Antibiotika golongan penisilin yang beredar di pasaran untuk penggunaan oral adalah :
    1. Amoksisilin dan campurannya (asam klavulamat)
      • Bentuk tablet atau kapsul dengan kandungan Amoksisilin 250mg, 500 mg dan 875 mg. Agar Amoksisilin tidak rusak oleh asam lambung, Amoksisilin ada yang dikombinasi dengan asam Klavulamat 125 mg. Untuk sediaan ini tidak boleh dibagi/diracik karena kandungan optimum Asam Klavulamat untuk bentuk sediaan tablet 125 mg.
      • Bentuk sediaan sirup dengan kandungan Amoksisilin 125 dan 250 mg / 5 ml. Bila dikombinasi dengan Asam Kavulamat, 31,25 mg Asam Klavulamat dan 125 mg Amoksisilin atau 62,5 mg Asam Klavulamat dan 250 mg Amoksisilin.
      • Untuk sediaan injeksi biasa dalam bentuk vial 1.000 mg, dengan kombinasi Asam Klavulamat 200 mg.

    2. Ampisilin
      • Bentuk sediaan kapsul atau tablet dengan kandungan 250 mg, 500 mg atau 1000 mg.
      • Bentuk sediaan sirup dengan kandungan 125 mg atau 250 mg/5 ml sirup.
      • Untuk sediaan injeksi biasa dalam bentuk vial dengan kandungan 200 mg, 500 mg dan 1.000 mg Ampisilin. Dan ada kombinasi 1.000 mg Ampisilin dan 500 mg Sulbactam atau 500 mg Ampisilin dan 250 mg Sulbactam

    3. Flucloxacilin Di pasaran terdapat dalam bentuk kapsul dengan kandungan 250 mg dan 500 mg zat aktif juga dalam bentuk sirup dengan kandungan zat aktif 125 mg / 5 ml.
    4. Cloxacilin Di pasaran terdapat dalam bentuk kapsul dengan kandungan 250 mg dan 500 mg zat aktif juga dalam bentuk vial dengan kandungan zat aktif 250 mg, 500 mg dan 1.000 mg /vial.
    5. Piperacilin Di pasaran terdapat dalam kombinasi; 4 gram Piperacilin dengan 500 mg Tazobactam dalam bentuk vial.
    6. Sulbenicilin Di pasaran terdapat dalam bentuk vial dengan kandungan 1 gram dan 2 gram zat aktif.
    7. Derivat penisilin lainnya Seperti Phenoxymethyl Penicillin dan Benzathine Penicillin dalam bentuk vial untuk pemakaian injeksi.
  4. Penggunaan Klinik
    1. Infeksi kuman gram positif Kuman dalam bentuk kokus seperti Pneumonia, Meningitis, Endokarditis, Otitis Media akut dan Mastoiditis, juga infeksi Stafilokokus.
      Kuman dalam bentuk batang seperti Difteria, Klostridia, Antraks, Listeria, Erisipeloid.
    2. Infeksi kuman gram negatif Kuman dalam bentuk kokus seperti infeksi Meningokokus, Gonore, infeksi Gonokokus di ekstragenital, juga Sifilis.
      Kuman dalam bentuk batang seperti pada infeksi Salmonella dan Shigelia, Haemophilus influenzae, P. multocida.
Hal yang perlu diperhatikan sewaktu menggunakan antibiotika Penisilin :
  • Amati tanda-tanda alergi Penisilin, seperti ruam atau gatal, yang timbul dalam waktu 20 menit (atau setelah beberapa hari). Waspadalah terutama bila terjadi kesulitan bernafas, rasa tercekik, pusing, cemas, lemah, dan berkeringat. Laporkan segera pada dokter gejala-gejala tersebut.
  • Minumlah semua obat anda, walaupun anda sudah merasa sembuh, menghentikan pengobatan lebih awal dapat menyebabkan kekambuhan.
  • Jika anda lupa minum obat satu dosis, minumlah segera mungkin. Lalu jarak minum dosis obat yang tersisa pada hari itu diperpendek semuanya untuk memperbaiki dosis yang terlupa. Penisilin bekerja efektif bila kadar Penisilin dalam tubuh anda tetap.
  • Hindari makanan yang asam (jeruk asam, vitamin c) yang akan mengurangi keefektifan Penisilin.
  • Hubungi dokter anda jika gejala-gejala penyakit anda tidak membaik dalam waktu beberapa hari setelah menggunakan Penisilin.
Sumber : Buku farmakologi dan Terapi, edisi 4, Bagian farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia 1995.
Untuk pemilihan antibiotika Penisilin dan dosis/cara pakainya yang tepat ada baiknya anda harus periksakan diri dan konsultasi ke dokter.
Share:

Definisi ANTIBIOTIK

Definisi ANTIBIOTIK
Antibiotik dapat dikatakan sebagai perusak kehidupan, atau dapat disebut juga suatu zat kimiawi yang dihasilkan oleh mikroorganisme yang mempunyai kemampuan, dalam larutan encer, untuk menghambat pertumbuhan atau membunuh mikroorganisme lainnya.

Cara Kerja ANTIBIOTIK
Berdasarkan mekanisme kerjanya dapat dibagi menjadi lima kelompok yaitu:
1. Mengganggu metabolisme sel mikroba
Antimikroba yang termasuk dalam kelompok ini adalah sulfonamid, trimetoprin, asam p-aminosalisilat (PAS), dan Sulfon.

2. Menghambat sintesis dinding mikroba
Obat yang termasuk dalam kelompok ini ialah penisilin, sefalosporin, basitrasin, vankomisin, dan sikloserin.

3. Mengganggu permeabilitas membran sel mikroba
Obat yang termasuk dalam kelompok ini adalah polimiksin, golongan polien serta berbagai antimikroba kemoterapeutik, umpamanya antiseptik surface active agents.

4. Menghambat sintesis protein sel mikroba
Obat yang termasuk dalam kelompok ini ialah golongan aminoglikosid, makrolid, linkomisin, tetrasiklin, dan kloramfenikol.

5. Menghambat sintesis atau merusak asam nukleat sel mikroba
Obat yang termasuk dalam kelompok ini adalah rifampisin, dan golongan kuinolon.

Jenis-jenis ANTIBIOTIK
Meskipun ada lebih dari 100 macam antibiotik, namun umumnya mereka berasal dari beberapa jenis antibiotik saja, sehingga mudah untuk dikelompokkan. Ada banyak cara untuk menggolongkan antibiotik, salah satunya berdasarkan struktur kimianya.

Berdasarkan struktur kimianya, antibiotik dikelompokkan sebagai berikut:
a. Golongan Aminoglikosida
Diantaranya adalag amikasin, gentamisin, kanamisin, neomisin, netilimisin, paromisin, sisomisin, streptomisin, dan tobramisin.

b. Golongan Beta-Laktam
Diantaranya golongan karbapenem (ertapenem, imipenem, meropenem), golongan sefalosporin (sefaleksin, sefazolin, sefuroksim, sefadroksil, seftazidim), golongan beta-laktam monosiklik, dan golongan penisilin (penisilin, amoksisilin).

Salah satu contoh dari golongan beta-laktam ini adalah golongan sefalosporin dan golongan sefalosporin ini ada hingga generasi ketiga dan seftriakson merupakan generasi ketiga dari golongan sefalosporin ini.

Seftriakson
Obat ini umumnya aktif terhadap kuman gram-positif, tetapi kurang aktif dibandingkan dengan sefalosporin generasi pertama. Untuk meningitis obat ini diberikan dua kali sehari sedangkan untuk infeksi lain umumnya cukup satu kali dalam sehari.

Dosis lazim obat ini ialah 1-2 g/hari IM atau IV dalam dosis tunggal atau dibagi dalam 2 dosis. Seftriakson tersedia dalam bentuk bubuk obat suntik 0.25 ; 0.5 ; dan 1 g. Apabila obat ini diberikan sebanyak 250mg akan sangat ampuh dan tanpa komplikasi oleh karena itu menjadi pilihan utama untuk uretritis oleh gonokokus.

c. Golongan Glikopeptida
Diantaranya vankomisin, teikoplanin, ramoplanin dan dekaplanin.

d. Golongan Poliketida
Diantaranya golongan makrolida (eritromisin, azitromisin, klaritromisin, roksitromisin), golongan ketolida (telitromisin), golongan tetrasiklin (doksisiklin, oksitetrasiklin, klortetrasiklin).

e. Golongan Polimiksin
Diantaranya polimiksin dan kolistin.

f. Golongan Kuinolon (fluorokuinolon)
Diantaranya asam nalidiksat, siprofloksasin, ofloksasin, norfloksasin, levofloksasin, dan trovafloksasin.

Golongan ini dapat digunakan untuk infeksi sistemik. Mekanisme resistensi melalui plasmid seperti yang banyak terjadi pada antibiotika lain tidak dijumpai pada golongan kuinolon, namun dapat terjadi dengan mekanisme mutasi pada DNA atau membrane sel kuman.

Golongan flourokuinolon aktif sekali terhadap enterobacteriaceae (E. coli, Klebsiella, Enterobacter, Proteus), Shigella, Salmonella, Vibrio, C. jejuni, B. catarrhalis, H. influenza, dan N. gonorrhoeae. Golongan ini juga aktif terhadap Ps. Aeruginosa. Berbagai kuman yang telah resisten terhadap golongan aminoglikosida dam beta-laktam ternyata masih peka terhadap fluorokuinolon.

Streptokokus (termasuk S. pyogenes grup A, Enterococcus faecalis, dan Streptococcus viridans) termasuk ke dalam kuman yang kurang peka terhadap fluorokuinolon. Kuman-kuman anaerob pada umumnya resisten terhadap fluorokuinolon.

Golongan kuinolon baru umunya dapat ditoleransi dengan baik. Efek sampingnya yang terpenting adalah pada saluran cerna dan susunan saraf pusat. Manifestasi pada saluran cerna terutama berupa mual dan hilang nafsu makan, merupakan efek samping yang paling sering dijumpai. Efek samping pada susunan saraf pusat umumnya bersifat ringan berupa sakit kepala, vertigo dan insomnia.

Efek samping yang lebih berat pada SSP seperti reaksi psikotik, halusinasi, depresi dan kejang, jarang terjadi. Penderita berusia lanjut, khususnya dengan arteriosklerosis atau epilepsi, lebih cenderung mengalami efek samping susunan saraf ini.

g. Golongan Streptogramin
Diantaranya pristinamycin, virginiamycin, mikamycin, dan kinupristin-dalfopristin.

h. Golongan Oksazolidinon
Diantaranya linezolid dan AZD2563.

i. Golongan Sulfonamida
Diantaranya kotrimoksazol dan trimetoprim.

j. Antibiotika lain yang penting, seperti kloramfenikol, klindamisin dan asam fusidat.

Antibiotik dapat pula digolongkan berdasarkan organisme yang dilawan dan jenis infeksi. Berdasarkan keefektifannya dalam melawan jenis bakteri, dapat dibedakan antibiotik yang membidik bakteri gram positif atau gram negatif saja, dan antibiotik yang berspektrum luas, yaitu yang dapat membidik bakteri gram positif dan negatif.

Sumber: dari sini
Share:

Antibiotik berbahaya ?

Antibiotik merupakan obat dengan berbagai macam jenis yang ada sekarang ini, yang bertujuan untuk mengatasi infeksi bakteri dengan mekanisme kerja membunuh bakteri atau menghambat pertumbuhan bakteri. Antibiotik merupakan racun yang tertakar. Ya…racun yang sangat kuat untuk membunuh mikroba, namun relatif aman untuk manusia.
Kembali ke posting tentang bahaya antibiotik. Dikatakan di sana bahwa antibiotik dapat mempengaruhi bakteri usus, menyebabkan diare, reaksi alergi kulit, bahkan mempengaruhi efektifitas pil KB. Pada keadaan tertentu, bisa timbul resistensi bakteri. Hmmm, benar nggak ya ? berikut penjelasan yang bisa saya tulis di sini.

Kapan anda perlu antibiotik ?

Kayaknya saya perlu membahas ini di awal, karena menurut saya inilah yang paling penting anda ketahui, kapan anda perlu antibiotik.
Jika dokter anda meresepkan antibiotik, berarti anda dianggap menderita penyakit yang diakibatkan oleh infeksi bakteri, tentunya dari pemeriksaan fisis, dan penunjang seperti laboratorium darah, kultur, dan sebagainya.
Seorang dokter yang baik akan mempertimbangkan apakah memang perlu untuk meresepkan antibiotik untuk anda, ataukah cukup dengan memberikan obat lainnya. Sebab tidak semua penyakit dengan demam perlu diterapi dengan antibiotik. Sebagai contoh bayi yang kurang mendapat asupan ASI dari ibunya bisa jadi demam. Yang menyebabkan demamnya pada hal ini adalah dehidrasi, bukan infeksi. Anak yang menderita batuk, pilek yang tidak khas, bisa saja menderita common cold yang penyebab utamanya adalah virus, tentunya tak ada guna dengan antibiotik.
Atau kadang obat antibiotik diberikan juga untuk pencegahan. Jika memang ada alasan untuk pencegahan yang benar, misalnya untuk pasien yang akan menjalani operasi saluran cerna, yang sangat beresiko bakteri saluran cerna masuk lewat luka operasi yang dibuat, lalu beredar ke seluruh tubuh, maka dokter bedah biasanya memberikan instruksi pemberian antibiotik beberapa waktu sebelum operasi.

Apa efek samping yang mungkin timbul dari penggunaan antibiotik ?

Sangat banyak. Namun yang perlu anda ketahui tentang efek samping, yaitu dia tidak mesti timbul. Artinya dari segala macam yang tertera di buku tentang efek samping antibiotik, tidak ada panduan yang mana yang akan anda derita, itu sangat subyektif. Juga tidak beralasan untuk tidak meminum antibiotik yang diresepkan dengan alasan menghindari efek samping. Kita tidak akan pernah tahu kapan efek samping akan muncul. Dokter hanya akan memberi peringatan bagi pasien kalau-kalau dia merasa demikian dan demikian, maka bisa jadi itu efek samping yang timbul.
Kecuali, alergi. Jika anda pernah mengalami alergi dengan salah satu antibiotik, besar kemungkinan anda akan mengalaminya lagi jika diberikan antibiotik yang sama. Yang paling ditakutkan adalah syok anafilaktik, yaitu reaksi alergi yang sangat serius, berupa penurunan tekanan darah drastis, kegagalan jantung memompa, yang berakhir pada kematian.
Yang jelas, meminum antibiotik tidak sesuai indikasi, apalagi beli sendiri, sangat beresiko tinggi menimbulkan efek samping. Dan anda tidak tahu bagaimana menanganinya bukan ?
Adapun penggunaan antibiotik dalam waktu yang lama, memang sangat mungkin untuk menimbulkan efek samping berupa reaksi alergi, pertumbuhan jamur, gangguan fungsi organ seperti hati, ginjal, atau organ pendengaran. Yang jelas, penggunaan antibiotik dalam jangka waktu yang lama haruslah di bawah pengawasan dokter yang berkompeten, dan tahu efek yang bisa timbul dari obat yang diberikannya.

Mungkinkah sembuh tanpa penggunaan antibiotik ?

Pernah dulu, setelah menulis resep dan memberikannya , seorang pasien bertanya pada saya “Apa saya diberi antibiotik dok ?, soalnya setiap kali saya berobat, selalu ada antibiotiknya ”. Yang saya pahami adalah pasien ini khawatir tidak akan sembuh tanpa diberi antibiotik, karena selama ini dia selalu diberi dan ternyata selalu sembuh.
Sebagaimana telah saya singgung di atas bahwasanya tidak semua penyakit yang anda derita adalah penyakit akibat infeksi bakteri. Common cold malah bisa sembuh dengan sendirinya, jika memang perlu obat, paling hanya obat simptomatis yang berfungsi menghilangkan gejala yang mengganggu. Ingat bahwa tubuh anda punya antibodi alami yang fungsinya untuk melindungi anda dari segala macam penyakit. Jangan buat mereka lemah dengan terus menerus mengirim bantuan pasukan keamanan yang bernama antibiotik. Tentunya sesuai keadaan lho ya, kalau memang indikasi, ya… apa boleh buat, anda harus minum antibiotik.

Saya sudah sembuh, antibiotiknya masih sisa banyak, minum gak ya ?

Anda belum tentu sembuh sepenuhnya. Hilangnya gejala tidak berarti sebagian besar mikroba penyebab infeksi sudah mati. Jika anda berhenti minum antibiotik pada titik ini, apa yang bisa terjadi ? Resistensi. Bakteri punya kemampuan untuk mengubah diri sesuai tantangan yang ia terima, dengan mengubah struktur dinding selnya, ribosom, atau metabolismenya. Lebih lanjut baca tentang resistensi mikroba.
Tinggalkan sisa antibiotiknya, dan lain kali anda meminum antibiotik yang sama, mungkin sudah tidak mempan lagi. Mikroba itu pintar lho, jangan sampai mereka lebih pintar daripada anda.

Saran dari saya untuk anda !

Jika anda adalah pasien :
• Gunakan antibiotik yang diresepkan sesuai aturannya. Jangan mengurangi dosis dengan alasan anda sendiri, jangan pula menambahnya untuk mendapatkan penyembuhan yang lebih cepat.
• Beli sendiri antibiotik, no.. no… jangan coba-coba! . Pasti dari nyontek obat dokter yang dulu, atau dianjurkan sama teman. Belum tentu antibiotik itu cocok buat anda. Penyakit yang anda derita sekarang bisa jadi bukan yang dulu. Meresikokan diri minum antibiotik untuk hal yang belum jelas, ada resiko besar yang anda hadapi.
• Minum antibotiknya hingga tuntas, berantas habis mikroba dalam tubuh anda. Tentunya anda tidak ingin mikroba dalam tubuh anda resisten, dan menunggu hingga pertahanan tubuh anda kembali lemah untuk beraksi kembali. Masalah resistensi adalah masalah yang pelik, butuh kerjasama yang kuat dari banyak pihak seperti dokter, pasien, farmasi, dan pemerintah untuk menangkalnya.
• Jika ada efek samping yang anda rasakan setelah mengkonsumsi obat tersebut, segera hubungi dokter yang meresepkan obat anda. Kalaupun anda datang ke dokter yang lain, bawa serta obat tersebut. Sering kali saya mendapati pasien dengan keluhan efek samping obat, namun ia datang ke saya tanpa membawa obat tersebut, dan juga tidak tahu nama obatnya. Terus obat yang mana yang bikin efek samping ?
• Jangan lupa beritahu dokter jika anda pernah mengalami alergi dengan obat tertentu. Nah, tentunya ingat baik-baik nama obat itu, sebab tidak mungkin anda mengantonginya seumur hidup.
• Jika anda hamil, informasikan kepada dokter anda agar dipilihkan obat yang paling cocok dan paling aman. Memang statistik menunjukkan bahwa hanya 2-3% kejadian teratogenik berasal dari penggunaan obat, namun tentunya anda tidak ingin bayi anda jadi bagian dari korban tersebut.
Jika anda adalah teman sejawat dokter :
• Berikanlah selalu obat sesuai indikasinya, pasien adalah manusia dan mereka ingin diperlakukan seperti anda ingin diperlakukan. Anda lah yang lebih tahu segala macam tentang obat lebih daripada mereka. Ngerti kan.
• Berikan edukasi yang cukup bagi pasien dalam menggunakan obatnya, pastikan mereka mengerti manfaat yang diinginkan dan bahaya yang mengancam dari antibiotik.
Jika anda adalah apoteker, asisten apoteker, atau siapa saja yang mempunyai kebebasan memberikan obat pada seseorang.
Anda pasti tahu dalam setiap antibiotik ada tulisan “Hanya dengan resep dokter” . Tulisan itu bukan cuma-cuma, juga bukan konspirasi untuk membuat dokter lebih kaya. Di balik tulisan itu ada kemaslahatan yang diinginkan bagi sang pasien, yaitu agar pasien tidak sembarangan memakai obat. Orang bisa bebas membeli antibiotik dari apotik, salah satunya akibat izin anda lho. Dengan demikian, anda juga bertanggung jawab dengan kasus-kasus resistensi yang ada.
Sumber: dari sini
Share:

Hal yang perlu diperhatikan mengenai antibiotika

Oleh: Dr. Handrawan Nadesul

Antibiotika tentu bukan sesuatu yang asing. Namun, bagaimana antibiotika selayaknya digunakan, tak semua orang tahu.

1. Apa sebetulnya manfaat antibiotika?
Antibiotika adalah senyawa kimia yang dibuat untuk melawan bibit penyakit, khususnya kuman. Ada beragam jenis kuman, ada kuman yang besar, ada yang kecil, dengan sifat yang beragam pula.
Share:

Amikasin

Deskripsi
- Nama & Struktur Kimia : 6-O-(3-amino-3-deoxy-a-D-glucopyranosil)-4-O-(6-amino-6-deoxy--a-D-glucopyranosil)-N
- Sifat Fisikokimia : Serbuk berwarna putih atau hampir putih, larut sebagian dalam air, praktis tidak larut dalam alkohol dan aseton, sedikit larut dalam metil alkohol.
- Keterangan : pH 1% larutan dalam air : 9.5-11.5

Golongan/Kelas Terapi
Anti Infeksi

Nama Dagang
- Alostil - Amikin - Amikin - Mikasin
klik disini

Indikasi
Pengobatan infeksi serius dari organisme yang resisten terhadap Gentamisin dan Tobramycin, termasuk Pseudomonas, Proteus, Serratia, dan basil gram-negatif lain (infeksi tulang, infeksi saluran napas, endocarditis, dan septicemia); infeksi mikobakteri yang sensitif terhadap amikasin.

Dosis, Cara Pemberian dan Lama Pemberian
a. Dosis :
• Diperlukan penyesuaian dosis karena mempunyai indeks terapi yang sempit.
Penggunaan pada berat badan ideal untuk menentukan mg/kg BB/dosis diperlukan untuk memberikan dosis yang lebih tepat dari dosis berdasarkan berat badan total. Obesitas, dosis dapat dihitung : Berat Badan Ideal + 0,4 (Total Berat Badan-Berat Badan Ideal). Bayi, anak dan dewasa : I.M. , I.V. : 5 – 7,5 mg/kg BB/dosis setiap 8 jam. Beberapa dokter menyarankan dosis sehari 15-20 mg/kg BB untuk semua pasien dengan fungsi ginjal yang normal. Dosis interval pada penurunan fungsi ginjal:

ClCr >=60 mL/menit : diberikan setiap 8 jam
ClCr 40-60 mL /menit :diberikan setiap 12 jam
ClCr 20-40mL /menit : diberikan setiap 24 jam
ClCr <20>7 hari : 4-5 jam

• Anak : 1,6-2,5 jam
• Dewasa : Fungsi ginjal normal : 1,4-2,3 jam; anuria / penyakit ginjal : 28-86 jam

e. Kadar puncak : I.M. : 45-120 menit
f. Ekskresi : urin (94%-96%)

Stabilitas Penyimpanan
Stabilitas :
• Pada suhu kamar stabil selama 24 jam
• Campuran dengan D5W, D5 ¼ NS, D51/2 NS, NS, RL yang disimpan dalam lemari pendingin stabil selama 2 hari

Kontraindikasi
• Hipersensitif terhadap amikasin atau komponen lain dalam sediaan.
• Sensitivitas silang dengan aminoglikosida lainnya dapat terjadi.

Efek Samping
1% - 10% :
Susunan saraf pusat : Neurotoksisitas
Telinga :Ototoksisitas (auditor), Ototoksis (vestibular)
Ginjal : nefrotoksisitas

<1% style="font-weight: bold;">
Interaksi Dengan Obat Lain :
• Amikasin dapat meningkatkan atau memperpanjang efek dari agen bloker neuromuskular.
• Penggunaan bersama amfoterisin (atau obat nefrotoksik lain) dapat meningkatkan risiko nefrotoksisitas dari amikasin.
• Resiko ototoksisitas amikasin dapat meningkat dengan obat ototoksik lain.

Dengan Makanan : -

Pengaruh
- Terhadap Kehamilan : Faktor risiko : C
- Terhadap Ibu Menyusui : Amikasin didistribusikan ke dalam air susu sehingga penggunaannya harus disertai perhatian.
- Terhadap Anak-anak : -
- Terhadap Hasil Laboratorium : Beberapa derivat penisilin akan mempercepat degrasi aminoglikosida secara in vitro, karena adanya penurunan konsentrasi serum aminoglikosida.

Parameter Monitoring
Urinanalysis, BUN, serum kreatinin, konsentrasi kadar puncak, tanda vital, temperature, berat badan, pendengaran. Beberapa derivat penicillin dapat mempercepat degradasi aminoglikosida secara in-vitro. Bentuk Sediaan Injeksi, Larutan Sebagai Sulfat 50 mg/ml (2 ml, 4 ml), 62,5 mg/ml (4 ml), 250 mg/ml (2 ml, 4 ml) Mengandung Metabisulfit.

Peringatan
• Dosis dan atau frekuensi pemberian harus dimonitor dan dimodifikasi terhadap pasien penurunan fungsi ginjal
• Obat dihentikan jika ada tanda ototoksisitas, nefrotoksisitas, atau terjadi hipersensitifitas
• ototoksisitas proporsional dengan jumlah obat yang diberikan dan lama pengobatan.
• Tinnitus atau vertigo dapat menjadi indikasi dari vestibular injury
• Kerusakan ginjal biasanya reversible

Kasus Temuan
Dalam Keadaan Khusus
- Informasi Pasien
a. Bentuk sediaan yang diberikan
b. Cara pemakaian
c. Apa yang dilakukan jika pasien lupa minum obat
d. Interaksi yang mungkin terjadi
e. Cara penyimpanan

Mekanisme Pasien
Menghambat sintesis protein bakteri yang peka dengan cara berikatan dengan sub unit ribosom 30S.

Monitoring Penggunaan Obat
-

Daftar Pustaka
AHFS
Drug Information 2005
Drug Information
Hand Book Edisi 14
British National Formulary
Martindale The Extra Pharmacopeian Meylers
Side Effects of Drugs
MIMS 2005

Sumber: dari sini
Share:

Kanamisin

KANAMYCIN SANBE
GOLONGAN
GENERIK
Kanamycin sulphate/ Kanamisin Sulfat.
INDIKASI
Septikemia, infeksi saluran nafas, meningitis, infeksi saluran kemih yang berkomplikasi, gonore yang resisten terhadap Penisilin, antituberkulosa sekunder.
KONTRA INDIKASI
Hipersensitivitas.
PERHATIAN
Gangguan fungsi ginjal.
Hamil.
Interaksi obat : neuromuskular bloker, obat-obat lain yang dapat mengakibatkan ototoksis, dan nefrotoksis, dan diuretika.
EFEK SAMPING
Ototoksisitas & nefrotoksisitas.
INDEKS KEAMANAN PADA WANITA HAMIL
D: Positif ada kejadian yang berbahaya pada janin manusia, tetapi keuntungan dari penggunaan oleh wanita hamil mungkin dapat diterima walaupun berisiko. (Misalnya jika obat digunakan untuk situasi menyelamatkan nyawa atau penyakit yang serius dimana obat yang lebih aman tidak dapat digunakan atau tidak efektif).
KEMASAN
Vial 1 gram x 10 biji.
DOSIS
  • Dewasa : 15 mg/kg berat badan/hari.
    Maksimal 1,5 gram sehari dalam 2 atau 3 dosis terbagi.
    Dosis maksimal yang digunakan selama pengobatan : 15 gram.
    Gonore : 2 gram sebagai dosis tunggal.
  • Anak-anak : 15 mg/kg berat badan/hari atau kurang.
    Disuntikkan intramuskular (IM).
  • Share:

    Gentamisin

    Deskripsi
    - Nama & Struktur Kimia : Gentamisin sulfat.
    - Sifat Fisikokimia : Serbuk agak keputih-putihan. Larut baik dalam air, tidak larut dalam alkohol, aseton, kloroform, eter dan benzen.
    - Keterangan : -

    Golongan/Kelas Terapi
    Anti Infeksi

    Nama Dagang
    - Diprogenta - Gentak - Gentamerc - Gentamisin
    - Gentana - Genoptik
    klik disini

    Indikasi
    Infeksi :
    Gram negatif (Pseudomonas, Proteus, Serratia) dan Gram positif (Staphylococcus), infeksi tulang, infeksi saluran nafas, infeksi kulit dan jaringan lunak, infeksi saluran urin, abdomen, endokarditis dan septikemia , penggunaan topical, dan profilaksis untuk bakteri endokarditis dan tindakan bedah.

    Dosis, Cara Pemberian dan Lama Pemberian
    Dosis diberikan secara individu karena indek terapinya relatif sempit

    • Dosis umum :
    Bayi dan anak < 5 tahun : 2,5 mg/kg BB setiap 8 jam secara i.v. atau i.m.
    Anak > 5 tahun : 2 - 2,5 mg/kg BB setiap 8 jam secara i.v. atau i.m.

    Note : Usual dose yang lebih tinggi dan/atau frekuensi yang lebih tinggi (setiap 6 jam) yang diberikan pada kondisi klinik secara selektif ( cystic fibrosis) data serum level yang dibutuhkan

    • Anak dan dewasa :
    Intratekal : 4 – 8 mg/hari

    Optalmik :
    Salep : Dioleskan pada mata 2 – 3 kali sehari sampai setiap 3 – 4 kali
    Tetes mata : Teteskan pada mata yang sakit 1 – 2 tetes setiap 2 – 4 jam, naikan 2 tetes setiap jam untuk infeksi parah

    Topikal :
    Salep : Salep dioleskan pada kulit yang sakit 3 – 4 kali sehari
    Dewasa : Diberikan secara i. v. atau i. m.

    Konfensional : 1 – 2,5 mg/kg BB/ dosis setiap 8 – 12 jam untuk mendapatkan kadar puncak secara cepat pada terapi, dosis inisial yang lebih tinggi dapat diberikan dengan pertimbangan yang cermat untuk pasien jika cairan ekstraseluler meningkat (udem, syok

    Dosis tunggal : 4 – 7 mg/kg BB/dosis tunggal/hari; beberapa klinisi memberikan rekomendasi dosis tersebut untuk pasien yang fungsi ginjalnya normal.

    • Indikasi spesifik :`

    Bruselosis : 240 mg/hari i.m. atu 5 mg/kg BB/hari secara i. v. selama 7 hari. Dapat juga dikombinasi dengan Doxyciclin

    Kolangitis : 4 – 6 mg/kg BB/hari dikombinasi dengan Ampisilin

    Divertikulitis (komplikasi) : 1,5 – 2 mg/kg BB setiap 8 jam (kombinasi dengan Ampisilin dan Metronidazol)

    Profilaksis endokarditis : Gigi, mulut, saluran nafas bagian, atas, saluran pencernaan, saluran urin 1,5 mg/kg BB dikombinasi dengan Ampisilin 50 mg/kg BB 30 menit sebelum operasi

    Endokarditis atau sejenisnya (untuk infeksi Gram Positif) : 1 mg/kg BB setiap 8 jam (kombinasi dengan Ampisilin)

    Meningitis Listeria : 5 – 7 mg/kg BB/hari dikombinasi dengan Penicillin selama 1 minggu

    Meningitis Neonatal, 0 – 7 hari :

    Neonatal dengan BB <> 2000 gr : 2,5 mg/kg BB setiap 12 jam

    Meningitis Neonatal, 8 – 28 hari :

    Neonatal dengan BB <> 2000 gr : 2,5 mg/kg BB setiap 8 jam

    Inflamasi pelvik :

    Loading Dose : 2 mg/kg BB, selanjutnya 1,5 mg/kg BB setiap 8 jam

    Alternate therapy : 4,5 mg/kg BB/hari

    Plague (Yersinia pestis) : 5 mg/kg BB/hari diikuti dengan postexposture dengan Doksisiklin.

    Pneumonia : 7 mg/kg BB/hari dikombinasi dengan antipseudomonas beta laktam atau Carbapenem

    Tularemia : 5 mg/kg BB/hari dibagi setiap 8 jam untuk 1 – 2 minggu

    Infeksi saluran Urin :1,5 mg/kg BB/dosis setiap 8 jam

    • Interval Dosis pada penurunan fungsi ginjal
    Dosis konvensional :
    Klirens kreatinin >= 60 ml/menit : diberikan setiap 8 jam
    Klirens kreatinin 40 – 60 ml/menit : diberikan setiap 12 jam
    Klirens kreatinin 20 – 40 ml/menit : diberikan setiap 24 jam
    Klirens kreatinin < 20 ml/menit : loading dose, kemudian monitor Dosis tinggi untuk terapi : Interval diperpanjang ( mis. setiap 48 jam) pada pasien dengan gangguan ginjal yang moderat (klirens kreatinin 30 – 59 mL/menit) dan atau dasar perhitungan pada serum level determination.
    Hemodialisa : Dilanjutkan dengan dialisa : 30% lanjutan dari Aminoglikosida dilaksanakan selama 4 jam hemodialisa.; pemberian dosis selama hemodialisa dan follow level .
    Terapi lanjutan dengan Continuous ambulatory peritoneal dialysis (CAPD) : Pemberian melalui cairan CAPD :
    o Infeksi Gram–negative : 4 – 8 mg/L(4 – 8 mc/L) dari cairan CAPD
    o Infeksi Gram–positif (mis. siergis) : 3 – 4 mg/L (mcg/L) dari cairan CAPD Pemberian injeksi dengan rute i. m. Atau i. v. Selama CAPD.
    Dosis untuk Clcr <1 mL/menit dan follow level Lanjutan melalui kontinius arterovenous atau venovenous hemofiltration : Dosis untuk Clcr 10 - 40 mL/menit dan follow level •
    Penyesuaian dosis pada penyakit hepar : Monitor konsentrasi dalam plasma
    b. Cara pemberian : • Injeksi i. m.atau i.v. • Tetes mata
    c. Lama penggunaan : Sesuai dengan aturan pada pemberian dosis

    Farmakologi
    Didistribusikan melalui plesenta Volume distribusi meningkat pada odem, asites dan menurun pada dehidrasi.
    Neonatus : 0,4- 0,6 per kg BB, Anak 0,3 -0,35 /kg BB. Dewasa 0,2-0,3 /kg BB
    Protein binding : < 30 %

    Waktu paruh eliminasi :
    Infant : umur < 1 minggu 3-11,5 jam.
    1 minggu -6 bulan 3-3,5 jam.
    Dewasa ; 1,5-3 jam.
    Pasien dengan gangguan ginjal 36-70 jam

    Kadar puncak serum : i.m 30-90 menit; i.v. 30 menit setelah pemberian dengan infus Ekskresi : Urin

    Stabilitas Penyimpanan
    Stabilitas :
    • Stabil selama 30 hari setelah kemasan ditusuk
    • Stabil selama 24 pada suhu kamar dalam campuran NaCl fisiologis atau Dextrosa 5%
    Penyimpanan :
    • Tidak berwarna sampai kuning muda pada penyimpanan pada suhu 2% - 30%
    • Jangan disimpan di refrigerator


    Kontraindikasi
    Hipersensitif terhadap Gentamisin dan Aminoglikosida lain

    Efek Samping
    > 10%
    - Susunan syaraf pusat : Neurotosisitas (vertigo, ataxia)
    - Neuromuskuler dan skeletal : Gait instability
    - Otic : Ototoksisitas (auditory), Ototoksisitas (vestibular)
    - Ginjal : Nefrotoksik ( meningkatkan klirens kreatinin)

    1% – 10%
    - Cardiovaskuler : Edeme
    - Kulit : rash, gatal, kemerahan

    < 1%
    - Agranulositosis
    - Reaksi alergi
    - Dyspnea
    - Granulocytopenia
    - Fotosensitif
    - Pseudomotor Cerebral
    - Trombositopeni Interaksi
    - Dengan Obat Lain :
    Penisilin, Sefalosporin, Amfoterisin B, Diuretik dapat meningkatkan efek nefrotoksik, efek potensiasi dengan neuromuscular blocking agent
    - Dengan Makanan : Harus dipertimbangkan terhadap diet makanan yang mengandung Calcium, magnesium , potassium Pengaruh
    - Terhadap Kehamilan : Factor risiko : C
    - Terhadap Ibu Menyusui : Dieksresi melalui ASI dalam jumlah kecil
    - Terhadap Anak-anak : -
    - Terhadap Hasil Laboratorium : - Parameter Monitoring Analisis urin, jumlah urin yang keluar BUN, serum kreatinin, pemantauan pendengaran untuk pemakaian > dari 2 minggu

    Bentuk Sediaan
    - Krem, Topical Sebagai Sulfat 0,1 % (15 g, 30 g)
    - Infus, Sebagai Sulfat (Premixed in NS) 40 mg (50 ml); 60 mg (50 ml, 100 ml); 70 mg (50 ml); 80 mg (50 ml, 100 ml);90 mg (100 ml); 100 mg (50 ml, 100 ml); 120 mg (100 ml)
    - Larutan Injeksi, Sebagai Sulfat 10 mg/ml (6 ml, 8 ml,10 ml) Vial
    - Larutan Injeksi, Sebagai Sulfat 40 mg/ml (2 ml, 20 ml) (Dapat Mengandung Metabisulfit)
    - Larutan Injeksi, Pediatrik Sebagai Sulfat 10 mg/ml (2 ml) (Dapat mengandung Metabisulfit)
    - Larutan Injeksi, Pediatrik Sebagai Sulfat (Preservative Free) : 10 mg/ml (2 ml)
    - Saleb Mata Sebagai Sulfat 0,3% (3 mg/g (3,5 g))
    - Saleb Kulit Sebagai Sulfat 0,1% (15 g, 30 g)
    - Tetes Mata Sebagai Sulfat 0,3% (5 ml, 15 ml) Mengandung Benzalkonium Klorida

    Peringatan
    • Jangan digunakan pada pengobatan yang lama karena dapat berisiko toksik pemberian yang lama yaitu penurunan fungsi ginjal, miastenia gravis, hipokalsemia, kondisi dengan depresi neuromuskuler transmitens

    • Aminoglikosoda secara parenteral dapat menimbulkan nefrotoksisitas dan ototoksisitas dapat secara langsung secara proporsional dengan jumlah obat yang diberikan dan durasi pengobatan; tinnitus atau vertigo adalah indikasi dari vestibular injuri dan mengancam hilangnya pendengaran.

    Kasus Temuan Dalam Keadaan Khusus
    -

    Informasi Pasien
    a. Bentuk sediaan yang diberikan
    b. Cara pemakaian
    c. Apa yang dilakukan jika pasien lupa minum obat
    d. Interaksi yang mungkin terjadi
    e. Cara penyimpanan

    Mekanisme Aksi
    -

    Monitoring Penggunaan Obat
    -

    Daftar Pustaka
    AHFS Drug Information 2005
    Drug Information Hand Book Edisi 14
    British National FormularyMartindale The Extra Pharmacopeian
    Meylers Side Effects of Drugs
    MIMS 2005
    Share:

    Ethambutol

    Deskripsi
    - Nama & Struktur Kimia : Ethambutol hydrochlorida
    - Sifat Fisikokimia : Etambutol hidroklorida merupakan serbuk kristal berwarna putih, sangat larut dalam air dan larut dalam alkohol. pKa 6,1 dan 9,2
    - Keterangan : Etambutol hidroklorida adalah senyawa sintetik antituberkulosis

    Golongan/Kelas Terapi
    Anti Infeksi

    Nama Dagang
    - Arsitam - Bacbutol - Cetabutol - Corsabutol
    - ETH Ciba 400 - Parabutol - Santibi/Santibi - Tibigon
    - Tibitol - Ethambutol (Generik)
    klik disini

    Indikasi
    Antituberkulosa.

    Penggunaan bukan sebagai obat tunggal, tetapi dikombinasi dengan paling sedikit satu macam obat antituberkulosa. Misalnya Rifampisin dan INH.


    Dosis, Cara Pemberian dan Lama Pemberian

    Pengobatan tuberkulosis:
    Catatan : digunakan sebagai multidrug regimen. Regimen pengobatan meliputi fase awal selama 2 bulan diikuti dengan pengobatan fase lanjutan selama 4 hingga 7 bulan, frekwensi dan dosis berbeda tergantung dari fase terapi.

    Anak-anak:
    Terapi harian 15 – 20 mg/kg/hari (maksimum : 1 g/hari)
    Dua kali seminggu DOT (directly observed therapy) : 50 mg/kg (maksimal 4 g/dosis)

    Dewasa :
    Terapi harian 15 – 25 mg/kg
    40 – 55 kg : 800 mg
    56 – 75 kg : 1200 mg
    76 – 90 kg : 1600 mg

    Pada penderita yang pernah mendapat pengobatan antituberkulosa sebelumnya, dosis ethambutol adalah : 25 mg/kg BB/hari dalam dosis tunggal setiap 24 jam.

    Dua kali seminggu DOT (directly observed therapy): 50 mg/kg
    40 – 55 kg : 2000 mg
    56 – 75 kg : 2800 mg
    76 – 90 kg : 4000 mg

    Tiga kali seminggu DOT (directly observed therapy): 25 – 30 mg/kg (maksimal 2,5 g)
    40 – 55 kg : 1200 mg
    56 – 75 kg : 2000 mg
    76 – 90 kg : 2400 mg

    Diseminated Mycobacterium Avium Complex (MAC) pada pasien dengan infeksi HIV : 15 mg/kg etambutol dalam kombinasi dengan azitromisin 600 mg sehari

    Interval dosis pada kerusakan ginjal :
    Clcr 10 – 50 ml/menit : pemberian tiap 24 – 36 jam
    Clcr < style="font-weight: bold;">Farmakologi
    Absorbsi : ~ 80%
    Distribusi : terdistribusi secara luas dalam tubuh; terkonsentrasi dalam ginjal, paru, saliva dan sel darah merah
    Difusi relatif dari darah ke dalam Ccairan serebrospinal : cukup dengan atau tanpa inflamasi

    Cairan serebrospinal: normal meninges : 0% ; inflamasi meninges : 25%
    Ikatan protein : 20% hingga 30%
    Metabolisme : hepatik (20%) menjadi bentuk metabolit inaktif
    T½ eliminasi 2.5-3.6 jam; gagal ginjal terminal : 7-15 jam
    Waktu untuk mencapai kadar puncak, serum: 2-4 jam
    Ekskresi : urin (~ 50%) dan feses (20%) dalam bentuk obat yang tidak berubah

    Stabilitas Penyimpanan
    Simpan pada suhu kamar yang terkontrol 20°C hingga 25°C
    Tablet etambutol hidroklorida harus disimpan dalam wadah tertutup rapat, dilindungi dari cahaya, kelembaban dan suhu panas yang berlebihan.

    Kontraindikasi
    Neuritis optik, keterbatasan penglihatan,

    Efek Samping
    Neuritis optik, buta warna merah/hijau , neuritis perifer, ruam (jarang terjadi) , pruritus, urtikaria dan trombositopenia.

    Interaksi
    - Dengan Obat Lain : Menurunkan efek : absorbsi menurun jika digunakan bersama alumunium hidroksida. Hindari penggunaan bersama dengan antasida yang mengandung alumunium, beri jarak minimal 4 jam dari pemberian etambutol

    - Dengan Makanan : Dapat digunakan bersama dengan makanan karena absorbsi tidak dipengaruhi oleh makanan, dapat menyebabkan iritasi lambung.

    Pengaruh
    - Terhadap Kehamilan : Tidak diketahui apakah berbahaya bagi janin. Faktor risiko : C. Belum ada penelitian yang adecuat dan “well-controled” pada wanita hamil; efek teratogenik terjadi pada penelitian dengan hewan. Etambutol telah digunakan dengan aman selama kehamilan.

    - Terhadap Ibu Menyusui : Hanya sejumlah kecil berada pada air susu. Masuk dalam air susu ibu / gunakan dengan hati-hati (AAP mempertimbangkan “compatible”)

    - Terhadap Anak-anak : Tidak direkomendasikan untuk penggunaan anak-anak dibawah umur 13 tahun

    - Terhadap Hasil Laboratorium : -

    Parameter Monitoring
    Tes visual, tes renal, hepatik dan hematopoetic

    Bentuk Sediaan
    Tablet 250 mg, 500 mg

    Peringatan
    Penurunan dosis pada kerusakan ginjal dan jika klirens kreatinin kurang dari 30 ml/menit, juga monitor konsentrasi plasma etambutol ; pasien usia lanjut; kehamilan, tes ketajaman penglihatan sebelum pengobatan dan peringatkan pasien untuk segera melaporkan jika terjadi perubahan dalam penglihatan; anak-anak direkomendasikan melakukan monitoring oftalmologi secara rutin.

    Kasus Temuan Dalam Keadaan Khusus
    -

    Informasi Pasien
    Jumlah dan frekuensi penggunaan obat tergantung dari beberapa faktor, seperti kondisi pasien, umur dan berat badan. Bila anda mempunyai pertanyaan yang berkaitan dengan jumlah dan/ frekuensi pemakaian obat tanyakan pada dokter atau apoteker. Obat ini harus digunakan bersama dengan obat tuberkulosis yang lain. Obat ini harus digunakan satu kali tiap 24 jam. Dapat digunakan bersama atau tanpa makanan. Selama menggunakan obat ini, disarankan untuk melakukan pemeriksaan penglihatan tiap bulan. Hubungi dokter jika terjadi perubahan pada penglihatan. Ketajaman penglihatan biasanya dapat kembali seperti semula setelah beberapa minggu hingga beberapa bulan setelah pengobatan dihentikan Jangan menghentikan pemakaian obat ini tanpa berkonsultasi dengan dokter Kondisi medis awal pasien harus diceritakan pada petugas kesehatan sebelum menggunakan obat ini. Jangan menggunakan obat melebihi jumlah yang telah diresepkan, kecuali atas anjuran dokter. Jangan menggunakan OTC atau obat resep yang lain tanpa memberitahu dokter yang merawat. Jika pasien lupa minum obat, segera mungkin minum obat setelah ingat. Jika terlewat beberapa jam dan telah mendekati waktu minum obat berikutnya jangan minum obat dengan dosis ganda, kecuali atas saran dari dokter atau apoteker. Jika lebih dari satu kali dosis terlewat, hubungi dokter atau apoteker.

    Mekanisme Aksi
    Menekan multiplikasi bakteri, dengan cara mengganggu sintesis RNA.

    Monitoring Penggunaan Obat
    -

    Daftar Pustaka
    BNF 50
    AHFS Drug Information 2005
    MIMS Indonesia 2006/2007
    Drug Fact & Comparisons 2003
    Drug Information Handbook
    Share:

    Streptomisin

    Deskripsi
    - Nama & Struktur Kimia : Sinonim : dihydrostreptomycin sulfate ; Streptomycin sulfate. C21H41N7O12
    - Sifat Fisikokimia : Obat ini dalam perdagangan berada dalam bentuk garam sulfat. Streptomisin sulfat merupakan serbuk hygroskopis warna putih yang tidak berbau. Obat ini larut dalam air dan sangat larut dalam alkohol.Injeksi Steptomisin sulfat dalam perdagangan tersedia dalam bentuk serbuk steril liofilik tanpa pengawet atau dalam bentuk larutan steril
    - Keterangan : Streptomisin adalah antibiotik aminoglikosida berasal dari kultur Streptomyces griseus.

    Golongan/Kelas Terapi
    Anti Infeksi

    Nama Dagang
    -

    Indikasi
    Tuberkulosis, dalam bentuk kombinasi dengan obat lain, bersama dengan doksisiklin pada pengobatan brucellosis; enterococcal endokarditis .Streptomisin saat ini semakin jarang digunakan kecuali untuk kasus resistensi

    Dosis, Cara Pemberian dan Lama Pemberian
    Dengan injeksi intramuskular dalam. Obat ini diberikan secara intra muskular dengan dosis 15 mg/kg (maksimal 1 g) sehari ; dosis diturunkan pada pasien dengan berat badan di bawah 50 kg, pada usia diatas 40 tahun atau pasien dengan kerusakan ginjal. Konsentrasi obat dalam plasma harus diukur pada pasien dengan kerusakan ginjal dan harus digunakana secara hati-hati

    Farmakologi
    Absorbsi : IM : diabsorbsi dengan baik
    Distribusi : terdistribusi ke dalam cairan ekstraselular termasuk serum, absces, ascitic, perikardial, pleural, sinovial, limfatik, dan cairan peritoneal; menembus plasenta; dalam jumlah yang kecil masuk dalam air susu ibu .
    Ikatan protein : 34%
    T½ eliminasi : bayi baru lahir : 4-10 jam; dewasa 2-4.7 jam, waktu bertambah panjang pada kerusakan ginjal.
    Waktu untuk mencapai kadar puncak, serum: dalam 1 jam
    Ekskresi : urin ( 90% dalam bentuk obat yang tidak berubah); feses,saliva, keringat dan air mata (<> 50 mcg/mL

    Stabilitas Penyimpanan
    Tergantung dari produsen obat, larutan yang telah di rekonstitusi tetap stabil selama 2 – 4 minggu jika disimpan dalam refrigerator ; paparan sinar matahari menyebabkan warna larutan menjadi gelap tanpa kehilangan potensinya secara nyata.

    Kontraindikasi
    Hipersensitivitas terhadap streptomycin atau komponen lain dalam sediaan; kehamilan.

    Efek Samping
    Reaksi hipersensitivitas, paraesthesia pada mulut

    Interaksi
    - Dengan Obat Lain : Meningkatkan efek/toksisitas ; peningkatan/perpanjangan efek dengan senyawa depolarisasi dan nondepolarisasi neuromuscular blocking. Penggunaan bersama dengan amfoterisin dan diuretic loop dapat meningkatkan nefrotoksisitas.
    - Dengan Makanan : -

    Pengaruh
    - Terhadap Kehamilan : Pada trimester ke 2 dan ke 3 , meningkatnya resiko kerusakan syaraf vestibular dan auditori. Faktor risiko : D

    - Terhadap Ibu Menyusui : Streptomisin terdistribusi ke dalam air susu ibu

    - Terhadap Anak-anak : -

    - Terhadap Hasil Laboratorium : Interaksi dengan tes laboratorium : terjadi reaksi positif palsu pada pemeriksaan glukosa urin dengan Clinitest® atau larutan Benedict’s.

    Parameter Monitoring
    Pendengaran (audiogram), BUN, kreatinin; konsentrasi obat dalam serum.

    Bentuk Sediaan
    Serbuk Injeksi

    Peringatan
    Gunakan dengan hati-hati pada pasien dengan riwayat vertigo, tinnitus, hilang pendengaran, gangguan neuromuscular, atau kerusakan ginjal ; penyesuaian dosis pada pasien dengan kerusakan ginjal;aminoglikosida terkait secara signifikan dengan nefrotoksik atau ototoksik ; reaksi ototoksik proporsional dengan jumlah obat yang diberikan dan durasi pengobatan; tinitus atau merupakan tanda dari kerusakan vestibular dan akan terjadi kerusakan irreversibel bilateral ; kerusakan ginjal biasanya reversibel.

    Kasus Temuan Dalam Keadaan Khusus
    -

    Informasi Pasien
    Jumlah dan frekuensi penggunaan obat tergantung dari beberapa faktor, seperti kondisi pasien, umur dan berat badan. Bila anda mempunyai pertanyaan yang berkaitan dengan jumlah dan/ frekuensi pemakaian obat tanyakan pada apoteker. Dokter atau apoteker harus memperhatikan apakah muncul tanda-tanda reaksi toksik (sakit kepala, mual, muntah) akibat penggunaan obat. Larutan injeksi harus diperiksa terhadap adanya partikel dan perubahan warna sebelum diberikan kepada pasien. Kondisi medis awal pasien harus diceritakan pada petugas kesehatan sebelum menggunakan obat ini. Jangan menggunakan OTC atau obat resep yang lain tanpa memberitahu dokter yang merawat. Jika pasien lupa minum obat, segera mungkin minum obat setelah ingat. Jika terlewat beberapa jam dan telah mendekati waktu minum obat berikutnya jangan minum obat dengan dosis ganda, kecuali atas saran dari tenaga kesehatan . Jika lebih dari satu kali dosis terlewat, mintalah nasehat dokter atau apoteker . Jika anda mempunyai pertanyaan tentang obat ini, tanyakan pada apoteker.

    Mekanisme Aksi
    Menghambat sintesa protein dari bakteri melalui ikatan dengan subunit ribosomal 30S menyebabkan kesalahan urutan peptida dalam membentuk rantai protein

    Monitoring Penggunaan Obat
    Pendengaran (audiogram), BUN, creatinin; konsentrasi obat dalam serum harus dimonitor pada semua pasien; kerusakan saraf kranial ke 8 biasanya didahului dengan tinitus, rasa penuh pada telinga, gangguan pendengaran, dan dapat menetap hingga beberapa minggu setelah pengobatan dihentikan

    Daftar Pustaka
    BNF 50
    AHFS Drug Information 2005
    MIMS Indonesia 2006/2007
    Drug Fact & Comparisons 2003
    Drug Information Handbook
    Share:

    ANTIBIOTIKA GOLONGAN LAIN

    Antiobiotika golongan lain yang ada di Indonesia adalah : Klindamisin, metronidazol, colistin, tinidazol, fosfomycin, teicoplanin, vancomycin dan linezolid. Berikut informasi detail dari antibiotika golongan lain :
    1. Klindamisin

      Klindamisin digunakan untuk infeksi bakteri anaerob. Seperti infeksi pada saluran nafas, septikemia, dan peritonitis. Untuk pasien yang sensitif terhadap penisilin Klindamisin juga dapat digunkan untuk infeksi bakteri aerobik. Klindamisin juga dapat digunakan untuk infeks pada tulang yang disebabkan staphylococcus aureus. Sediaan topikalnya dalam bentuk Klindamisin posfat digunkan untuk jerawat yang parah.

      Klindamisin efektif untuk infeksi yang disebabkan mikroba sebagai berikut :

      • Bakteri aerobik gram positif seperti golongan Staphylococus dan Streptococus (pneumococcus)
      • Bakteri anaerobik gram negatif termasuk golongan Batericoides dan Fusobacterium

    2. Metronidazol

      Metronidazol efektif untuk bakteri anaerob dan protozoa yang sensitif karena beberapa organisme memiliki kemampuan untuk mengurangi bentuk aktif metronidazol di dalam selnya. Secara sistemik metronidazol digunakan untuk infeksi anaerobik, trikomonasis, amubiasis, lambiasis dan amubiasis hati.


    3. Colistin

      Colistin digunakan dalam bentuk sulfat atau kompleks sulfomethyl, colistimetate. Tablet Colistin sulfat digunakan untuk mengobati infeksi usus atau untuk menekan flora di kolon. Colistin sulfat juga digunakan dalam bentuk krim kulit, bubuk dan tetes mata. Colistimethat digunakan untuk sedian parenteral dan dalam bentuk aerosol untuk pengobatan infeksi paru-paru.


    4. Tinidazol

      Tinidazol merupakan kelompok antibiotika azol. Mekanisme kerjanya dengan cara masuk ke dalam sel mikroba dan berikatan dengan DNA.Dengan cara ini mikroba tidak dapat berkembang biak. Tinidazol adalah antibiotika khusus yang digunakan untuk menghentikan penyebaran bakteri anaerob. Bakteri ini biasanya menginfeksi lambung, tulang, otak dan paru-paru.
      Sumber :
      http://www.tiscali.co.uk/lifestyle/healthfitness/health_advice/netdoctor/
      archive/100003949.html


    5. Teicoplanin

      Teicoplanin merupakan kelompok antibiotika dari glikopeptida. Bakteri memiliki dinding sel luar yang dipertahankan oleh molekul peptidoglikan. Dinding sel sangat vital untuk mempertahankan pada lingkungan normal di dalam tubuh di mana bakteri hidup.Teicoplanin bekerja dengan mengunci formasi dari peptidoglikan. Dengan cara tersebut dinding bakteri menjadi lemah sehingga bakteri mati. Teicoplanin digunakan untuk infeksi serius pada hati dan darah. Teicoplanin tidak dapat diserap di lambung sehingga hanya diberikan dengan cara infus atau injeksi.

    6. Vancomycin

      Vancomycin bekerja dengan membunuh atau menghentikan perkembangan bakteri.

      Vancomycin digunakan untuk mengobati infeksi pada beberapa bagian tubuh. Kadangkala digabung dengan antibiotika lain.Vancomycin juga digunakan untuk penderita dengan gangguan hati (mis demam rematik) atau prosthetic (artificial) hati yang alergi dengan penisilin.Dengan kondisi khusus, antibiotika ini juga dapat digunakan untuk mencegah endocarditis pada pasien yang telah melakukan operasi gigi atau operasi saluran nafas atas (hidung atau tenggorokan).

      Vancomycin diberikan dalam bentuk injeksi untuk infeksi serius kalau obat lain tidak berguna. Walaupun demikian, obat ini dapat menimbulkan beberapa efek samping yang serius, termasuk merusak pendengaran dan ginjal. Efek samping ini akan sering terjadi pada pasien yang berumur lanjut.
      Sumber : http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/druginfo/uspdi/202590.html

    7. Linezolid

      Linezolid digunakan untuk mengobati infeksi termasuk pneumonia,infeksi saluran kemih dan infeksi pada kulit dan darah. Linezolid termasuk golongan antibiotika oxazolidinon.Cara kerja dengan menghentikan perkembang biakan bakteri.

      Linezolid dapat berupa tablet atau suspensi oral. Biasanya diminum sesudah atau sebelum makan dua kali sehari (setiap 12 jam) untuk 10 sampai 28 hari. Jangan minum kurang atau lebih dari yang diresepkan dokter anda.

      Sebelum minum suspensi oral, bulak balik botol dengan baik tiga hingga lima kali. Jangan dikocok.

      Lanjutkan minum obat hingga habis walau anda merasa sudah sembuh.Jangan hentikan minum obat tanpa bicara ke dokter anda.
      Sumber : http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/druginfo/medmaster/a602004.html

    Untuk pemilihan antibiotika golongan lain yang tepat ada baiknya anda harus periksakan diri dan konsultasi ke dokter.

    Share:

    KOTRIMOKSAZOL (SULFONAMID DAN TRIMETOPRIM)

    Karena kerja dari dua antimikroba Trimetropim dan Sulfametoksazol dalam menghambat reaksi enzimatik obligat berurutan sehingga kombinasi antimikroba ini memberikan efek sinergi.

    Penemuanan kombinasi antimikroba ini merupakan kemajuan penting dalam usaha meningkatkan efektivitas klinik antimikroba. Kombinasi ini lebih dikenal dengan nama kotrimoksazol.

    1. Spektrum antibakteri

      Mikroba yang peka terhadap kombinasi antimikroba kotrimoksazol ialah: Str. Pneumoniae, C. diphteriae, dan N. meningitis, 50-59% strain S. aureus, S. epidermidis, Str. pyogenes, Str. viridans, Str. faecalis, E. coli, Pr. mirabilis, Pr. morganii, Pr. rettgeri, Enterobacter, Aerobacter spesies, Salmonella, Shigella, Serratia dan Alcaligenes spesies dan Klebsiella spesies. Juga beberapa strain stafilokokus yang resisten terhadap Metisilin, Trimetropim atau Sulfametoksazol sendiri, dan mikroba yang peka terhadap kombinasi antimikroba ini.

      Kedua antimikroba memperlihatkan interaksi sinergistik (bekerja saling menguatkan). Kombinasi antimikroba ini mungkin efektif walaupun mikroba telah resisten terhadap Sulfonamid (golongan dari Sulfametoksazol) dan agak resisten terhadap Trimetropim. Daya kerja yang sinergi akan maksimal bila mikroba peka terhadap kedua antimikroba tersebut.

    2. Mekanisme kerja antimikroba kombinasi

      Aktivitas kombinasi antimikroba Kotrimoksazol berdasarkan atas kerjanya pada dua tahap yang berurutan dalam reaksi enzimatik untuk membentuk Asam tetrahidrofolat. Sulfometoksazol menghambat masuknya molekul PABA ke dalam molekul Asam folat dan Trimetropim menghambat terjadinya reaksi reduksi dari Asam dihidrofolat menjadi Tetrahidrofolat.Trimetropim menghambat enzim Dihidrofolat reduktase mikroba secara sangat selektif. Hal ini penting, karena enzim tersebut juga terdapat pada sel manusia.Seperti tergambar pada diagram di bawah ini.

    3. Sediaan

      Antimikroba kombinasi Kotrimoksazol tersedia dalam bentuk tablet oral, mengandung 400 mg Sulfametoksazol dan 80 mg Trimetropim. Untuk anak tersedia juga bentuk suspensi oral yang mengandung 100 mg Sulfametoksazol dan 20 mg Trimetropim.

      Untuk pemberian intravena tersedia sediaan infus yang mengandung 400 mg Sulfametoksazol dan 80 mg Trimetropim per 5 ml.

    4. Penggunaan klinik

    1. Infeksi saluran kemih

      Infeksi ringan saluran kemih bagian bawah. Sediaan kombinasi antimikroba Kotrimoksazol efektif untuk infeksi kronik dan berulang saluran kemih.

    2. Infeksi saluran nafas

      Antimikroba kombinasi Kotrimoksazol efektif untuk pengobatan otitis media akut pada anak dan sinusitis maksilaris akut pada orang dewasa yang disebabkan strain H. influenzae dan Str. pneumoniae yang masih sensitif.

    3. Infeksi saluran cerna

      Sediaan antimikroba kombinasi Kotrimoksazol ini berguna untuk pengobatan Shigellosis karena beberapa strain mikroba penyebabnya telah resisten terhadap Smpisilin. Namun akhir-akhir ini dilaporkan terjadinya resistensi mikroba terhadap Sulfametoksazol. Obat ini juga efektif untuk demam Tifoid dan carrier S. typhi dan Salmonella spesies lain.

    4. Infeksi oleh Pneumocystis carini

      Dengan dosis tinggi efektif untuk infeksi yang berat oleh Pneumocystis carini pada penderita AIDS. Dengan dosis rendah pada penderita Neutropeni.

    5. Infeksi genitalia

      Digunakan untuk pengobatan Chancroid.

    6. Infeksi lainnya

      Infeksi oleh jamur Norkadia, untuk pengobatan Bruselosis. Juga untuk infeksi berat pada anak.
    Sumber : Buku Farmakologi dan Terapi, edisi 4, Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia 1995.

    www.tiscali.co.uk

    www.nlm.nih.gov

    en.wikipedia.org

    Untuk pemilihan kombinasi antimikroba Kotrimoksazol dan dosis/cara pakainya yang tepat ada baiknya anda harus periksakan diri dan konsultasi ke dokter.

    Share:

    recent posts

    Popular Posts

    Labels

    Recent Posts